SUARA PEMBARUAN DAILY

Penguatan Rupiah Tidak Signifikan

JAKARTA- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dianggap tidak sejalan dengan mata uang lainnya, seperti euro, yen dan poundsterling. Sekalipun menguat 15 basis poin pada penutupan Jumat (28/5) menjadi Rp 9.277 dari Rp 9.292 per dolar AS, penguatan itu tidak signifikan, masih lebih rendah dibanding dengan penguatan mata uang dari negara lain.

"Dibilang menguat juga tidak, karena bergeraknya dalam kisaran yang sama. Begitu mendekati Rp 9.300 per dolar AS, banyak yang ambil untung (profit taking) dengan menjual kembali dolarnya. Mereka hanya mengetes level-level baru, setelah dinilai cukup bagus dijual lagi," kata pengamat pasar uang, Farial Anwar di Jakarta, Sabtu (29/5).

Dikatakan, mata uang euro menguat signifikan dari US$ 1,214 per euro menjadi US$ 1,222 per euro. Demikian juga dengan yen dari 110,68 Yen per dolar AS menjadi 110,00 yen per dolar AS. Penguatan mata uang dunia terhadap dollar AS itu disebabkan oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap ekonomi AS yang dinilai tidak sebaik yang diduga sebelumnya. Namun hal itu tidak terjadi pada mata uang rupiah karena akumulasi masalah internal.

"Supply dolar tidak ada, karena kecenderungan orang menyimpan dolar, sedangkan permintaan korporasi terus bertambah," jelasnya.

Ketidakseimbangan antara permintaan dan jumlah pasokan dolar ini lebih disebabkan oleh beberapa sentimen negatif, seperti kenaikan harga minyak dunia, keluarnya beberapa investor asing untuk sementara ke luar negeri menjelang Pemilu Presiden dan beberapa masalah dalam negeri yang terabaikan menjelang pemilu karena banyaknya menteri yang mundur dari kabinet baik sebagai calon presiden atau calon wakil presiden maunpun yang masuk dalam tim sukses.

"Biasanya di negara berkembang suasana menjelang pemilu akan berdampak negatif terhadap pasar finansial, ini bisa terlihat pada penundaan lelang obligasi negara serta beberapa bank menunda penerbitan obligasinya," katanya.

Ditanya mengenai prediksi pergerakan rupiah pekan depan, dia mengatakan akan tetap bergerak pada kisaran Rp 9.250 hingga Rp 9.350 per dolar AS.

Berlebihan

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Anwar Nasution mengatakan, melemahnya rupiah disebabkan oleh ekpektasi yang berlebihan sehingga membuat korporasi panik dan melakukan pembelian dolar AS di atas ambang batas. Selain itu juga menggambarkan banyak hal yang perlu dibereskan di dalam negeri.

Menurut dia, BI akan lebih hati-hati mencermati korporasi, karena banyak membeli dolar di atas normal. Demikian halnya kelebihan likuiditas di perbankan nasional membuat BI harus melakukan berbagai upaya untuk menyedotnya.

"Restrukturisasi perusahaan di Malaysia, Thailand dan Korea lebih cepat dari kita sehingga kredit yang dikucurkan bank juga lebih tinggi. Sementara LDR (loan to deposit ratio) di perbankan Indonesia masih 43 persen. Lihat saja restrukturiasasi Texmaco, tujuh tahun tidak selesai-selesai, demikian juga Dipasena.

Lantas siapa yang akan minta kredit dari bank. Ini yang membuat bank mengalami kelebihan likuiditas," kata Anwar. Akibatnya, bank mengalihkan dananya ke obligasi pemerintah, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan saat ini mereka juga sudah mulai bermain dalam pasar valas. Langkah-langkah perbankan seperti ini harus dicegah, katanya.

Dia menjelaskan, BI akan meredam dengan menambah pasokan dolar AS di pasar. Selain itu BI juga melakukan koordinasi dengan Departemen Keungan serta dunia usaha termasuk Pertamina untuk menyedot dana dari perbankan. (BD/L-6)


Last modified: 29/5/04