Dua orang seniman Indonesia, (alm) Gusmiati Suid dan Nano Suratno akan menerima hadiah Akademi Jakata 2003. Mereka akan menerima piagam penghargaan dan uang masing-masing senilai Rp 50.000.000. Penyerahan Hadiah Akademi Jakarta 2003 akan diadakan di Taman Ismail, Marzuki, Jakarta Pusat pada Selasa (1/6).
Penghargaan Akademi Jakarta 2003 diberikan kepada dua seniman tersebut karena dedikasinya selama 25 tahun. Hasil karya mereka dinilai mampu membuka cakrawala baru dalam dunia kesenian khususnya di Indonesia. Gusmiati Suid dan Nano Suratno merupakan hasil penyaringan yang ketat dari enam orang kandidat. Keputusan penerima hadiah itu ditetapkan oleh tim juri yang terdiri dari Ramadhan (ketua), Iravati M Sudiro, Ajip Rosidi, Misbach J Biran dan Ignas Kleden.
Kepada wartawan di Jakarta, Ramadhan mengatakan Akademi Jakarta yang berdiri sejak tahun 1970 baru tiga kali memberikan hadiah Akademi Jakarta kepada sejumlah orang seniman. Sebelum pasangan Gusmiati dan Nano, ada beberapa nama seperti WS Rendra (1975), Zaini (1977), dan G Sidharta Soegijo (2003). Namun mengingat banyaknya seniman yang sudah berkarya mulai tahun yang lalu, Hadiah Akademi Jakarta akan diberikan setiap tahun. Ini merupakan hasil keputusan bersama antara Akademi Jakarta dengan Dewan Kesenian Jakarta.
Gusmiati Suid salah satu penerima penghargaan, dinilai telah mendedikasikan karyanya untuk memajukan kesenian Indonesia. Hasil karyanya itu dalam bidang seni tari. Sejak tahun 1962 sudah menciptakan beberapa tarian dan membentuk kelompok kesenian Indo Jati. Tarian yang diciptakannya antara lain; Cewang, Ke Sawah, dan Layang-Layang dan masih banyak lagi.
Pada tahun 1977, Gusmiati menciptakan tari Rantak, yang kemudian dipentaskan dalam Festival Tari Rakyat. Tari itu kemudian membuatnya popular dan dikenal sebagai seorang pencipta tari yang berpotensi. Tahun berikutnya, Gusmiati menciptakan Alang Babega dan tari Putri Galang Banyak (1979). Kedua tarian hasil karyanya dipertunjukan dalam Festival Penata Tari Muda II, yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta.
Tahun 1982, Gusmiati membentuk sanggar tari Gumarang Sakti. Lalu tahun 1987, dia mulai mengajar di IKJ. Pada tahun yang sama, Gusmiati diundang untuk mengikuti An Asian Festival of Theatre and Martial Art di Kalkuta. Beberapa tahun kemudian, dia tampil dalam Internasional Festival of Dance Academia di Hong Kong, dan Recontres Internationales de La Baule di Prancis. Beberapa karyanya berhasil mendapat Bessie Award dari New York Dance and Performance sebagai Outstanding Creative Achievement.
Akademi Jakarta juga memberikan penghargaan pada bidang komposer lagu, yaitu kepada Nano Suratno. Sejak tahun 1963, dia sudah mengembangkan seni karawitan Sunda. Kawih. Nano banyak melalukan percobaan musikal dengan menggali akar tradisi. Termasuk juga menciptakan beberapa instrumentalia khas daerah Sunda. Ia juga sering melakukan kolaborasi dengan para seniman dari luar Sunda. Diantaranya dengan Yamamoto Hozan, seorang peniup instrumen sa-kuchi yang terkenal di Jepang. Nano juga pernah berkolaborasi dengan Yabuki Makoto untuk drama The Story of Moonlight. Beberapa lagu hasil karyanya banyak dinyanyikan oleh para biduan termashyur seperti, Tati Saleh, Euis Komariah, Ida Wida-wati, Nining Meida.
Salah satu hasil karyanya Sangkuriang diikutsertakan dalam Festival Komponis Mu-da I, yang diselenggarakan oleh DKJ. Nano selain mencipta lagu, ia juga membentuk sebuah grup kesenian Gentra Madya, dan mereka seringkali diundang untuk mengadakan pertunjukan di berbagai negara. (EL/U-5)