
AFP PHOTO/Sabah Arar
MENGUNGSI - Sebuah keluarga Syiah meninggalkan Kota Sadr saat terjadinya gencatan senjata, Selasa (7/9). Dalam pertempuran itu sedikitnya 40 orang tewas dan beberapa orang mangalami luka-luka.
BAGHDAD - Selama 18 bulan invasi militer ke Irak, jumlah personel pasukan Amerika Serikat (AS) yang tewas di negara seribu satu malam itu mencapai 1.003 orang. Jumlah itu bertambah setelah empat orang tewas dalam sejumlah insiden di beberapa tempat di Irak, Selasa (7/9) kemarin.
Lebih dari tiga per empat atau sekitar 756 di antaranya meninggal di medan perang dan 647 lainnya tewas sejak Presiden AS, George W Bush mengumumkan perang besar-besaran di Irak mulai 1 Mei 2003 berakhir.
Menurut data CNN, korban tewas di pihak pasukan koalisi dari 15 negara mencapai 1.129 orang. Seorang pasukan AS lainnya tewas Selasa kemarin, dalam pertempuran di Kota Sadr, Baghdad. Dari kelompok perlawanan, sekitar 34 orang tewas. Bentrokan yang terjadi dalam 24 jam itu juga melukai sedikitnya 170 orang, demikian pernyataan para petugas kesehatan setempat.
Wilayah itu merupakan benteng perlawanan ulama Syiah, Moqtada al-Sadr, yang baru-baru ini menyerukan pengikutnya agar melakukan gencatan senjata. Selain menyerang pasukan AS, kelompok pengikut Sadr juga menyerang gubernur kota Baghdad.
Seorang kapten pasukan AS mengatakan, seorang tentara mereka tewas terkena tembakan senjata ringan saat kaum militan menyerang pasukan yang sedang melakukan patroli rutin di Kota Sadr. "Kami terus ditembaki," ujar Kapten Brian O'Malley.
Sementara itu, polisi di wilayah Adel, Baghdad, mengatakan kelompok perlawanan meledakkan sebuah bom di jalan dan menembaki iring-iringan mobil Gubernur Ali al-Haidri's yang sedang melaju di bagian barat Baghdad. Sebuah kendaraan sipil yang melaju di depan kendaraan gubernur hancur terkena ledakan tersebut. Seorang pria dan wanita dilaporkan luka serius dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Wanita Italia
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Donald H Rumsfeld dilaporkan telah mengetahui jumlah korban pasukan AS di Irak. Dia mengatakan, itulah risiko perang melawan terorisme.
"Kami sangat menghormati keberanian dan pengorbanan setiap wanita dan pria yang meninggal dan tengah berjuang di Irak. Kami juga menyampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada sanak keluarga mereka," kata Rumsfeld kepada wartawan di Pentagon.
Militer AS selama ini tidak menyebutkan jumlah total pasukannya yang tewas di Irak. Sebaliknya, Departemen Kesehatan Irak aktif menghitung jumlah korban tewas sejak April lalu, ketika perang meletus di Fallujah dan Najaf. Kelompok konservatif di AS memperkirakan jumlah korban tewas di Irak sedikitnya mencapai 10.000 orang atau 10 kali lebih besar dari jumlah pasukan AS yang saat ini dilaporkan tewas.
Dalam pertempuran di Kota Sadr, tank-tank, kendaraan lapis baja dan kendaraan tempur jenis Bradley memenuhi jalan-jalan kota yang dihuni sekitar dua juta warga Syiah Irak itu. Sebelum AS menginvasi Irak, Kota Sadr biasa disebut "Kota Saddam" merujuk pada kematian ayah al-Sadr, yang dibunuh oleh beberapa agen pasukan Saddam Hussein pada tahun 1999.
Sementara itu, dua wanita Italia, seorang wanita Irak dan seorang pria Irak diculik dari kantor mereka di luar Kota Baghdad, Selasa kemarin. Simona Pari (29) dan Dimona Torretta (29), bekerja untuk lembaga swadaya masyarakat bernama "A Brige To..." Sedangkan kedua warga Irak itu diidentifikasi bernama Raad Ali Aziz dan Mahnaz Bassam. (AP/CNN/L-8)