SUARA PEMBARUAN DAILY

Wabah AIDS di Asia

Terbanyak Akibat Narkotika Suntik dan Pasangan Sejenis

JAKARTA - Wabah sindrom penurunan daya tahan tubuh (AIDS) di Asia terutama disebabkan pemakaian narkotika suntik (IDU) dan hubungan seks dengan sesama laki-laki (LSL). Namun sampai saat ini tidak ada data berapa banyak LSL di Indonesia. Hal ini antara lain disebabkan banyak pihak yang kurang memahami seksualitas.

Demikian diutarakan Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dr Suharto SpKO dalam pertemuan nasional "Seksualitas dan Kesehatan Seksual Laki-Laki 2004", Selasa (7/9), di Puncak, Jawa Barat.

Pertemuan yang berlangsung selama empat hari itu (7-10 September) membahas seksualitas laki-laki dari sisi sosial, budaya, agama, politik, legalitas, hak asasi manusia (HAM) dan HIV/AIDS serta pelayanannya. Menurut Suharto, LSL merupakan kelompok tersembunyi dan termarginalkan. Pemerintah pun (KPA) tidak mempunyai program khusus untuk penanggulangan HIV/AIDS di kalangan LSL.

Selain itu, ujarnya, tidak mudah membicarakan kelompok LSL dengan berbagai pihak, antara lain kalangan agama. Hal semacam ini tidak hanya terjadi di luar sektor pemerintah, tetapi juga di sektor pemerintah. Dia mencontohkan, tidak mudah membicarakan masalah homoseksual karena dianggap isu yang sensitif, sehingga perlu berhati-hati untuk membicarakan isu itu karena dikhawatirkan muncul kontradiksi. Padahal, kelompok LSL sangat berpotensi bila disertakan dalam penanggulangan HIV/ AIDS.

"Sekarang ini KPA sedang menyusun Tim Asistensi yang akan bekerja sama dengan Departemen Dalam Negeri untuk memberi advokasi kepada seluruh pemerintah daerah termasuk anggota DPRD. Dalam advokasi itu akan dibahas juga tentang LSL," katanya.

Lebih jauh dikatakan, untuk membahas LSL diperlukan peranan ilmuwan. Karena munculnya kelompok LSL di tengah masyarakat disebabkan yaitu faktor genetik, lingkungan (psikologi). Artinya, seorang laki-laki yang semula tidak menyukai laki-laki lain bisa muncul rasa suka karena faktor lingkungan (tanpa ada faktor genetik berupa kelainan susunan kromosom seks).

Perubahan perilaku seksual itu ada yang menetap. Bahkan, tambahnya, perubahan perilaku seksual itu justru lebih banyak dikarenakan faktor lingkungan dibanding faktor gen, misalnya, para narapidana di lembaga pemasyarakatan bisa berubah perilaku seksualnya (menjadi LSL) karena lingkungan setempat.

Secara terpisah pendiri Yayasan Gaya Nusantara Dede Oetomo yang juga ahli Sosiologi Linguistik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menuturkan, kelompok LSL merupakan jembatan penyebar virus (infeksi menular seksual/IMS) melalui perempuan. Namun belum ada data berapa banyak LSL.

Kelompok gay hanyalah merupakan puncak dari LSL. Di antara kelompok LSL ini termasuk waria, dan juga pria heteroseksual. Hanya saja ujarnya, bila waria dengan mudah bisa dibedakan dengan laki-laki karena berpenampilan seperti perempuan, tetapi gay tidak mudah dikenali.

Menurut Dede, kasus HIV positif di kalangan waria tahun 1997 sebesar 7 persen, kemudian meningkat menjadi 21 persen tahun 2001. Sementara HIV positif di kalangan gay 2,5 persen. Dia menambahkan, infeksi HIV di kalangan waria lebih sering terjadi dibanding di kalangan gay.

Sedangkan menurut Mamoto Gultom dari Yayasan Pelangi Kasih Nusantara (YPKN) yang bergerak dalam pendampingan orang dengan HIV/AIDS (odha) di kalangan LSL menyebutkan, orientasi seksual seseorang tidak bisa dicerminkan dari jenis kelamin. Dijelaskan, orientasi seksual seorang laki-laki menurut peneliti Kinsley di Amerika Serikat (AS) dibagi atas skor 0 sampai 6. Skor 0 (sangat heteroseksual) ada sebesar 10 persen, biseksual sebesar 80 persen dan skala 6 (sangat homoseksual) sebesar 10 persen.

Pada kelompok laki-laki yang berskala 6 maka bila dipaksa menikah maka akan gagal. Sedangkan pada kelompok biseksual bila dipaksa menikah, laki-laki yang bersangkutan bisa mempunyai istri dan juga berhubungan seks dengan pria lain. (N-4)


Last modified: 8/9/04