
BANYAK wanita melahirkan tanpa bidan. Di Indonesia tercatat angka kematian ibu tertinggi di Asia Tenggara. Lebih dari 300 dari setiap 100 ribu kehamilan berakhir dengan kematian si wanita, dan ini jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara dan bahkan enam kali lebih tinggi daripada negara tetangga, Malaysia.
Pemerintah Indonesia tengah berjuang keras mengurangi statistik ini, dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan baru yang dimaksudkan untuk memperbaiki perawatan prapersalinan. Namun, sebegitu jauh, kebijakan itu menghasilkan sedikit keberhasilan. Statistik juga menunjukkan, seorang wanita di Indonesia meninggal setiap jam akibat komplikasi saat persalinan, keterlambatan dirujuk ke rumah sakit, atau layanan darurat yang jelek, menurut data PBB.
Dr Laura Guarenti, perwakilan World Health Organization di Jakarta, mengatakan, ada banyak alasan lain atas luar biasa tingginya tingkat kematian ibu di Indonesia.
Salah satu kendala utamanya adalah geografi wilayah. "Indonesia memiliki 17 ribu pulau, dan ini menimbulkan masalah nyata. Jika seorang wanita mengalami penggumpalan darah parah, Anda harus segera mengirimnya ke rumah sakit dalam waktu 2 jam, dan sangat sulit untuk melakukan hal itu di beberapa daerah," kata Guarenti.
Menurut penelitian Himpunan Obstetri dan Ginakolog Indonesia, setengah dari seluruh aborsi di Indonesia dilakukan dalam kondisi yang tidak aman. Aborsi secara teknis dinyatakan ilegal, namun diperkirakan 2 juta aborsi dilakukan setiap tahun.
"Ada banyak kasus aborsi di mana-mana," kata Masruchah, jurubicara Koalisi Wanita Indonesia.
Menurut Sri Hermiyanti, dari Direktorat Kesehatan Keluarga, mengatakan, aborsi merupakan "masalah sensitif" di Indonesia. Dia mengatakan, pemerintah tengah berkampanye meningkatkan penggunaan kontrasepsi, guna mengurangi jumlah kasus.
Praktik Tradisional
Menurut pemerintah Indonesia, akses ke petugas kesehatan yang berkualifikasi juga merupakan faktor kunci untuk mengurangi angka kematian kelahiran. Dr Guarenti memperkirakan, sepertiga wanita Indonesia tidak didampingi petugas terampil, saat bersalin. Ini sebagian akibat kurangnya staf, tapi juga terkait faktor budaya dan sosial.
"Indonesia memiliki sekitar 300 kelompok etnis. Di sejumlah budaya, orang memandang wanita lebih baik melahirkan di rumah dengan bantuan dukun, daripada di rumah sakit, atau klinik," kata Sri Hermiyanti.
Masruchah menambahkan saat ini, banyak orang memanfaatkan bantuan bidan yang tidak terlatih, untuk melahirkan bayi, dan jumlah kematian dari kasus semacam ini tinggi. Pemerintah telah melancarkan kebijakan untuk menjalinkan kemitraan antara dukun bayi, dan para bidan terlaih, guna mendorong wanita hamil agar memanfaatkan layanan medis modern.
Namun, kalau pun para wanita bisa diyakinkan akan manfaatnya, kerap kali sulit untuk membujuk keluarga mereka, khususnya di kawasan pedesaan tradisional.
Mustika mengatakan, sebagian dari rekan mereka di Kalimantan harus meminta kepala desa, agar mendekati pihak keluarga, dan menjelaskan arti penting bantuan medis.
Indonesia memang mengambil langkah untuk memperbaiki taraf perawatan ibu. Tahun lalu, angka kematian ibu menurun sedikit, dari 373 per 100 ribu wanita tahun 200, menjadi 307 per 100 ribu tahun 2003.
Namun, Indonesia masih tertinggal di belakang negara kawasan Asia Tenggara. Negara-negara yang lebih miskin sekali pun, seperti Filipina, meraih hasil yang lebih baik. "Semua ini tidak bisa diubah dalam semalam. Prioritas kini adalah melatih staff, dan itu membutuhkan waktu," kata Guarenti. (BBC/E-5)