TANGERANG - Sumpah serapah tanda marah dan kecewa serta teriakan histeris dilontarkan sekitar 900 pekerja pabrik jaket dan celana PT Hyun Garment yang berlokasi di Jalan Telesonic, Jatiuwung, Tangerang, kepada aparat kepolisian. Mereka akhirnya terlibat bentrok.
Mereka marah karena petugas telah mengambil pimpinan mereka Jung In Han dan Kang Tae Sik, keduanya warga negara Korea Selatan, yang sudah sehari semalam bersama pekerja untuk menyelesaikan masalah pesangon karyawan.
Jung In Han dan Kang Tae Sik sejak Senin (6/9) "disandera" oleh pekerja yang 90 persennya perempuan. Para pekerja menolak disebut menyandera tetapi hanya minta agar bos mereka itu menyelesaikan persoalan PHK yang belum ada penyelesaian karena selama di pabrik, bos mereka bebas ditemui siapapun.
Selasa (7/9) siang pihak kedutaan besar Korsel yang diwakili Beck Du Ok datang ke pabrik minta kedua warga negara mereka diperbolehkan pulang. Kedutaan berjanji kedua warga negaranya tidak akan meninggalkan Indonesia sebelum permasalahannya selesai.
Namun jaminan pihak kedutaan inipun tetap ditolak. Bahkan Beck Du Ok ikut-ikutan tidak diperbolehkan pulang. Sampai akhirnya polisi dengan kekuatan tiga pleton sekitar pukul 14.00 berhasil mengambil paksa Beck dan Jung In Han serta Kang Tae Sik untuk diamankan di Mapolres, dan selanjutnya dibawa ke kedutaan besar Korsel di Jakarta.
Sejumlah pekerja yang ditemui Pembaruan mengaku sangat kecewa dan marah dengan campur tangan aparat karena persoalan antara pekerja dan buruh adalah persoalan intern. "Kami pantas menuntut hak-hak kami karena mereka sudah sewenang-wenang," ujar Siti (36).
Pengusaha hanya menjanjikan membayar pesangon untuk masa kerja 1-3 tahun sebesar 1 bulan gaji tanpa embel-embel. Sedangkan masa kerja 4-6 tahun sebesar 2 bulan gaji tanpa embel-embel. Pesangon yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan inilah yang tidak disetujui pekerja.
Yati Madya Siwi, pengurus serikat buruh PT Hyun, mengatakan, mereka tidak pernah diberi tahu bakal ada PHK. Pengumuman mendadak dipasang tanggal 30 Agustus. Padahal dua hari sebelumnya perusahaan yang memproduksi berbagai jenis pakaian jadi merk H & M, Lindex, Umbro dan lainnya baru saja ekspor ke sejumlah negara di Amerika dan Eropa seperti Jerman, Perancis, Ceko, Austria, Spanyol. Bahkan kata Siwi, dia tahu pasti mereka masih mendapat order ribuan potong dari luar negeri. "Jadi kalau pimpinan mengatakan mereka bangkrut karena tidak ada order adalah bohong sama sekali," ujarnya. (132)