JAKARTA - Dua kubu calon presiden (capres) akan mewaspadai kecurangan yang mungkin terjadi pada pemilu presiden (pilpres) putaran kedua. Untuk itulah jajaran birokrasi dan penyelenggara pemilu diminta betul-betul netral. Pada sisi lain, para saksi diminta bekerja secara sungguh-sungguh.
Demikian rangkuman pendapat anggota tim sukses pasangan capres dan cawapres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) - Jusuf Kalla, Subur Budhisantoso, dan anggota tim sukses pasangan Megawati - Hasyim Muzadi, Roy BB Janis, menjawab pertanyaan Pembaruan di Jakarta, Rabu (8/9) pagi.
Menurut Roy, kecurangan sesungguhnya dapat dicegah dan tidak terjadi dalam pilpres mendatang kalau aparat birokrasi dan penyelenggara pemilu bertindak netral. Kunci untuk mencegah kecurangan adalah dari pihak birokrasi dan penyelenggara pemilu. Jangan sampai nanti rakyat menjadi apatis terhadap pemilu karena melihat kecurangan yang dilakukan aparat, katanya.
Untuk mencegah terjadinya kecurangan, menurut Budhisantoso, pembinaan para saksi untuk pasangan SBY-Kalla menjadi perhatian serius dan sekarang sedang diintensifkan oleh tim sukses SBY-Kalla di seluruh wilayah Indonesia. Para saksi dibekali dengan kemampuan untuk mengantisipasi kecurangan.
"Saya sudah terjun langsung ke sejumlah daerah antara lain Jawa Barat, Medan, Aceh, Surabaya, dan sekarang saya di Solo. Selain menyerap aspirasi dan mendengarkan permintaan rakyat, kami juga memompa semangat para kader, khususnya mereka yang kita siapkan menjadi saksi agar teguh dan memiliki prinsip yang kuat," kata Budhisantoso.
Dikemukakan, untuk kampanye yang hanya tiga hari, tim sukses sudah memutuskan bahwa SBY dan Jusuf Kalla akan memberikan prioritas untuk datang ke daerah-daerah yang belum dikunjungi dan ''kantong-kantong'' suara yang besar. ''Namun, hingga kini daerah mana saja masih terus digodok karena sampai sekarang jadwal Pak SBY dan Jusuf Kalla terus berubah,'' kata Budhisantoso.
Kontraproduktif
Sementara itu Roy BB Janis menyayangkan terjadinya berbagai tindakan dan kegiatan yang dilakukan oleh mereka yang menyatakan mendukung Megawati, tetapi sesungguhnya justru kontraproduktif, seperti adanya kuis berhadiah. Rakyat bisa saja menilai ini secara tidak langsung melibatkan aparat birokrasi untuk mempopulerkan Megawati dan itu tindakan yang tidak tepat.
"Saya sangat menyayangkan kegiatan kuis dengan melibatkan jajaran BUMN. Mungkin buat yang menerima hadiah, itu bagus, tetapi berapa banyak yang menerima hadiah, paling hanya ribuan saja,'' katanya.
Berkaitan dengan mesin politik dari berbagai partai politik pendukung deklarasi Koalisi Kebangsaan, dikemukakan, waktu yang tersisa dan semakin sedikit ini harus digunakan secara efektif di lapangan.
Tidak cukup dengan berbagai macam deklarasi dan pernyataan sikap mendukung Koalisi Kebangsaan saja. Yang dibutuhkan sekarang adalah masing-masing elite politik kembali mengajak kader dan merebut hati rakyat.
Dikemukakan, berdasarkan hasil polling sebetulnya masih ada 25-30 persen suara rakyat yang masih ragu-ragu akan memilih siapa dari kedua kandidat. Suara inilah yang harus direbut oleh mesin politik partai politik yang tergabung dalam Koalisi Kebangsaan. (M-11)