SUARA PEMBARUAN DAILY

India-Pakistan Merajut Perdamaian

A Kardiyat Wiharyanto

SEJAK munculnya pemerintah baru di India di bawah Partai Kongres, maka jalan damai antara India dan Pakistan makin terbuka. Pertemuan para Menlu Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Selatan di Islamabad tanggal 20-21 Juli lalu ternyata juga merupakan proses perujukan dua negara raksasa di Asia Selatan itu. Mengapa India dan Pakistan antusias merajut perdamaian?

Wilayah Asia Selatan, lebih sering disebut Anak Benua Asia, sebenarnya terdiri dari India, Pakistan, Sri Lanka, dan negara-negara di sekitar Gunung Himalaya seperti Nepal, Buthan, Sikhim, dan Bangladesh, yang semuanya bekas koloni Inggris. Bangladesh dan Pakistan (negara ke-8 dan ke-9 di dunia dari segi jumlah penduduk), merupakan pecahan India, sebagai negara terpadat kedua di dunia setelah RRC.

Seusai Perang Dunia II, pemimpin besar India, Mahatma Gandhi, bermaksud mendirikan negara India yang merdeka dan penduduknya terdiri dari penganut agama Hindu dan Islam. Tetapi usaha itu ditentang, baik oleh kelompok Islam maupun kelompok Hindu yang ekstrem.

Walaupun Mahatma Gandhi tak putus-putusnya menyerukan supaya orang Hindu dan Islam hidup rukun bersama karena mereka sebangsa, setanah air dan bersaudara, seruan itu tidak diperhatikan. Dan tahun 1946, terjadi pergolakan hebat antara kaum Hindu dan Islam di Calcuta, yang meluas ke Bombay, Bihar dan Bengal, sehingga 5.000 orang terbunuh.

Konflik antara penganut agama Hindu dan Islam yang mulai berkobar di tahun 1946 itu, akhirya berakibat fatal, yakni sejak 15 Agustus 1947, India terpecah menjadi dua yang mayoritas Islam jadi negara Pakistan (Barat dan Timur), mayoritas Hindu jadi negara India. Perpecahan itu membawa malapetaka bagi penduduk kedua negara.

Konflik Menghebat

Setelah negara Pakistan dan India berdiri sendiri-sendiri, ternyata konflik antar suku dan agama di Anak Benua Asia itu tidak reda, tetapi justru makin menghebat. Bulan-bulan pertama proklamasi langsung terjadi kerusuhan berupa pembunuhan, penculikan, perampasan dan pembakaran, sehingga tidak kurang dari 50.000 orang terbunuh dan sekitar 2 juta penduduk kehilangan tempat tinggal. Dan yang lebih mengerikan lagi, Gandhi sendiri pada tanggal 20 januari 1948 ditembak mati oleh orang Hindu yang fanatik.

Kalau kita tengok di tempat-tempat lain, sikap-sikap permusuhan di kalangan negara-negara yang terpecah-belah itu tetap berlanjut, atau negara-negara tersebut bersatu karena terpaksa. Korea Utara dan Selatan, serta Cina dan Taiwan adalah contoh-contoh bagi ketegori pertama. Sedangkan penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur, Vietnam Utara dan Selatan adalah contoh bagi ketegori yang kedua.

Mengenai Asia Selatan, tampaknya sangat berbeda dengan kelompok-kelompok yang diutarakan tadi. Kelompok-kelompok yang terpecah-pecah di kawasan itu telah diterima oleh unit-unit utama. Akan tetapi permusuhan dan kecurigaan belum teratasi sepenuhnya.

Masalah-masalah negara yang baru muncul, yang sedang mengembangkan identitas nasional mereka, memang tetap genting. Dan lagi berbeda dengan kasus-kasus lainnya, konflik terakhir yang paling keras di Asia Selatan berlangsung di tahun 1971. Di Korea, untungnya tidak terjadi konflik sejak gencatan senjata tahun 1953. Di Selat Taiwan, konflik keras terakhir adalah krisis Quemoy Matsu tahun 1958.

Meskipun Asia Selatan tediri dari banyak negara, namun konflik antarnegara didominasi oleh India dan Pakistan. Sejak merdeka, keduanya yang terbesar, tetapi sekaligus merupakan saingan pula. Permusuhan kedua negara berlangsung terus, di samping itu usaha-usaha untuk membentuk identitas nasional masing-masing belum berhasil. India sudah menetapkan bahasa Hindi sebagai bahasa nasional, tetapi penduduk masih menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi sehari-hari.

Sejak proklamasi sampai saat ini, hubungan India dan Pakistan bagaikan api dalam sekam, sebab pertempuran kedua negara sewaktu-waktu bisa meletus karena berbagai masalah seperti Kashmir, masalah suku, masalah agama, dan lain-lain. Perang tahun 1971 mengakibatkan Pakistan Timur melepaskan diri dari Pakistan Barat, lalu menjadi negara sendiri dengan nama Bangladesh, itu pun sebab utamanya juga masalah agama.

Terpecah

Pakistan yang lahir 15 Agustus 1947, sebagai akibat dari pembedahan jazirah India menjadi dua negara, yang satu India dan yang lain Pakistan. Karena di jazirah India tidak dihasilkan konsesnsus persatuan dan kesatuan, maka bekas jajahan Inggris itu terpecah belah. Pakistan pun kemudian dipecah menjadi dua negara pula.

Pakistan lahir di bawah pimpinan Mohammad Ali Jinnah. Mula-mula Ali Jinnah sendiri adalah anggota Partai Kongres yang memperjuangkan India merdeka dan bersatu, sebagai sebuah negara nasional. Tetapi pada tahun 1940 Ali Jinnah mulai memperjuangkan lahirnya suatu negara sendiri, lepas dari bagian-bagian lain di jazirah India. Gagasan Ali Jinnah itulah yang akhirnya melahirkan negara Pakistan 1947.

Mula-mula Pakistan menerapkan sistem demokrasi parlementer menurut pola Inggris. Namun dalam perkembangannya, lahirlah serentetan pemerintahan militer di bawah beberapa jenderal yang semuanya bernama Khan. Terakhir adalah Jenderal Zia Ul Haq yang gugur, karena kecelakaan pesawat terbang.

Pada masa pemerintahan militer, terbukti mereka kurang peka terhadap aspirasi-aspirasi dan kekuatan-kekuatan dalam masyarakat, khususnya aspirasi dan kekuatan di kalangan rakyat di Pakistan Timur, yang merasa dirinya dianaktirikan pemerintah yang berpusat di Pakistan Barat. Di bawah Yahya Khan timbullah pemberontakan di Pakistan Timur yang akhirnya melahirkan negara Bangladesh.

Setelah pemisahan itu, di Pakistan Barat yang sekarang disebut Pakistan, muncul pemerintahan sipil di bawah Zulfikar Ali Butto. Akhirnya Ali Butto disingkirkan melalui kudeta oleh Jenderal Zia Ul Haq. Kudeta Jenderal Zia Ul Haq pada 5 Juli 1977 yang waktu itu dia menjabat Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan yang condong ke Barat. Sedangkan pemerintah Zulfikar Ali Bhutto kurang populer di mata Barat, sebab condong ke Uni Soviet (kini Rusia). Karena wajah pemerintahan Zulfikar Ali Bhutto wajah kerakyatan, secara fisik tampak seolah-olah bersifat ke kiri-kirian, yang ditunjukkan dengan kebijaksanaan Ali Butto melaksanakan program land-form untuk petani secara besar-besaran.

Pada saat itu Zulfikar Ali Bhutto sendiri yang secara turun-temurun memang keluarga tuan tanah, telah menyerahkan sejumlah besar tanah miliknya kepada negara untuk dibagi-bagikan kepada petani sesuai dengan UU Landreform yang dibuatnya. Dengan itu Ali Bhutto menjadi pimpinan nasional yang sangat dicintai oleh rakyat kecil, bahkan sampai dikultuskan.

Itulah sebabnya, apabila Barat memberikan dukungan kepada Zia Ul Haq, adalah hal yang wajar.

Sebab Pakistan adalah negara yang memiliki Kaiber Pass, lorong sempit pegunungan yang pada saat itu dapat digunakan oleh Uni Soviet untuk menerobos ke lautan Hindia.

Incaran Adikuasa

Dalam situasi seperti itu, Pakistan menjadi incaran dua negara adikuasa: AS dan Uni Soviet. Setelah Afghanistan berhasil diduduki Uni Soviet, maka AS berusaha keras untuk memegang Pakistan sebagai sahabat dekatnya. Dengan kata lain, AS lebih menjagoi Zia Ul Haq daripada Zulfikar Ali Bhutto. Zia Ul Haq dengan mudah merebut kekuasaan dan kemudian memerintah Pakistan selama 11 tahun dan diakhiri dengan kecelakaan pesawat terbang.

Jenderal Zia Ul Haq tewas pada usia 64 tahun dan merupakan simbol transisi antara warisan tentara gaya Inggris yang apolitis dan tunduk kepada pimpinan sipil dan kasta militer baru eks-koloni Inggris yang mencampur-baurkan kemiliteran, politik, strategi, agama dan sukuisme. Dengan alasan pemerintahan sipil yang lemah, maka tahun 1999 kelompok militer di bawah Jenderal Musharraf melakukan kudeta.

Dalam perkembangannya, penguasa militer di Pakistan terbukti lebih luwes dalam melakukan pendekatan dengan India. Motivasi Pakistan untuk mengembalikan hubungan baik dengan India tidak lepas dari upaya Musharraf memperkuat kedudukannya. Kiranya upaya tersebut tidak sia-sia sebab sedikit demi sedikit ia berhasil menyibakkan lawan-lawan politiknya.

Sewaktu kondisi dalam negeri Pakistan makin kondusif, India mengalami pergantian pimpinan. Kebetulan kedua pihak sama-sama ingin menyelesaikan persengketaan mereka, khususnya masalah Kashmir. Karena itu, kedua pihak terus memanfaatkan momen-momen penting untuk merajut perdamaian bersama. Pertemuan Menlu Pakistan dan India di Islamabad baru-baru ini makin menggarisbawahi pentingnya hubungan damai antara kedua belah pihak. Sebab bagaimana pun juga, perkembangan suatu negara dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang sejuk. Semoga dunia internasional ikut meresponnya.

Penulis adalah dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta


Last modified: 8/9/04