
AFP PHOTO / TATYANA MAKEYEVA
PERINGATI BESLAN - Puluhan ribu warga berkumpul di Lapangan Merah, Moskwa, Selasa (7/9). Mereka berunjuk rasa untuk menentang aksi terorisme dan memperingati tragedi penyanderaan di Beslan. Lokasi unjuk rasa ini diperiksa dahulu oleh anjing pelacak untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
MOSKWA - Presiden Rusia, Vladimir Putin, Selasa (7/9), menolak pengusutan terbuka terhadap kasus drama penyanderaan di sebuah sekolah di Ossetia utara karena hanya akan menyulut kehebohan politik.
Hal itu dikatakan Putin dalam wawancara dengan harian Inggris The Guardian dan The Independen, Selasa. Pada saat itu juga, Putin menolak mengubah politik yang dijalankannya saat ini di Chechnya dan tidak akan melakukan pembicaraan dengan kelompok separatis dan para pembunuh anak-anak.
Sementara itu, pada hari yang sama, puluhan ribu orang menghadiri rapat umum di Moskwa menentang terorisme. Rapat umum itu berlangsung ditengah ribuan warga Rusia berkabung atas korban penyanderaan sebuah nomor satu sekolah di Beslan.
Warga Moskwa membawa spanduk, lambang-lambang keagamaan, dan bendera Rusia untuk memperlihatkan rasa solidaritas mereka melawan terorisme.
Namun, BBC melaporkan, diantara ribuan pengunjuk rasa itu, meletup rasa kemarahan rakyat terhadap cara-cara pemerintah Rusia menangani krisis penyanderaan, yang menewaskan sedikitnya 335 orang.
Ada yang menuntut para pejabat pemerintah yang bertanggung jawab langsung dengan kasus tersebut mengundurkan diri.
Sementara di Beslan, puluhan jenazah yang belum diidentifikasi akan dites DNA. Para pejabat mengatakan, sekitar 107 jenazah sudah busuk dan rusak akibat terbakar dan terkena ledakan, sehingga sulit dikenali lagi. Kerabat korban yang merasa kehilangan sanak saudara dibawa ke kamar mayat untuk memberikan sampel darah. Mereka juga harus memeriksa sendiri satu demi satu kantung-kantung mayat, sebab tidak ada daftar pasti korban.
Marah
Dampak politik tragedi penyanderaan di Ossetia utara, pekan lalu masih berlanjut. Presiden Rusia Vladimir Putin, menangguhkan kunjungan ke Jerman yang direncanakan Jumat dan Sabtu besok, untuk batas waktu yang tidak ditentukan.
Juru bicara Kremlin mengatakan, keputusan itu diambil melalui kesepakatan bersama.
Rusia menjalani hari kedua perkabungan bagi korban penyanderaan. Sementara rapat umum yang didukung pemerintah digelar di seluruh negara. Kantor berita Rusia, Interfax mengutip para pejabat, mengatakan, lebih dari 130.000 orang menghadiri rapat umum yang khusus digelar di luar tembok Kremlin di bawah spanduk berbunyi: "Rusia melawan Teror" dan "Musuh harus dihancurkan, kemenangan harus diraih."
Sedangkan ribuan massa lainnya berkumpul di pusat kota dan meluber hingga ke Sungai Moskwa Massa mengheningkan cipta mulai pukul 17.00 waktu setempat (20:00 WIB).
Lagu-lagu nasional yang menggugah emosi diperdengarkan kepada hadirin. Sementara politisi senior dan tokoh publik menyampaikan orasi-orasi berapi-api.
Walikota Moskwa, Yury Luzhkov menyerukan pengamanan baru yang lebih ketat di ibukota, yang selama ini telah mengalami serangkaian serangan teroris dalam beberapa tahun ini.
"Kita harus menghentikan terorisme. Kita juga tidak boleh apatis, sebab teroris tengah berada di samping kita, di apartemen atau di hotel terdekat," katanya. (AP/L-8)