PADANG - Sekitar 21 pelajar SLTP 30 Padang, berikut seorang gurunya, Selasa (7/9), terpaksa dilarikan ke RSUP M Djamil Padang, Sumatera Barat, guna memperoleh perawatan medis. Mereka harus dirawat sementara karena diduga keracunan setelah memakan nasi goreng di kantin sekolah.
Pada hari yang sama, sembilan siswa SDN Sawahan III Surabaya, Jawa Timur, kelas tiga dan lima diduga mengalami keracunan setelah minum susu dalam ke-masan dari Program Makanan Tambahan Sehat bagi anak-anak siswa SD Negeri, sehingga mereka dilarikan ke Puskesmas Jl Arjuna Surabaya.
Siswa sekolah yang berlokasi di Jl Widodaren tersebut mual dan beberapa di antaranya muntah-muntah. Diduga, mereka mengalami gejala-gejala tersebut setelah mengonsumsi susu dalam kemasan yang diproduksi CV UJMI.
Tentang keracunan di Padang, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Dr Hasrir Saoes, belum dapat memastikan apakah benar mereka keracunan makanan atau tidak. Hasrir ketika dihubungi Pembaruan, Rabu (8/9) di Padang menjelaskan, untuk memastikan apakah memang ke-21 pelajar dan guru yang dirawat tersebut memang keracunan, tentunya harus menunggu laporan dari hasil penelitian Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Padang.
Dijelaskan, menurut laporan yang diterimanya dari pihak sekolah, para pelajar ini seusai makan nasi goreng merasa mual dan muntah-muntah.
Karena pihak sekolah takut ada yang keracunan, akhirnya mereka dilarikan ke RSUP M Djamil.
Untuk sementara, kata Hasrir, tindakan yang dilakukan kepada pihak penyedia makanan (kantin) adalah menghentikan penggunaan bumbu masak sejenis untuk membuat nasi goreng, sembari menunggu hasil penelitian BPOM.
Sementara itu, Mulyono, Kepala Sekolah SLTP 31 Padang ketika dihubungi Selasa (7/9) mengatakan, begitu memperoleh informasi ada yang muntah-muntah seusai makan nasi goreng, dirinya langsung berinisiatif untuk membawa mereka ke RSUP M Djamil. Setelah memperoleh perawatan sekitar satu jam, akhirnya semua pelajar dan gurunya dapat dipulangkan kembali.
Dari diagnosis awal terhadap siswa yang mengalami gejala mirip keracunan di Surabaya, salah satu dokter yang memeriksa siswa bersangkutan, dr Melisa mengatakan, dia belum berani menyimpulkan apakah benar anak-anak tersebut mengalami keracunan, sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Naisonal Pemkot Surabaya, Drs Soeparno MM menjelaskan, program makanan tambahan sehat ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama dan selama ini tidak menimbulkan efek negatif, karena program ini merupakan program pemerintah pusat melalui Depdiknas.
Susu dalam kemasan ini masa kedaluwarsa masih sampai 5 Mei 2005 mendatang.
Kepala Proyek Pemberian Makanan Tambahan Sehat, Dinas Pendidikan Nasional Pemkot Surabaya, dr Slamet Santoso menjelaskan, dengan kasus itu, untuk sementara pemberian susu untuk anak-anak SD di Surabaya dihentikan sambil menunggu hasil pemeriksaan dari Dinas Kesehatan yang sudah mengambil barang bukti susu kemasan yang belum dikonsumsi siswa. (BO/029)