SUARA PEMBARUAN DAILY

Tejowulan Menerima "Pisowanan" Puluhan Pendukungnya

Hangabehi: Penghinaan bagi PB XII jika Saya Tidak Berani Ambil Amanah Meneruskan Dinasti

SOLO - Puluhan pendukung KGPAA Tejowulan, yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai Selasa (7/9) sore hingga tengah malam melakukan pisowanan di Keraton Kilen, istilah untuk Sasono Poernomo tempat dia dikukuhkan menjadi Raja Rakyat 31 Agustus lalu. Dengan tegas mereka menyatakan dukungan dan kesiapan untuk berkorban bagi raja baru tersebut.

Para pendukung yang berprofesi mulai dari dosen, budayawan, seniman, paranormal, anggota parpol sampai tokoh-tokoh masyarakat tersebut, tidak saja dari wilayah Solo dan sekitarnya, melainkan juga dari Pati, Kudus, bahkan dari beberapa kota di Jawa Timur.

Sementara itu, KGPAA Hangabehi yang akan dinobatkan menjadi Pakoe Boewono (PB) XIII, besok, melakukan kunjungan ke Pasar Kadipolo dan Pasar Legi, Solo, Rabu (8/9) pagi. Dalam kunjungan tersebut, Hangabehi tidak dikenali oleh para pedagang, dan hanya berjalan berkeliling pasar.

Ketika memasuki pasar, Hangabehi sempat disapa mau memborong apa Pak? Dan dijawab tidak, saya mau ke keraton. Para pedagang tidak menanggapi pernyataan tersebut, dan hanya disangka sebagai pejabat pemkot yang biasa melakukan peninjauan rutin terhadap ketersediaan garam yodium.

Hangabehi sempat dikabarkan stres dan kemudian sakit dan dirawat di rumah sakit. Namun, kabar itu ditampiknya. Dalam suratnya yang diterima Pembaruan, Rabu di Jakarta, KGPH Hangabehi menyatakan dirinya tidak sakit dan tidak dirawat di rumah sakit, sebagaimana dikemukakan oleh salah seorang kerabat Keraton Surakarta di Jakarta, Minggu (5/9) lalu, (Pembaruan, 6/9).

"Adalah sebuah kebo- hongan publik yang fatal kalau dikatakan saya tidak siap dan saya legowo untuk memberikan takhta Keraton Surakarta Hadiningrat kepada orang lain," katanya.

Di Luar Istana

Sementara itu, dalam pertemuan dengan para pendukungnya, Tejowulan tampak duduk lesehan bersama seluruh tamunya, sambil melakukan dialog dan mendengarkan ulasan dua sejarawan UNS Sudharmono dan Tunjung W Sutirto yang mengulas masalah suksesi di Keraton Surakarta.

Sudharmono menegaskan, terjadinya penobatan di luar istana dengan didukung oleh rakyatnya, merupakan satu bentuk konsep harmonis hubungan antara penguasa dan rakyat. "Atau dalam istilah budayanya Manunggaling Kawulo Gusti, yang secara de facto menempatkan Tejowulan dalam legitimasi kuat dari kawulonya," papar Sudharmono.

Hal senada juga disampaikan oleh Sutirto. Dalam sejarah Dinasti Mataram sudah terjadi empat kali penobatan raja di luar istana karena sedang terjadi perebutan takhta, yaitu Amangkurat II, Pakoe Boewono (PB) I, PB III, dan PB XIII ini.

"Dalam catatan sejarah, justru yang dinobatkan di luar keraton inilah yang akhirnya memenangkan perseteruan dan bertahta secara penuh," tandas dia.

Sementara itu, menanggapi semakin dekatnya waktu jumenengan Hangabehi, Tejowulan ketika ditemui wartawan menjelaskan mengenai pentingnya semua pihak untuk terus mendekatkan diri kepada Tuhan dan berjiwa besar.

Menurut dia, upaya musyawarah hingga saat ini masih terus dilakukan untuk mencapai satu kata mufakat dari Tejowulan dan Hangabehi. "Karena tidak bisa juga kalau dibiarkan berlarut-larut seperti ini, karena nanti yang kasihan itu rakyatnya, mana yang akan diikuti," katanya.

Sementara itu, Hangabehi menegaskan, alih kepemimpinan adalah sebuah proses historis yang wajar dan harus diterima dengan ketulusan dan kelapangan jiwa seluruh keluarga besar Keraton Surakarta.

"Adalah suatu penghinaan bagi PB XII jika saya tidak berani memegang amanah untuk meneruskan Dinasti PB XII, yang pada saat terakhir kehidupannya, di tengah-tengah isakan tangis dan deraian air mata keharuan beliau menyampaikan Sabdo Pangundiko Dalem untuk keluarga besar Keraton Surakarta Hadiningrat," katanya.

Hangabehi katanya, setiap hari bersama keluarga besar Keraton Surakarta sibuk mempersiapkan acara jumenengan nata. "Saya tidak sakit karena stres," katanya. (ADR/N-6)


Last modified: 8/9/04