SUARA PEMBARUAN DAILY

Dibutuhkan Sekolah Menengah Keguruan Berasrama

BANDUNG - Dalam rangka meningkatkan kualitas serta kuantitas guru di Indonesia, sebaiknya Pemerintah kembali membuka sekolah menengah keguruan dengan sistem asrama yang pendidikannya setara dengan diploma II (D-II).

"Sekalipun masih wacana, kita terus menerima masukan dari masyarakat, termasuk kalangan guru mengenai rencana dibukanya kembali sekolah menengah keguruan," ujar Direktur Tenaga Pendidikan, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Soewondo MSi. kepada wartawan di sela-sela Seminar "Menggurukan Calon Guru" di Aula Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis (PPGT), Kamis (27/5).

Dikatakan Soewondo, kualitas guru di Indonesia masih rendah, terutama kualitas guru-guru sekolah dasar (SD). Rendahnya kualitas guru tidak hanya terjadi daerah pedesaan, tetapi di perkotaan pun sama."20 persen dari guru 1,2 juta guru yang ada sekarang tidak sesuai kualifikasi pendidik yang syaratnya minimal D-2."

Untuk itu tambahnya, dalam pendirian kembali sekolah menengah keguruan tersebut, sisi kualitas akan lebih diutamakan, sehingga lulusannya mempunyai kualifikasi yang memadai, sekalipun sebelum terjun ke lapangan harus menempuh pendidikan tinggi."Kualitas lulusan yang dihasilkan diharapkan bisa memenuhi kriteria yang ditetapkan pemerintah agar bisa mengajar di SD," tutur Soewondo.

Sampai saat ini, tambahnya, jumlah guru SD di Indonesia mencapai 1,2 juta. Mereka harus mengajar kurang lebih 40 juta siswa di seluruh Indonesia."Jika dilihat dari angka tersebut, sangat tidak ideal jika 1,2 juta guru harus mengajar 40 juta siswa SD. Hal ini terlihat di sejumlah daerah terpencil, seorang guru harus mengajar lebih dari 40 - 50 siswa," ungkap Soewondo seraya menambahkan, idealnya satu guru mengajar 30 siswa.
Dalam kesempatan tersebut Suwondo menambahkan, sampai saat ini Indonesia masih kekurangan guru sebanyak 400 ribu mulai dari guru SD sampai sekolah menengah atas/kejuruan, sedangkan pemerintah baru menyediakan sekitar 190 ribu guru.

"Ke-190 guru itu pun baru guru bantu yang tersebar di seluruh daerah," tandasnya seraya menambahkan, pada tahun 2004 ini, pemerintah akan membuka kembali guru bantu sebanyak 80 ribu orang. "Kami juga sedang mengusahakan agar 110.500 guru dan dosen untuk menjadi PNS. 20 ribu dari jumnlah tadi merupakan dosen sedangkan sisanya guru dari tingkat Tk sampai SMA," lanjutnya.

Ditanya terpaan lembaga penataran guru yang ada di Indonesia, ia menuturkan hingga saat ini dari 26 lembaga penataran, baru bisa memasok guru sekitar dua ribu per tahun."Jumlah itu masih lah kurang," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Prof Dr H Moh Surya mengatakan, di tingkat pendidikan dasar, pendidikan kepribadian bobotnya lebih diutamakan dibandingkan mata pelajaran/pendidikan lainnya. Hal tersebut dimaksudkan untuk membangun dan membentuk pribadi siswa yang baik sejak dini.

"Pada tingkat menengah, siswa justru lebih dibina pada spesialisasi materi mata pelajaran. Semakin tinggi pendidikan diajarkan, semakin mengarah pada spesialisasi materi pelajaran," paparnya seraya menambahkan, pendidikan kepribadian akan lebih leluasa diberikan/ditanamkan pada siswa sejak masih duduk di bangku SD.

Dikatakannya pula, pendidikan kepribadian ini bisa mendekatkan siswa dan guru."Namun dibutuhkan kesabaran dan keteladanan dalam memberikan pendidikan kepribadian tersebut," kata Surya. (ADI/N-5)


Last modified: 29/5/04