SUARA PEMBARUAN DAILY

Diplomasi

Selat Taiwan dan Perdamaian Dunia

Josef P Widyatmadja

BAGI Lee Tenghui, mantan Presiden Taiwan, tahun 2008 merupakan kesempatan emas bagi Taiwan untuk memisahkan diri dari daratan Tiongkok. Pertama, karena Tiongkok akan sibuk menyiapkan Olimpiade 2008 sehingga perang di Selat Taiwan akan mengganggu kelangsungan Olimpiade. Kedua, pada waktu itu Three George Dam, bendungan raksasa yang menjadi mega sumber listrik bagi Tiongkok, belum selesai.

Setelah tahun 2008, sulit bagi Taiwan untuk memisahkan diri dari daratan karena kemajuan Tiongkok dalam bidang ekonomi, militer dan teknologi tidak bisa disaingi lagi oleh Taiwan. Sejak dini Beijing sudah curiga dan memperingatkan Taiwan untuk tidak bermain api dengan sikap separatismenya. Beijing berkata bahwa mereka tidak akan mengorbankan integritas wilayahnya demi penyelenggaraan Olimpiade 2008. "Tiongkok akan membayar dengan harga berapa pun untuk menggagalkan upaya Taiwan memisahkan diri dari daratan", ujar Wen Jiabao Perdana Menteri Tiongkok.

Dalam sebuah dialog, seorang ilmuwan Amerika Serikat prihatin atas ketegangan Selat Taiwan dan berkata: "Kami tidak bisa membayangkan kalau orang Chinese akan saling membunuh sesamanya karena Tiongkok menggunakan kekerasan dalam menyatukan Taiwan. Suatu tragedi bagi kedua belah pihak. Apakah penyatuan begitu penting sehingga harus dilakukan dengan kekerasan?"

Profesor Pan Zenqiang menjawab: "Bagaimana dengan sejarah perang saudara di Amerika? Demi persatuan pihak utara bersedia melakukan perang saudara dengan pihak selatan yang memisahkan diri. Dan demi persatuan Amerika, pihak utara bisa menolerir sistem perbudakan di selatan untuk waktu tertentu ."

Selama bulan Agustus genderang perang dan diplomasi kedua belah pihak dilakukan. Tentara Pembebasan Tiongkok melakukan latihan militer yang melibatkan pasukan udara, laut dan udara di Provinsi Jiangshu dan pulau yang berdekatan dengan Taiwan. Sebaliknya di Taiwan, Presiden Chen Shubian melakukan inspeksi ke kapal selam Taiwan dan menjanjikan anggaran yang lebih besar untuk pembelian senjata.

Di samping itu, angkatan udara Taiwan melakukan latihan pendaratan dan take off di jalan raya Taiwan untuk mengantipasi bila karena serangan Tiongkok, lapangan terbang militer Taiwan hancur dan tak berfungsi. Meskipun perang kata dan gertak sambal kedua belah pihak berlangsung selama bulan Agustus, hubungan ekonomi kedua negara masih berlangsung seperti biasa.

Makin Tegas

Baru-baru ini rombongan senator Amerika melakukan kunjungan ke Tiongkok untuk menjajaki sikap Tiongkok terhadap Taiwan. Dalam setiap pertemuan dengan rombongan senator dari Amerika yang dipimpin oleh Ted Stevens, petinggi Tiongkok selalu mengingatkan agar Amerika hands out dari Taiwan serta berpegang pada tiga butir komunike Shanghai dan menolak kemerdekaan Taiwan. Para pejabat Tiongkok mengulang peringatan bahwa Tiongkok sangat serius dan tidak main-main bila Taiwan memaksakan kemerdekaannya secara sepihak.

Pada saat Lee Hsienlong berkunjung ke Taiwan dan melakukan pertemuan dengan pemimpin pemerintah dan partai di Taiwan, Tiongkok memprotes dan membatalkan kunjungan wakil direktur Bank of China ke Singapura. Hubungan antara Tiongkok dan Singapura mengalami titik terendah setelah kunjungan Lee Hsienlung ke Taiwan.

Pembicaraan Free Trade Agreement antara Singapura dan Tiongkok yang akan berlangsung bulan November 2004 dibatalkan. Pemerintah Tiongkok membatalkan pula kunjungan ahlinya ke Singapura. Secara tidak langsung sikap Tiongkok pada Singapura merupakan sinyal bagi negara lain untuk tidak bermain mata dengan Taiwan.

Peran Amerika Serikat sangat penting dalam menjamin stabilitas Selat Taiwan. Amerika Serikat baru-baru ini menambah kapal induknya di Pasifik menjadi dua untuk mengantipasi ketegangan di Selat Taiwan. Perundingan pembelian senjata Taiwan pada Amerika dipercepat. Dalam waktu dekat Taiwan akan menambah senjata canggih dari Amerika untuk mengimbangi kemajuan senjata Tiongkok. Chas W. Freeman Jr seorang ahli masalah Tiongkok dari Amerika dalam suatu seminar "Sino- American Relations and the Taiwan Issue'' di depan pertemuan U.S- China People Friendship Association di Washington tanggal 22 April 2004 berkata bahwa Amerika perlu berhati-hati dalam menyelesaikan soal Tiongkok dan Taiwan. Bagi Amerika yang penting adalah perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.

Amerika sangat berkepentingan karena saling ketergantungan ekonomi antara kedua negara. Amerika tidak bisa menerima Taiwan memerdekakan diri secara sepihak tanpa persetujuan Tiongkok.

Di samping itu, Amerika juga menolak Tiongkok menyatukan Taiwan tanpa kemauan dari rakyat Taiwan. Sikap yang ambigu dari Amerika menjadikan Tiongkok dan Taiwan saling menuntut dukungan Amerika atas posisi mereka masing-masing. Menurut Freeman Jr kini Tiongkok telah menjadi gravitasi pertumbuhan ekonomi dunia. Dan dalam satu generasi atau paling banyak satu setengah generasi, kekuatan ekonomi Tiongkok akan di atas Jepang.

Tantangan

Bagi Amerika pertumbuhan kemakmuran dan kekuatan Tiongkok menjadi suatu tantangan dan saingan Amerika memasuki abad ke-21. Di samping itu, kini Tiongkok telah menjadi pusat pengembangan ilmu dan teknologi di Asia selain Jepang. Menurut Freeman jumlah lulusan insinyur di Amerika 60.000 per tahun, di Jepang sebanyak 70.000 dan Tiongkok jumlahnya mencapai 325.000 per tahun. Dengan demikian Tiongkok akan menjadi penyumbang perkembangan teknologi dan kebudayaan dunia.

Banyak pihak merisaukan kebangkitan Tiongkok karena pertumbuhan ekonominya bisa menjadikan Tiongkok membangun kekuatan militernya. Akhir-akhir ini pemimpin Tiongkok lebih suka menggunakan istilah "the development of China" daripada "the rise of China " untuk menghindari salah paham dan kegelisahan dari pihak lain. Tiongkok menghindari memiliki kapal induk untuk menghindari prasangka tetangganya walaupun mereka mampu membelinya. Tiongkok menghindari menjadi rival Amerika dengan cara mengekang diri. Dalam menyatukan Macao dan Hong Kong Tiongkok tidak menggunakan kekerasan. Tiongkok tidak segera mengisi kevakuman yang ditinggalkan oleh Amerika.

Menurut Freeman, Tiongkok tidak bermaksud untuk menggoyangkan tatanan dan kesepakatan internasional seperti yang tercantum dalam piagam PBB. Tiongkok ingin menyejajarkan dirinya dengan negara besar lainnya dengan cara damai dan diterima dunia dengan keikutsertaan Tiongkok dalam menaati peraturan PBB, Olimpiade dan WTO.

Bagi banyak pihak munculnya Tiongkok sebagai kekuatan regional (regional power) dianggap sebagai peluang dan kesempatan untuk menjamin perdamaian kalau masalah Taiwan bisa diseleasaikan secara damai. Pemimpin Tiongkok selalu berkata bahwa Tiongkok ingin mengalami peaceful development dan menyelesaikan penyatuan Taiwan dengan cara damai.

Amerika sangat berperan dalam menjaga stabilitas dan perdamaian dunia dengan munculnya Tiongkok sebagai regional power. Masalahnya apakah Amerika akan menghalangi kemajuan Tiongkok seperti yang pernah dilakukan Amerika terhadap Jerman dan Jepang pada pra Perang Dunia Kedua? Indonesia perlu bijak dan mengambil peran positif dalam menjamin perdamaian di Asia dan dunia.


Last modified: 8/9/04