SUARA PEMBARUAN DAILY

Pengusaha Singapura Investasikan Rp 300 Miliar di Kabupaten Kaur

BENGKULU - Pengusaha Singapura menginvestasikan Rp 300 miliar pada pengembangan tanaman katunjang, tanaman serat bahan baku tekstil, di Kabupaten Kaur, Bengkulu.

Bupati Kaur, Ir Syaukani Saleh kepada Pembaruan, Selasa (7/9), mengatakan, pengembangan tanaman serat tersebut akan dilaksanakan secara plasma dengan melibatkan masyarakat setempat.

Tahap pertama akan dikembangkan pada lahan seluas 15.000 hektare. Setiap keluarga akan mendapat kebun plasma masing-masing satu hektare. Untuk biaya penggarapan lahan, penanaman, dan perawatan, pihak investor mengalokasikan dana Rp 22 juta per hektare.

Dana pinjaman dengan bunga empat persen setahun itu dikembalikan petani secara bertahap dari hasil panen. Setiap kali panen penghasilan petani di potong sebanyak Rp 3 juta per keluarga. Tahap pertama tanaman tersebut dipanen dalam waktu enam bulan setelah ditanam dan selanjutnya tiga bulan sekali panen.

Pendapatan petani untuk panen perdana diperkirakan sekitar Rp 20 juta-Rp 25 juta per hektare dan hasil panen selanjutnya sebanyak Rp 15 juta. Dengan demikian, pada panen pertama petani akan mendapat penghasilan bersih sebanyak Rp 22 juta dalam enam bulan. Selanjutnya, penghasilan bersih petani setelah di potong kredit Rp 12 sekali panen per tiga bulan.

Bupati Syaukani mengatakan, pihaknya optimistis jika pengembangan tanaman katunjang di Kaur dapat direalisasikan seluas 15.000 hektare, maka kesejahteraan para petani di Kaur akan meningkat secara signifikan dari sebelumnya.

Uang masyarakat yang beredar di daerah ini mencapai akan triliunan rupiah setiap tiga bulan sekali. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi masyarakat Kaur dapat meningkat lima kali lipat dari sebelumnya.

Kini, enam peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah meneliti tanah yang akan dijadikan lahan untuk mengembangkan tanaman katunjang yang tersebar di empat kecamatan.

Empat kecamatan sebagai lokasi pengembangan tanaman katunjang itu adalah Kecamatan Maje, Kaur Utara, Kaur Selatan, dan Kaur Tengah. "Jika pengembangan tahap pertama ini berhasil dengan baik, maka tanaman tersebut akan dikembangkan di semua desa yang ada di Kaur mengingat lahan tidur di Kabupaten Kaur saat ini tercatat sekitar 50.000 hektare," kata Syaukani.

Hasil panen tanaman itu nantinya, kata Syaukani, langsung ditampung pihak perusahaan sehingga petani tidak perlu mencari pembeli atau pasar. "Investor akan membangun pabrik pengolahan serat di Kaur karena serat tersebut akan diekspor ke Jepang dan beberapa negara di Eropa untuk dijadikan bahan baku tekstil. Jadi petani tidak perlu memikirkan masalah pemasarannya, karena pengusaha yang membiayai pengembangan tanam tersebut yang akan membelinya dengan harga pasaran umum. Petani benar-benar diuntungkan dalam program ini," ujarnya. (143)


Last modified: 8/9/04