Pasca-Masuknya Bank Singapura
Oleh Paul Sutaryono
EBUAH bank dari Singapura, United Overseas Bank Ltd (UOB) telah membeli 23 persen saham Bank Buana Indonesia Tbk (BBI) dari PT Sari Desa Karsa yang memiliki 55,45 persen saham BBI. Sebelumnya, Overseas -Chinese Banking Corporation (OCBC), Singapura, juga mengincar 22,5 persen saham Bank NISP dengan nilai transaksi sebesar US$ 70,4 juta.
Pada akhir November 2003, Sorak Financial yang terdiri dari Temasek Holding, Singapura Kook Min Bank, Korea Selatan, Barclays bank, Inggris, dan ICB Financial, Malaysia Menang, memperebutkan 51 persen saham Bank International Indonesia Tbk (BII) senilai Rp1,998 triliun. Temasek Holding juga sukses menggaet 51 persen Bank Danamon. Itulah deretan litani divestasi dan akuisisi grup usaha atau bank Singapura atas bank nasional.
Pertanyaannya, bagaimana peta perbankan na- sional pasca-masuknya bank-bank Singapura? Sejatinya Singapura hanya memiliki sedikit bank lokal yang dapat dihitung dengan kedua jari tangan. Bandingkan dengan Indonesia yang per Januari 2004 mempunyai 136 bank umum di luar Bank Perkreditan Rakyat (setelah dilikuidasinya Bank Dagang Bali dan Bank Asiatic, 8 April 2004).
Temasek Holding merupakan peruhaaan milik penerintah Singapura yang menguasai 12,64 persen saham Development Bank of Singapura (DBS). DBS sendiri memiliki 16,38 persen saham United Overseas Bank (UOB). Sementara itu UOB mengakuisisi Overseas Unoin Bank (OUB) pada 2001 meninggalkan pesaing beratnya DBS.
Kedua bank ini masing-masing menduduki peringkat petama dan kedua di negaranya (country rank), dan ke-129 dan 151 di dunia versi Bankers Almanac pada 2003. Disusul Overseas Chinese Banking Corporation (OCBC). Bagaimana posisi bank nasional di peringkat dunia? Bank nasional masih berada di kisaran antara 259 dan 956, yaitu Bank Mandiri (259), Bank BNI (454), BCA (475), Bank BRI (571), Bank Danamon (836), BII (956), dalam versi yang sama.
Alasan
Lalu mengapa mereka masuk ke Indonesia?
Pertama, pasar segmen perbankan konsumer di Singapura memang sudah jenuh. Tiga bank besar DBS, UOB, dan OCBC merupakan raja segmen tersebut, bukan hanya di negaranya tetapi juga di Asia Pasifik, Eropa Barat dan Amerika Utara. Oleh karena itu, logis melangkah ke mancanegara untuk melebarkan sayap bisnis yang makin gurih ini.
Bahkan DBS telah bertekad bulat menjadi bank regional dengan kelas dunia (a world-class regional bank). Impian itu tidak pernah pupus. Oleh karena itu, Hong Kong dan ASEAN diambil sebagai landasan pacu untuk menguasai pasar Asia. Langkah panjang ini bertujuan untuk menegaskan kehadirannya di pasar, memaksimalkan kesempatan dalam berbagai aspek bisnis sebagai keunggulan di pasar domestik, serta membangun nilai yang berkesinambungan bagi shareholders.
Pada 1998, DBS telah merger dengan POS Bank Singapura sebagai langkah awal yang jitu untuk mendominasi jaringan ritel lokal. Pada tahun yang sama, DBS membeli Thai Danu Bank, sementara UOB membeli Radanasin Bank. Setahun kemudian, DBS menagkuisisi Kwong On Bank (KOB), Hong Kong.
Langkah cantik ini bertujuan untuk meperluas pencapaian sasaran strategis yang sama dalam sektor koporasi dan individual banking di Hong Kong. Kemudian Filipina menadapat giliran saat DBS mengakuisisi Bank of the Philippine Island (BPI). Langkah berikutnya ke Hong Kong tatkala DBS menagkuisisi Dao Heng Bank pada 2001. Di Indonesia, DBS telah tegak dengan PT Bank DBS Indonesia.
Kedua, liberalisasi perbankan Singapura. Pada 1999 lembaga otoritas moneter setempat, Monetory Authority of Singapura (MAS), membuka keran liberalisasi perbankan sehingga tidak ada lagi pembatasan pembukaan kantor cabang bank asing. Bank asing yang merupakan pemain internasional (international player) diberi kesempatan luas untuk bersaing bebas dengan pemain lokal (local player).
Inilah satu alasan kuat menjamurnya aksi merger dan akuisisi di negara yang memiliki penduduk empat juta jiwa. Tat Lee Bank merger dengan Keppel Bank, menjadi Keppel TatLee pada akhir 1998, yang kemudian diakuisisi OCBC pada 2002. Setahun sebelumnya, UOB mengakuisisi UOB sudah barang tentu aksi merger dan akuisisi tersebut merupakan langkah strategis untuk memperbesar modal dan memperluas jaringan bisnis. Ini semua dimaksudkan agar mampu bersaing, atau bahkan memenangi persaingan bebas dengan pemain internasional.
Ketiga, gairah segmen perbankan konsumer. Segmen ini sedang mengalami gairah tinggi di kawasan Asia: Jepang, korea Selatan, India, Cina, Taiwan, Hong Kong, Singapura, Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Pada 2001, pendapatan bank dari segmen ini mencapai US$ 212 miliar. Ini diproyeksikan akan tumbuh sebesar US$ 180 miliar untuk menjadi US$ 390 miliar pada tahun 2010.
Pertumbuhan pasar Asia yang signifikan tersebut setingkat dengan pertumbuhan pasar di AS pada 1994-2001. Di AS selama kurun waktu tersebut, sektor yang sedang booming ini mencatat perkembangan yang terus menanjak berturut - turut sebesar (dalam USDmiliar) 320, 341, 362, 385, 41, 435, 463, 492 (Tab Bowers, Greg Gibb & Jeffrey Wong, dalam Banking in Asia,2003).
Perbankan Nasioanal
Peta perbankan nasional pasca-masuknya grup usaha dan bank Singapura akan dipenuhi dengan persaingan yang semakin tajam, berliku, panas dan tidak kenal emosi terutama di segmen perbankan konsumer.
Pertama, BII dan BDI kemungkinan besar akan segera merger. Bank hasil merger ini akan menjadi bank pesaing bank nasional manapun. Jangan lupa bahwa merger merupakan titik tolak pengembangan pasar lebih luas. Bank hasil merger ini nantinya akan menjadi jaringan bisnis raksasa yang menggurita di seluruh Indinesia. DII-BDI akan memiliki 721 kantor cabang diseluruh tanah air dan empat kantor cabang di luar negeri.
Belum lagi ditambah dengan 1.44 mesin ATM. Kantor cabang pada hakikinya merupakan saluran distribusi operasional alias pendapatan dari komisi (fee based income). Ini semua dimaksud untuk memenuhi, memuaskan dan menjaga kesetiaan sekitar dua juta nasabah. Suatu basis nasabah yang empuk menggiurkan.
Kedua, untuk itu produk dan jasa perbankan yang membuahkan komisi akan makin marak. Kita ambil contoh nyata, wealth management. Produk yang makin di gemari ini merupakan produk perbankan yang menawarkan pengelolaan kekayaan nasabah tingkat atas. Dari hulu sampai hilir. Dari merencanakan (plan), mengembangkan (grow) hingga melindungi (secure).
Singapura, memang tidak dapat disangkal lagi sebagai pasar segmen perbankan konsumen dan pusat keuangan Asia Tenggara yang menawan. Atraktif bagi pemain internasional. Tidak berlebihan kalau Singapura bakal disebut sebagai banking hub (sumbunya bank) di Asia. Posisi inilah yang juga menjadi alasan utama bagi Temasek Holding untuk menbarkan payung bisnisnya di Indonesia.
Untuk apa? Untuk menembus pasar Indonesia dalam memasarkan wealth management. Hal ini merupakan pola khusus yang diciptakan untuk mengelola orang berduit. Waktulah yang akan membuktikan bahwa BII-BDI akan bersaing ketat dengan Standard Chartered Bank di samping Bank Mandiri dan Bank BNI dalam program yang bagai bunga merekah ini.
Ketiga, bukan berhenti di situ. Sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga makin mekar. Sektor ini semula dianggap tidak memiliki masa depan cerah sebelum krisis keuangan melanda Asia.
Namum sekarang justru menajadi incaran bukan saja bank nasional tetapi juga bank asing. Melalui BBI-BDI, Temasek Holding kemungkinan besar juga akan mengalokasikan dananya lebih besar lagi untuk pasar yang makin diminati ini. Begitu pula OCBC telah menyepakati untuk mendukung struktur permodalan Bank NISP.
Keempat, tantangan bagi bank nasional. Perlu disimak lebih lanjut bahwa grup usaha dan bank Singapura yang telah dan akan mengakuisisi bank-bank nasional sudah memiliki minimal empat keunggulan bersaing utama. Satu, modal yang kuat. Dua, penguasan teknologi informasi (TI) yang tinggi. Tiga, pengalaman internasional yang luas. Empat, penguasaan produk dan jasa yang lebih komplit dan luas.
Oleh karena itu, mereka akan banyak memberikan sinergi positif bagi bank nasional yang telah dicaplok. Alhasil BII-BDI,Bank NISP dan Bank Buana akan makin memiliki dukungan keunggulan bersaing. Ini semua merupakan tantangan serius bagi bank nasional manapun. Sebut saja beberapa: Bank Mandiri, Bank BNI, BCA, Bank BRI, Bank Permata, BTN, Bank Lippo, Bank Niaga, Panin Bank, Bukopin, Bank Mega.
Dengan demikian hanya bank-bank tertentu yang mampu menandingi mereka. Bank mana saja? Bank-bank yang menguasai TI andal untuk makin mengikuti gaya hidup nasabah, memiliki basis nasabah yang luas dengan kepakaran serta pengalaman internasional, menawarkan produk dan jasa yang penuh inovasi dan kreativitas tinggi (value creation).
Apa lagi? Mereka yang berjalan di atas rel mamajemen risiko. Siapapun pemain di segmen perbankan konsumer yang penuh pesona ini suka tidak suka harus berani menghadapi tantangan ini. Bagaimana Anda? *
Penulis adalah pengamat dan praktisi perbankan.