JAKARTA - Widya Purnama yang masih menjabat Direktur Utama PT Indosat Tbk dilantik menjadi Direktur Utama PT Pertamina oleh Deputi Menneg BUMN bidang Pertambangan dan Industri Strategis, Roes Aryawijaya, Rabu (11/8), di Jakarta.
Selain Widya, juga dilantik Mustiko Saleh sebagai Wakil Dirut Pertamina, Direktur Hulu Hari Kustoro, Direktur Pengolahan Suroso Atmomartoyo, Direktur Pemasaran dan Niaga Ari Sumarno, dan Direktur Umum dan SDM Suprianto. Sementara, Direktur Keuangan tetap dijabat oleh Alfred Rohimone.
Dalam susunan direksi terbaru, itu terdapat jabatan baru yakni wakil dirut, sementara jabatan yang hilang yakni Direktur Hilir kini dipecah menjadi Direktur Pemasaran dan Niaga, dan Direktor Pengolahan.
Dalam acara pelantikan itu tidak tampak Menneg BUMN Laksamana Sukardi, dan belum diketahui mengapa dia tidak hadir, sehingga pelantikan hanya dilakukan Roes Aryawijaya.
Pelantikan ini terkesan sembunyi-sembunyi. Bahkan para wartawan baru mendapat kabar akan ada pelantikan pukul 09.00 WIB hari ini.
Sementara itu, beberapa wartawan sudah menunggu di Kantor Menneg BUMN sejak pukul 08.00 WIB. Kabar akan adanya pergantian Direksi Pertamina diketahui sejak Selasa pagi, namun, beberapa calon direksi semuanya tidak bisa dihubungi via ponsel. Begitu juga ponsel Widya Purnama.
Bahkan Widya mengaku mengetahui acara pelantikan itu baru semalam. "Saya menerima SMS dari bapak (Laksamana Sukardi-Red) tadi malam. Karena itu saya datang pagi ini, tidak ada undangan, hanya SMS saja," ujar Widya.
Namun berdasarkan informasi yang diperoleh Pembaruan di Kementerian BUMN, surat susunan direksi baru itu sudah ditandatangani Laksamana sejak kemarin.
Usai pelantikan kepada wartawan Widya menjelaskan, posisi dia masih menjabat sebagai Dirut Indosat. "Hari ini saya akan ke Bapepam untuk melaporkan pelantikan ini. Dan besok saya akan membuat surat pengunduran diri sebagai Dirut Indosat. Langkah awal saya di Pertamina belum bisa dijelaskan. Tetapi yang jelas saya akan memajukan Pertamina," ujar Widya. Rencananya juga akan diadakan rapat umum pemegang saham luar biasa berkaitan mundurnya Widya dari Dirut Indosat.
Widya Emosi
Di tengah perbincangan dengan wartawan, Widya sempat emosi. Kalimat-kalimat yang diungkapkannya bernada keras setelah seorang wartawan mempertanyakan adanya kabar bahwa kehadiran Widya di Pertamina kemungkinan besar akan memuluskan masuknya perusahaan Singapura Temasek ke tubuh Pertamina.
"Saya sangat tidak suka pertanyaan ini. Kalau ada yang menduga-duga dan menyatakan hal itu, dan menuduh saya seperti itu akan saya sikat habis," tandasnya.
Dia melanjutkan, tuduhan itu tidak benar dan sangat menyesatkan. "Tulis besar-besar. Saya akan memajukan Pertamina. Pertamina akan menjadi kejayaan bangsa Indonesia," tukas Widya.
Widya langsung menghentikan wawancara dengan belasan wartawan di teras utama Kantor Menneg BUMN. Dia sama sekali enggan dan emosi ketika pertanyaan soal Temasek itu kembali dilontarkan wartawan.
Sumber-sumber di Kementrian BUMN dan Pertamina, yang dihubungi sepanjang Selasa (10/8) dan Rabu (11/8) pagi, tidak bisa menyebut alasan penggantian tersebut. Namun diperkirakan, hal tersebut terkait oleh masalah yang sangat kompleks. "Banyak ketidakberesan yang dilakukan oleh direksi. Penyebabnya bermacam-macam, ada yang karena memang kelihatan tidak mampu, tetapi ada yang karena tidak jujur. Karena itu perlu pergantian yang hampir menyeluruh,'' kata sumber tersebut.
Satu-satunya direksi lama yang dipertahankan adalah posisi Direktur Keuangan, yang dijabat oleh Alfred Rohimone. Selain posisi direktur utama, semua pejabat pengganti, diambil dari orang dalam Pertamina.
Menteri BUMN juga merombak struktur organisasi. Dalam susunan baru tersebut, Pertamina memiliki wakil dirut, yang dijabat oleh Mustiko Saleh. Jabatan ini belum pernah ada selama Pertamina berdiri.
Sedang Direktur Hilir yang tadinya dipegang oleh Harry Purnomo dipecah menjadi dua direktorat, yakni Direktorat Pengolahan dan Direktorat Distribusi dan Niaga. Yang juga menarik, Direktur Distribusi dan Niaga Ari Sumarno merupakan adik kandung Menperindag Rini Soewandi. Sebelumnya dia menjabat Dirut Petral, anak perusahaan Pertamina yang bergerak di bidang trading, berkedudukan di Singapura.
Direktur Pengembangan dan SDM yang dulunya dipegang oleh Eteng Salam, berubah nama menjadi Direktur Umum, dan dijabat oleh Suprianto. Sedang Direktur Hulu yang sebelumnya dijabat oleh Bambang Nugroho, berpindah ke Hari Kustoro.
Menyulitkan Pengusutan
Secara terpisah sumber di DPR mengatakan, jabatan Dirut Pertamina seharusnya tetap dipegang Arifi Nawawi, mengingat ada banyak masalah yang masih harus dipertanggungjawabkan oleh direksi. Bila terjadi pergantian kepemimpinan di dalam BUMN itu, dikhawatirkan akan menyulitkan upaya pengusutan kasus-kasus besar yang kini mulai bermunculan.
"Seperti yang sudah-sudah, kalau orang itu sudah tidak menjabat, selalu sulit untuk membawanya ke pengadilan untuk mempertanggung-jawabkan kebijakan yang sudah dibuatnya ketika masih menjabat,'' kata sumber itu.
Dia menambahkan, seperti kasus penjualan tanker jenis very large crude carrier (VLCC) yang masih dalam pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Komisi Pemantau Persaingan Usaha (KPPU), sangat membutuhkan keterangan Arifi sebagai pejabat Pertamina yang bertanggung-jawab menjelaskan semuanya secara terbuka. Namun, menurut sumber itu, asalkan ada semacam jaminan bahwa Dewan Komisaris Pertamina, akan tetap membantu upaya pengusutan kasus-kasus yang masih dalam proses pemeriksaan itu, tentunya tidak menjadi masalah.
Widya Purnama lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan pada 26 Juli 1954. Jabatan sebelumnya sebagai Direktur Utama PT Indosat. Lulusan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya itu meniti karir di Indosat dari bawah, sebagai karyawan biasa.
Kemudian pria yang mengambil gelar magister manajemen di Institut Teknologi Bandung itu dipercaya menjadi manajer Indosat Medan, kemudian menjadi Direktur Utama PT EDI Indonesia. (Y-4/H-13/K-10)