SUARA PEMBARUAN DAILY

Pasar Saham Masih Menarik

JAKARTA - Pasar saham Indonesia masih tetap menarik untuk investasi walau terus mengalami penurunan setelah sempat menembus level tertinggi 800 pada pertengahan Mei 2004.

Menurut Research Manager BNP Paribas, Ferry Wong, pasar saham Indonesia masih menjanjikan keuntungan dibandingkan pasar saham negara-negara lain di kawasan regional. Pasalnya, harga saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ) masih tergolong murah dibandingkan negara-negara Asia lainnya, seperti Malaysia dan Singapura.

Hal itu, lanjutnya, dilihat dari price earning ratio (PER/rasio harga saham dibanding keuntungan yang dapat diberikan per lembar saham) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang saat baru sebesar 10,5 kali. Sedangkan bursa saham Malaysia sudah mencapai 13-14 kali dan bursa Singapura sebesar 15 kali.

"Dengan PER sebesar 10,5 kali, berarti harga saham kita masih murah dan menarik untuk investasi. Jadi IHSG masih memiliki ruang cukup besar untuk menguat," kata Ferry, dalam acara "Temu Pakar" di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Jumat (28/5).

Dia mengatakan, melemahnya IHSG dua pekan terakhir lebih dipengaruhi kondisi makro ekonomi global terkait dengan kenaikan harga minyak dan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga. Hal itu bukan saja menekan IHSG BEJ, tetapi juga menekan indeks di bursa saham global, karena investor melancarkan aksi jual terhadap saham-saham yang industrinya terkait dengan kenaikan harga minyak dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Namun Ferry menilai, kondisi tersebut tidak akan berlangsung lama dan menekan IHSG. Jika The Fed telah mengeluarkan keputusan mengenai berapa besar tingkat suku bunga AS akan dinaikkan, investor akan kembali masuk ke bursa saham. Pasalnya, antisipasi mengenai kenaikan suku bunga The Fed sudah diperkirakan beberapa bulan sebelumnya, sehingga investor hanya menunggu kepastian.

Di sisi lain, lanjutnya, pergerakan IHSG sepanjang 2004 sangat dipengaruhi faktor di luar bursa, yakni kondisi politik dan keamanan yang kondusif selama pelaksanaan pemilu.

"Tapi selama kondisi politik dan keamanan stabil, investor akan masuk ke pasar saham. Jadi IHSG dapat kembali membukukan kenaikan tertinggi seperti sebelumnya," ujar Ferry.

Sementara itu, IHSG pada perdagangan Jumat, ditutup menguat 5,677 poin (0,779 persen) ke level 733,990. Selain didukung penguatan bursa global dan regional, kenaikan IHSG juga dipicu aksi beli selektif terhadap beberapa saham unggulan, perbankan, dan pertambangan.

Aktivitas transaksi pada perdagangan di akhir pekan itu, berlangsung cukup ramai. Volume saham yang berpindah tangan mencapai 1,179 miliar lembar saham dengan frekuensi sebanyak 11.996 kali transaksi. (J-9)


Last modified: 29/5/04