JAKARTA - Nyonya Chris Walandau (69), istri almarhum purnawirawan Letnan Jenderal Hartono, mantan menteri/Panglima KKO, berharap pemerintah dapat merehabilitasi nama baik suaminya yang oleh pemerintah rezim Soeharto dinyatakan bunuh diri.
"Suami saya meninggal di rumah dinas panglima KKO (Marinir) di Jalan Dr Supomo No 44 Jakarta Selatan, 6 Januari 1971, tapi sampai sekarang tidak ada penjelasan resmi," katanya kepada wartawan, di Jakarata, Jumat.
Menurut dia, pemerintah Soeharto hanya menjanjikan akan memberi penjelasan resmi tentang kejadian itu. Tapi janji tersebut tidak pernah ditepati sampai saat ini. "Saya bersama anak-anak dan cucu sangat berkeinginan agar pemerintah dapat menjelaskan tentang peristiwa yang dialami oleh Letjen KKO Hartono setelah disebut bunuh diri," ucapnya.
Satu minggu setelah suaminya meninggal, tuturnya, dia masih berada di rumah dinas Duta Besar Indonesia untuk di Pyongyang, Korea Utara. Dia diberitahu oleh Menteri Luar Negeri yang kala itu dijabat oleh Adam Malik bahwa pemerintah akan menjelaskan secara rinci tentang kematian suaminya yang ditemukan dalam keadaan tergeletak di atas tempat tidurnya dengan berlumuran darah akibat tembakan.
Ketika tiba di Jakarta untuk melihat makam suaminya di Taman Makam Pahlawan Kalibata, janji tersebut tidak pernah ditepati. Bahkan sampai sekarang pemerintah tidak pernah memberi penjelasan pasti mengenai kematian suaminya itu. "Saya sangat berharap kepada pemerintah Megawati untuk bisa menjelaskan kepada masyarakat tentang kebenaran peristiwa yang dialami suami saya. Ada dugaan, suami saya bukan meninggal akibat bunuh diri dengan cara menembakkan senjata pistol ke kepalanya tapi dibunuh," katanya.
Dia mengakui, mantan Gubernur DKI Letjen (Pur) KKO Ali Sadikin pernah menemuinya Desember lalu di kawasan Permata Pamulang. Ali Sadikin, mantan perwira tinggi marinir mengungkapkan, Hartono meninggal karena dibunuh. Berdasarkan keterangan itu, keluarga sangat mengharap pemerintah Megawati dapat merehabilitir nama baik suaminya. Sampai saat ini anak-anaknya maupun cucunya terus bertanya kebenaran dari keterangan pemerintah Orde Baru bahwa ayah dan kakeknya itu meninggal bunuh diri.
Pada 6 Januari 1971, mengutip keterangan mertuanya, Hartono kedatangan dua orang tamu di rumah dinas di Jalan Dr Supomo 44, Jakarta Selatan. Tidak jelas apakah kedua tamu yang tak diundang itu sudah pulang atau belum, ketika itu mertuanya mendengar ada letusan senjata api dan memecah kaca jendela kamar Hartono. Tidak lama kemudian diketahui bahwa Hartono meninggal dan dikatakan bunuh diri.
"Suami saya meninggal dalam keadaan tertelungkup dengan luka di leher atas kiri," ungkapnya. (M-5)