DA satu hal yang menarik dicermati dalam perilaku elite politik di Tanah Air akhir-akhir ini. Tiba-tiba saja mereka sangat akrab dengan rakyat. Mereka peka terhadap peristiwa yang menyengsarakan orang kecil (wong cilik), atau persoalan yang melilit orang kebanyakan. Sering berbicara atas nama rakyat banyak. Mereka ramah, seolah-olah sangat memahami penderitaan rakyat, bahkan dalam hal tertentu, berperilaku sebagai bagian atau satu di antara orang kecil.
Dikatakan menarik karena kepekaan seperti itu jarang kita lihat sebelumnya, walaupun ada partai politik yang menyebut diri sebagai partai wong cilik. Ada seruan, "Jangan sakiti hati rakyat." Justru, yang jamak kita lihat (sebelumnya), semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin jauh dari perhatian pada penderitaan dan keseharian rakyat miskin. Rakyat hanya diperhatikan ketika dukungan dan suaranya diperlukan untuk memenangi suatu pemilihan. Setelah itu, rakyat kembali terlupakan. Sementara penguasa, bagaikan naik pesawat terbang, semakin tinggi pesawat mengudara, semakin tidak jelas rakyat dari pandangannya.
APAKAH perubahan itu merupakan good news (kabar baik) bagi rakyat kebanyakan? Artinya, akan terjadi pemerintahan yang memperhatikan bahkan mengutamakan hak dan kepentingan rakyat banyak?
Untuk menjawab pertanyaan itu, patut dicatat dua hal. Pertama, kalau tujuan melakukan itu semua didasarkan pada filosofi "supaya" (misalnya, supaya dipilih oleh rakyat, supaya disenangi rakyat), maka jangan berharap akan ada perubahan mendasar, terutama dalam kebijakan pemerintahan yang memperhatikan kepentingan rakyat banyak di masa datang. Biasanya, kalau tujuan sudah tercapai, kursi kekuasaan sudah diduduki, maka sudah selesai. Rakyat yang memilih terlupakan.
Kedua, kalau sebaliknya perubahan seketika itu dilakukan atas dasar filosofi "oleh karena" (misalnya, karena amanat rakyat menghendaki demikian, karena undang-undang menggariskan begitu, karena ketajaman nurani menghendaki seperti itu), maka yakinlah, setelah berkuasa, rakyat akan mendapat perhatian, dan karena itu, rakyat akan berdaulat. Bahkan, kalau tidak memegang tampuk pimpinan, dalam kedudukan apapun, orang itu akan tetap concern pada permasalahan yang dialami rakyat banyak.
Atas dasar itu, kita perlu secara kritis menilai perilaku dan janji-janji para calon presiden dan wakil presiden sebelum dan selama kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden dan Wakil Presiden 2004. Cermati, apakah janji-janji itu hanya sekadar untuk mendapat suara, atau sesuatu yang sesungguhnya bertolak dari kesadaran mendalam akan hak dan kepentingan rakyat banyak.
Menurut hemat kita, kalau sekadar untuk mendapat dukungan suara pemilih sebagai tujuan, biasanya setelah pemilihan, suara sudah didapat, maka tujuanpun sudah tercapai. Selesai! Untuk itu, jangan pernah menagi janji apapun karena tujuannya sudah selesai. Sebaliknya, ka- lau wacana yang mengemuka selama kampanye itu bertolak dari kesadaran akan hak dan kepentingan rakyat banyak, maka setelah calon itu berkuasa, sesungguhnya perjuangan belum selesai. Justru baru dimulai. Permulaan itu sendiri menjadi good news bagi semua anak bangsa.
KITA sebenarnya berharap, para calon presiden dan wakil presiden lebih mengedepankan visi dan misinya dalam kampanye yang akan segera dilaksanakan, Juni 2004. Atas napas visi dan misi itu, hendaknya masing-masing calon memaparkan program kerjanya agar khalayak melakukan penilaian. Atas dasar penilaian itu, masyarakat dapat menentukan pilihan yang tepat.
Dengan demikian, para calon pemimpin bangsa tidak sekadar menjual perhatian sesaat lagi murahan kepada wong cilik. Berarti, kemiskinan, kelemahan, dan ketidakberdayaan rakyat tidak dieksploitasi demi kekuasaan, tetapi dicari solusinya agar rakyat mampu membangun dirinya.
Membangun bangsa seluruhnya hendaknya jangan atas dasar "supaya" tetapi "oleh karena".