KEDIRI - Selang hanya beberapa jam sejak dideklarasikannya koalisi DPP PKB dan DPP Partai Golkar (PG) di Jakarta, para ulama dan pengasuh pondok pesantren (Ponpes) se-Kabupaten dan Kota Kediri mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Megawati-Hasyim Muzadi, Jumat (28/5).
Pendeklarasian berlangsung meriah di akhir acara halaqah di Ponpes Haji Mahrus, Lirboyo, Kediri, yang dipelopori sejumlah ulama besar (karismatik), seperti KH Ahmad Idris Marzuki dan KH Kafabihi Mahrus, KH Imam Yahya Mahrus, KH Anwar Mansur dan KH Zainuddin Djazuli.
KH Ahmad Idris Marzuki, Pemangku Ponpes Lirboyo, Kediri usai mengikuti deklarasi menjawab pertanyaan wartawan mengatakan, seluruh keluarga besar santri dan alumninya yang mencapai jutaan orang dipastikan akan diminta memberikan dukungan kepada duet Mega-Hasyim.
"Banyak orang NU maju ke bursa Capres/Cawapres, namun yang paling berkualitas dan memiliki moralitas tertinggi hanya pasangan Mega-Hasyim. Ya, hanya Mega-Hasyim yang lebih akhlakul karimah, dan tetap memperjuangkan aspirasi umat, (calon) lainnya tidak," ujar Kiai Idris, panggilan KH Ahmad Idris Marzuki.
Lebih dari lima kali ulama terkemuka di Jatim itu menyebut pasangan Mega-Hasyim sebagai duet figur pemimpin nasional yang jujur, akhlakul karimah dan hidupnya tetap bersahaja.
Lebih lanjut Kiai Idris yang didampingi KH Zainuddin Djazuli, KH Anwar Mansur dan sahibul bait KH Kafabihi Mahrus, menjelaskan, para ulama se Kota dan Kabupaten Kediri merasakan hal yang sangat aneh terhadap langkah DPP PKB pimpinan Alwi Shihab justru berpihak kepada Partai Golkar.
Karenanya, begitu Gus Dur yang memilih sikap golput namun sengaja membiarkan DPP PKB melakukan koalisi dengan PG, maka itu sama artinya dengan, ..... (minta off the reccord, Red.) warga NU.
"Sejak kapan mereka (PKB) merasa memperoleh amanah dari warga NU sebagai pendukung utama perolehan suara PKB untuk diberikan kepada Capres PG, walau pun Cawapresnya adalah Gus Sholah (H Salahuddin Wahid), adiknya Gus Dur?
Mereka tidak mengerti, di media memang Kiai Hasyim pada Pemilu Legislatif baru lalu menyebut NU netral, tetapi mereka seolah menutup mata dan telinga, bahwa pada pertemuan-pertemuan tertutup sebelumnya, dan bahkan ketika berpidato di banyak kota di Jatim, Kiai Hasyim-lah yang minta nahdliyin tetap memberikan suaranya ke PKB," tegas Kiai Lirboyo itu.
Untuk Suara
Sementara itu, KH Zainuddin Djazuli menimpali, bahwa dukungan DPP PKB kepada PG merupakan pengabaian yang kesekian kalinya aspirasi umat.
"PKB hanya butuh suara nahdliyin untuk meraih kursi DPR dan DPRD, namun tidak butuh aspirasinya. Itu kan sama saja dengan mengkhianati aspirasi umat," tegasnya dengan sungguh-sungguh.
Atas dasar pengambilan sikap elite PKB yang keliru untuk yang kesekian kalinya itu, ia bersama-sama seluruh ulama se Jatim, bertekad bulat mensosialisasikan dukungan kepada tokoh NU yang paling berkeringat untuk jam'iyah dan jama'ah NU, yaitu Ketua Umum PBNU KH Drs A Hasyim Muzadi.
"Kalau Muhaimin Iskandar, keponakan Gus Dur mengatakan, ada atau tidak ada dukungan dari Kiai Hasyim, PKB tetap meraih 12 juta suara, itu sama dengan menutup mata dan telinga. Lha dia hanya ongkang-ongkang, mana tahu kiprah Kiai Hasyim yang blusukan ke kantong-kantong NU pada kampanye pemilu baru lalu. Saya punya bukti," tegas KH Zainuddin Djazuli yang kemudian dibenarkan KH Agus Ali Masyhuri, Pengasuh Ponpes Bumi Shalawat, Tulangan, Sidoarjo yang ikut hadir pada acara halaqah tersebut.
Prof Dr KH Said Aqil Siradj MA yang juga Rais Syuriah PBNU bersama KH Masduqi Mahfudz, Rais Syuriah PWNU Jatim pada kesempatan yang sama mengemukakan, bahwa kedatangannya ke halaqah di Kediri adalah untuk menjelaskan secara rinci kepada para ulama dan nahdliyin, mengapa Kiai Hasyim berpindah ke jalur politik birokrasi (Cawapres) dan memilih berpasangan dengan (Capres) Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri. (070)