SUARA PEMBARUAN DAILY

Art Summit Indonesia IV

Seni Visual Mendominasi

Istimewa

TEATER GARASI - Teater Garasi yang dipimpin sutradara Yudi Ahmad akan tampil sebagai salah satu peserta Art Summit Indonesia IV. Mereka akan tampil di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki pada 27-28 September 2004.

Festival Internasional Seni dan Budaya Kontemporer Art Summit Indonesia IV akan kembali digelar di Jakarta pada 11 September - 10 Oktober 2004. Panitia memasukkan seni visual yang tidak diperhitungkan dalam festival sebelumnya. Selain jumlah negara peserta bertambah, seni visual kini mendominasi.

Kepada wartawan di Galeri Nasional Indonesia di Jakarta Selasa (7/9), Ketua Panitia Art Summit Indonesia IV Putu Wijaya mengatakan festival budaya Art Summit akan meliputi pertunjukan seni musik, tari dan teater. Penyelenggaraan tahun ini akan mengambil tema "Merayakan Kreativitas untuk Toleransi dan Perdamaian".

Tiga tahun lalu, kegiatan ini hanya diikuti oleh 17 grup dari 10 negara sekarang sudah bertambah menjadi 15 grup seni pertunjukan dari 11 negara antara lain, El Hanager yang menampilkan seni teater dari Mesir, DA-M Theater dari Jepang, Compagnie Magali dan Didier Mulleras penampil tari dari Prancis, Tuhonohono musisi dari Selandia Baru, Commi Kitti & Co dari Finlandia, The Tam Dance Company dari Korea, Dieter Mack + Ensemble Surplus dari Jerman, Robert Hylton dari Inggris, Kim Itoh dan The Glorious Future penampil tari dari Jepang dan Black Sky White Theater dari Rusia. Selain itu, festival ini juga menampilkan 25 perupa dari enam negara, yaitu Indonesia, Prancis, Australia, Thailand, Pakistan dan Jepang,

"Peserta bertambah karena Art Summit Indonesia sudah dianggap sebagai ajang yang cukup menarik. Mulai tahun ini, panitia juga merambah jenis seni rupa yang pada Art Summit III tidak diikutsertakan dalam festival," tutur Putu. Dia juga menambahkan, bidang yang termasuk dalam tataran seni rupa antara lain, karya-karya instalasi, karya interaktif, video projecting, video instalasi, fotografi, lukisan serta patung.

Peserta yang akan unjuk kebolehan dalam festival ini sudah dikurasi oleh Dewan Artistik Art Summit Indonesia 2004. Putu Wijaya duduk sebagai ketua dewan dan Sal Murgiyanto sebagai wakil ketua. Anggota dewan artistik antara lain, Asmudjo Jono Irianto, Boi G. Sakti, Edi Sedyawati, Mamannoor, N Riantiarno, Rizki A. Zaelani, Saini KM, Slamet Abdul Sjukur, Suka Hardjana dan Toni Prabowo.

Cara kurasi dalam Art Summit berbeda dengan cara kurasi dalam festival seni lain yang ada di dunia.

"Kami menggunakan kerangka kuratorial dengan mempertimbangkan aspek tatris (theathrical aspect), dan tatrikalitas (theatricality). Kerangka kuratorial seperti ini jarang ditetapkan sebagai pendekatan strategi penyelenggaraan pameran yang khas, namun kami memilih cara ini karena kami harus menghubungkan praktik seni pertunjukan (performing arts), seni teater, seni tari, seni musik dengan praktik seni rupa," ujar Putu.

Para kurator juga dibekali standar utama yaitu mencari aspek terkini dan terbaik dari sebuah karya seni yang ditampilkan oleh para seniman tersebut. Dari Indonesia yang berhasil lolos sistem kurasi ini antara lain, muskus asal Bali, I Wayan Sadra, Hartati dari seni tari, Dindon WS dari Teater Kubur, Elly Lutan yang akan menampilkan tarian dan Yadi Ahmad dari Teater Garasi. Sementara itu dari bidang seni rupa terdapat nama Agus Suwage, Anusapati, Arahmaiani, Dikdik S, Hendrawan R, Heri Dono, Krisna Murti, Mella J, Nindityo A, Oscar Motulloh, Nyoman Erawan, Tisna Sanjaya, Made Wianta, S Teddy D, Yusra M, IGK Murniasih dan Dolorosa Sinaga.

Penonton bisa menikmati berbagai sajian seni yang berkualitas internasional. Tempat pelaksanaan Art Summit Indonesia terbagi di Gedung Graha Bhakti Budaya (GBB) Taman Ismail Marzuki dan di Gedung Kesenian Jakarta. Rata-rata tiket pertunjukan dijual dengan harga Rp. 20.000-Rp.30.000.

"Kami mendapatkan subsidi dari negara-negara peserta yang bersedia membiayai sendiri perwakilannya untuk datang ke Indonesia. Selain itu, negara peserta juga tidak meminta keuntungan dari penjualan tiket sehingga kami bisa mematok harga yang cukup terjangkau," ujar Putu.

Para seniman yang diundang sebagai peserta akan menampilkan karya terbaru dalam rentang waktu tiga tahun terakhir. Baik ciptaan baru maupun yang sudah pernah dipentaskan sebelumnya. Durasi pertunjukan dibatasi minimal 45 menit dan maksimal 120 menit. Karya seni peserta tidak boleh menyerang nilai-nilai budaya negara lain. Di samping itu, untuk seni rupa, karya seni yang ditampilkan adalah ungkapan dari aspek teatrikal dalam bentuk seni ekspresi visual.

Menurut Putu, kegiatan ini sangat menarik karena ada beberapa peserta dari Jepang dan Eropa yang sangat diminati oleh publik di negara masing-masing. Harga tiket setiap pertunjukan mereka sangat mahal. Jadi, seandainya orang menonton di negara asal, harga tiketnya bisa mencapai Rp.10 juta per orang.

Tahun ini, Art Summit Indonesia IV juga diramaikan dengan kegiatan seminar. Seminar yang menyertai pertunjukan dan pameran visual akan mengangkat tema "Formasi dan Transformasi : Soal Jawab Globalism". Para pembicara yang akan tampil antara lain, Putu Wijaya, Fumihiko Sumitomo, Chua Soo Pong, Cahitanya Sambrani, Jack Body, Dieter Mack dan Julianti L Parani. (150)


Last modified: 8/9/04