SUARA PEMBARUAN DAILY

Impor Daging Sapi AS Menunggu Keputusan OIE

Satu Peti Kemas Daging Sapi Ilegal Ditahan di Surabaya

Pembaruan/Heri Soba

DIKUBUR - Ribuan kardus yang berisi daging, jantung, dan jeroan sapi asal India dimusnahkan dengan cara dikubur di wilayah Tambun, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (28/5). Daging tersebut diduga terkena penyakit mulut dan kuku (PMK) sehingga dilarang masuk ke Indonesia. Saat ini masih tersisa 21 peti kemas daging sapi ilegal di Tanjung Priok, Jakarta, dan satu peti kemas di Tanjung Perak, Surabaya.

JAKARTA - Setelah 22 peti kemas ditahan petugas Karantina serta Bea dan Cukai di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, satu lagi peti kemas berisi daging sapi yang diduga berasal dari India ditahan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Senin (24/5) lalu. Modus penyelundupan tersebut diperkirakan sama, yakni memalsukan dokumen impor seolah-olah daging tersebut berasal dari Australia dan Selandia Baru.

Menurut Kepala Badan Karantina Departemen Pertanian, Budi Tri Akoso, Jumat (28/5), di sela-sela pemusnahan satu peti kemas daging sapi di Rawabanteng, Tambun, Bekasi, modus penyelundupan tersebut dilakukan dengan mengubah dokumen di negara transit.

Langkah itu dilakukan karena impor daging asal India dan Amerika Serikat (AS) ke Indonesia masih dilarang. India, sesuai keputusan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties/OIE), masih endemis penyakit mulut dan kuku (PMK), sementara AS masih terkena wabah penyakit sapi gila.

Dikatakan, semua daging ilegal tersebut akan dimusnahkan dan pemerintah akan memperketat pengawasan terhadap impor daging. Satu peti kemas terakhir yang ditahan di Surabaya, diduga memalsukan dokumen impor yang berasal dari Australia.

Importir tersebut belum mendapatkan izin dari Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan, Deptan, dan tidak ada izin dari Pemerintah Provinsi Jatim yang melarang impor daging sapi.

"Dokumen dalam surat-surat impor juga berbeda dengan data yang tertera pada peti kemas tersebut. Diperkirakan berisi daging sapi sebanyak 17 ton. Saat ini masih diselidiki lebih lanjut," ujarnya.

Sedangkan, satu peti kemas yang dimusnahkan di Bekasi, Jumat, berisi daging, jantung dan jeroan sapi asal India.

Dalam salah satu dokumen impor, daging yang disimpan dalam ribuan kotak kardus berlabel sebuah perusahaan di Selandia Baru tersebut, berasal dari Nhavasheva (India) lalu transit di Singapura. Adapun importir dari daging tersebut tertulis PT Koppbasindo (Koperasi Pedagang Bakso dan Sosis Indonesia) yang beralamat di Jakarta.

Di sela-sela pemusnahan daging tersebut, sekelompok masyarakat yang menamakan diri Aksi Masyarakat Anti Daging Ilegal melakukan aksi protes masuknya daging tersebut dan mendesak pemerintah segera mengusut tuntas para pelakunya.

Pihak karantina dan bea cukai tetap meneruskan penyidikan terhadap 21 peti kemas berisi daging ilegal tersisa dan akan dimusnahkan. Sampai saat ini baru diketahui dua importir yang mendatangkan daging asal India dan AS tersebut.

Budi menjelaskan, maraknya penyelundupan tersebut karena perbedaan harga di dalam negeri yang begitu besar dengan daging impor asal India maupun AS. Satu kilogram (kg) daging sapi impor asal India hanya mencapai Rp 15.000, sementara di dalam negeri hampir dua kali lipat lebih mahal.

Impor Daging AS

Sementara itu, menanggapi permintaan sejumlah importir untuk membolehkan daging asal AS masuk ke Indonesia, Budi mengatakan, hal tersebut sangat bergantung pada keputusan OIE. Selama tidak diperbolehkan OIE karena diduga masih endemis sapi gila, impor daging sapi dari AS tidak akan diijinkan.

Dia mengakui, pihaknya pernah didatangi oleh utusan United States Department of Agriculture (Departemen Pertanian AS/USDA) wilayah Asia dan Australia agar membuka impor dari AS. Kendati demikian, keputusan akan diserahkan kepada Ditjen Bina Produksi Peternakan sesuai rekomendasi dari Konferensi OIE yang tengah berlangsung di Paris.

Dari Surabaya dilaporkan, masuknya daging sapi impor menjadi ancaman tersendiri bagi usaha pemotongan sapi, di samping mulai menurunnya populasi ternak sapi dari sentra-sentra penghasil sapi potong. Ketua Koperasi Jagal Sapi Rojo Koyo Unggul Surabaya, Hudari, dalam diskusi mengenai bisnis pemotongan sapi mengungkapkan, rata-rata pelaku bisnis pemotongan hewan mengalami penurunan sekitar 50 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, kendati minat untuk mengkonsumsi daging bagi warga kota Surabaya tetap tinggi.

Pelaku bisnis pemotongan sapi yang sebelumnya bisa memotong sebanyak 50 ekor sapi per hari, kini turun menjadi 25 ekor per hari. ''Munculnya daging olahan belakangan seperti sosis dan lain sebagainya, juga memberikan pengaruh,'' katanya. (029/H-12)


Last modified: 29/5/04