AKSI demo ribuan warga yang bergabung dalam Ikatan Keluarga Korban SUTET (IKKS) se-Jawa Barat masih berlangsung di depan Istana Merdeka di Jalan Medan Merdeka Utara, hingga Rabu (8/9) pagi ini. Akibat aksi itu, ruas jalan itu ditutup. IKKS Jawa Barat yang berdemonstrasi itu berasal dari enam kabupaten, Kabupaten Bogor, Sumedang, Majalengka, Cianjur, Cirebon, dan Bandung.
Ray Kristian, IKKS se-Jawa Barat yang berasal dari Presidium Mahasiswa, Rabu siang mengatakan, masyarakat korban SUTET (saluran udara tegangan ekstra tinggi) masih terus mengharapkan adanya keputusan politik dari Presiden Megawati untuk menyelesaikan kasus SUTET se-Jabar itu.
Ray menambahkan, aksi yang berlangsung sejak kemarin itu rencananya berakhir hari ini. Presidium Mahasiswa IKKS telah bertemu Menko Kesra dan pejabat yang terkait kemarin, dan membicarakan masalah itu. Dalam pertemuan itu disepakati membuat surat keputusan presiden penyelesaian kasus SUTET. Hari ini, menurut Ray, sepuluh anggota presidium ingin menemui Megawati di kediamannya, namun belum dipastikan tempat pertemuan itu, di Kebagusan atau di Mega Center.
Dalam orasinya, mahasiswa di depan ribuan pengunjuk rasa meminta agar pemerintah bertanggung jawab atas korban-korban yang berjatuhan. Ia mencontohkan Sofiah, salah seorang korban, yang suaminya meninggal, menjadi salah satu korban SUTET beberapa tahun lalu. Pada 1996 tanahnya dirampas paksa oleh aparat, dan tidak diberikan ganti rugi.
Dalam siaran persnya, IKKS se-Jawa Barat menilai kasus itu merupakan pelanggaran HAM berskala nasional dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang dialiri listrik. Secara keseluruhan diperkirakan jalur SUTET di Indonesia telah mengorbankan sekitar dua juta keluarga atau enam juta warga.
Hasil penelitian di berbagai negara, kata Ray, menyebutkan, radiasi elektromagnetik dari medan listrik yang dihasilkan SUTET dapat mengganggu kesehatan, yang mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit antara lain leukemia, mandul, pusing, susah tidur, dan cacat. Dari faktor lingkungan, wilayah yang dilewati SUTET menjadi gersang dan kering, karena ratusan bahkan ribuan pohon harus ditebang sehingga daya resap air berkurang.
Pingsan
IKKS se-Jawa Barat berunjuk rasa di depan Istana Merdeka, sejak Selasa (7/9) pagi. Pada malam hari, tiga peserta unjuk rasa, wanita setengah baya, dilaporkan pingsan, karena kelelahan mengikuti aksi. Dari keterangan yang diperoleh, menyebutkan ketiganya mengalami dehidrasi dan kelaparan.
Pengunjuk rasa terpaksa tidur dan beristirahat beralaskan koran dan kain-kain sarung di depan Istana itu hingga Rabu pagi ini.
Selain Sofiah, beberapa warga mengatakan sering mengalami pusing kepala.
Warga khawatir jika masalah kesehatan itu tidak diperhatikan, mereka akan mengalami penyakit yang lebih parah. Mereka sudah berkali-kali melaporkan nasib mereka kepada pihak yang berwenang, termasuk PT PLN, tetapi tidak pernah ditanggapi.
Warga korban SUTET mengawali aksinya dari Tugu Proklamasi, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa kemarin, kemudian melakukan long march menuju Istana Merdeka.
Aksi demonstrasi itu sempat mengganggu arus lalu lintas. Jalan Medan Merdeka Utara terpaksa ditutup dan arus lalu lintas dialihkan ke arah Lapangan Banteng.
Hingga pukul 10.00, berlangsung orasi dari mahasiswa yang menggunakan 11 pengeras suara. Ribuan pengunjuk rasa juga terlihat masih antusias, meskipun jumlahnya berkurang jika dibanding hari kemarin. Jalan Medan Merdeka Utara terlihat kotor, karena banyak peserta unjuk rasa yang membuang kertas-kertas maupun sisa-sisa makanan ke jalan. (KR/E-7)