SUARA PEMBARUAN DAILY

Ny Yulia Girsang:

"Tuhan, Berkatilah Orang yang Membunuh Suami Saya"

Pembaruan/Jeis Montesori S -Yulia Girsang

"SAYA tetap ikhlas dan pasrah menerima kenyataan ini. Mungkin melalui cara seperti inilah, Allah telah memanggil suami saya. Saat ini saya tengah merasakan malaikat-malaikat Allah tengah menjemput suami saya."

Kata-kata itu diucapkan berulang-ulang oleh Ny Yulia Girsang (41), istri Ferry Silalahi, SH, LLM (40), jaksa muda di Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah (Sulteng), yang tewas ditembak orang tak dikenal di Palu, Rabu (26/5) malam.

Namun, Yulia tak kuasa menanggung beban kepedihannya. Berulang kali ia jatuh pingsan, Begitu siuman, ia menangis, dan menangis lagi. Apalagi ketika jenazah suaminya tiba di rumah duka, Kamis siang (27/5), setelah diautopsi hampir semalaman di RSU Undata Palu. Yulia lagi-lagi menjerit menangis, sambil memeluk jenazah kekasih hatinya yang sudah terbujur kaku di dalam peti jenazah.

Dua anak Ferry, Aldo Sefanya (4) dan Anjelisa Justice Marrahati (2), berada dalam pelukan keluarganya. Kedua anak yang belum mengerti apa-apa itu, tampak hanya bingung melihat ibunya yang terus menangis di sisi peti berisi ayahnya.

"Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa kami. Hamba-Mu yang lemah ini menyerahkan seluruh musibah ini ke dalam tangan kuasa-Mu.

Apa pun yang telah terjadi dalam hidup kami, hamba-Mu menerimanya dengan ikhlas dan pasrah," ujar Yulia, yang lalu berdoa di depan jasad suaminya. Dan, ia tidak akan pernah merasa dendam kepada orang yang telah membunuh suaminya. "Berkatilah orang yang telah membunuh suami saya, ya Tuhan, dan lindungilah hamba dan anak-anak hamba yang masih kecil ini," ujar Yulia, dengan air mata yang nyaris kering, karena terlalu banyak menangis.

Peristiwa yang sangat memilukan itu membuat para pelayat yang hadir di rumah duka di Jl Sutoyo No 22 Palu, ikut terisak-isak, tak kuasa menahan rasa haru. Di antara pelayat tampak Kajati Sulteng I Made Yasa. Wajahnya tampak pucat, karena semalaman tidak tidur mengurusi jenazah Ferry.

Diberondong

Tak pernah terbayangkan oleh Yulia peristiwa tragis malam itu. Suaminya tewas, dan ia sendiri lolos dari penembakan maut yang merengut nyawa suaminya. Pasangan suami-istri itu, saat itu, baru saja hendak pulang dari mengikuti ibadah persekutuan doa "Elsadai" GKI Palu, yang dilaksanakan di rumah Thomas D Ihallaw, pengacara terkenal di Palu.

Baru saja beberapa meter keluar dari rumah Thomas, korban yang mengendarai sendiri mobilnya, dengan didampingi istrinya yang duduk di kursi depan, tiba-tiba langsung diberondong tembakan.

Laporan Polresta Palu menyebutkan, melihat dari kaca-kaca mobil depan yang pecah berantakan serta luka tembak di tubuh Ferry yang persis mengenai dada kiri dan rusuk kanannya, diduga Ferry ditembak dari depan. Empat peluru bersarang di tulang rusuk dan dada Ferry hingga korban tewas seketika. Kabid Humas Polda Sulteng, AKBP Agus Sugianto mengatakan, pelaku penembakan diduga lebih dari dua orang dan mengendarai sepeda motor. "Mereka mencegat mobil korban di gang kecil menuju rumah Thomas, dan langsung menembak korban hingga meninggal dunia," kata Agus.

Yulia, yang menyaksikan suaminya ditembak, langsung menjerit minta tolong kepada warga di sekitar. Ia keluar dari mobil dan berlari kembali menuju rumah Thomas yang tidak jauh dari tempat kejadian.

"Kami sendiri sangat kaget, dan tak tahu harus berbuat apa. Yang kami bisa lakukan saat itu hanya menelepon polisi yang beberapa saat kemudian datang menolong Ferry," ujar Thomas kepada Pembaruan.

Sejauh ini belum diketahui motif penembakan korban. Polresta Palu bekerja sama dengan Polda Sulteng masih menyelidiki kasus itu dan pelakunya pun belum tertangkap hingga saat ini. "Kami belum bisa berandai-andai, karena pelakunya sendiri belum diketahui," ujar Agus Sugianto.

Terorisme

Ferry, kelahiran Singkam, Sumatera Utara, 24 April 1964, dikenal sebagai jaksa yang cerdas dan pemberani. Sejak ditugaskan di Kejati Sulteng November 2003, Ferry banyak diserahi menangani kasus-kasus besar, termasuk di antaranya kasus-kasus Kerusuhan Poso. Tercatat tiga kasus besar yang masih ditangani Ferry sampai korban tewas ditembak. Pertama, kasus penyerangan sekelompok massa ke Beteleme, Kabupaten Morowali (pecahan Kabupaten Poso) pada Oktober 2003 yang melibatkan 16 tersangka. Kedua, kasus tindak pidana terorisme yang melibatkan lima terdakwa di Palu di antaranya Firmansyah, Fajrin, dan Aang Hasanuddin. Ketiga, kasus korupsi yang melibatkan Direktur Puskud Sulteng Drs Ambo Dalle.

Sebelum ke Palu, Ferry bertugas sebagai Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) di Kejaksaan Negeri Tangerang. Ia dipindahtugaskan ke Kejati Sulteng, karena adanya mutasi biasa dan promosi kenaikan jabatan dari Kasi Pidsus menjadi Kabag TU. Sebelum menjabat Kasi Pidsus Kejari Tangerang, ayah seorang anak dari buah perkawinannya dengan Yulia Girsang, yang masih kerabat pengacara kondang Juniver Girsang SH itu, bertugas di Kejaksaan Agung (Kejagung).
Selama di Kejagung, Ferry yang sempat menimba ilmu di Inggris, mendapat tugas sebagai pengajar di Pusdiklat. Karena dikenal "jago" dalam menangani kasus korupsi, ia sering mengikuti seminar di luar negeri. Karena itu, ia pun dilibatkan dalam tim penanganan kasus korupsi yang melibatkan mantan Presiden Soeharto.

Selama bertugas di Tangerang, jaksa Ferry pernah menangani kasus besar seperti kasus kredit usaha tani (KUT) fiktif yang merugikan negara belasan miliar rupiah, dan pernah menangani kasus pencurian listrik di PLN Cabang Tangerang. Yang terakhir dan paling banyak disorot, ketika Ferry bersama Jaksa Roskanedi dan Asrianto, menuntut mati raja ekstasi Ang Kim Soei, yang terbukti memiliki dua pabrik ekstasi terbesar di Asia Tenggara di Jl KH Hayim Ashari dan Jl Imam Bonjol, Kota Tangerang.

Minta Didoakan

Peristiwa yang menimpa Ferry, tak pelak mengagetkan banyak kalangan, terutama rekan sekerja. Humas Kejati Sulteng, Hasman SH yang ditemui terpisah, Kamis siang, mengaku sangat terpukul. "Ia sangat baik, cakap, dan rendah hati. Sulit mencari figur jaksa seperti Pak Ferry Silalahi," kata Hasman, sambil menambahkan, peristiwa itu sudah dilaporkan secara resmi ke Kejaksaan Agung.

Perasaan kaget, tak percaya, dan sedih juga meliputi teman-teman sekerja Ferry selama bertugas di Tangerang. Sebulan lalu, di Tengarang, Ferry sempat menemui hakim PN Tangerang Benar Sihombing, sahabat dekatnya. Ia mengeluhkan kasus pelik menyangkut terorisme yang tengah ditanganinya. "Ia minta didoakan agar bisa menangani kasus terorisme dengan baik," kata Benar Sihombing kepada wartawan, di Tangerang, Kamis (27/5).
Ia menceritakan, rekan kerjanya yang juga adik kelasnya di Fakultas Hukum UI itu, kala itu datang ke Jakarta, untuk menghadiri pemakaman salah seorang kakaknya yang meninggal. Tiga bulan sebelumnya, Ferry pulang ke kampung halamannya di Samosir, Sumatera Utara, untuk menghadiri pemakaman orangtuanya.

Kesempatan ke Jakarta itu kemudian dimanfaatkan Ferry untuk menceritakan kegalauan hatinya yang ditunjuk menangani kasus terorisme. Sebagai sahabat, Benar menyarankan Ferry untuk selalu waspada, selalu berdoa, dan menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Saya masih tidak percaya, Ferry pergi dengan cara mengenaskan," ujar Benar Sihombing, tak mampu menahan kesedihan.
Di mata rekan kerjanya maupun wartawan, Ferry dikenal sebagai sosok yang terbuka dan cerdas. Sebagai jaksa penuntut umum dalam kasus pemilik pabrik ekstasi terbesar di Tangerang, Ferry dikenal sebagai tempat wartawan mencoba mengorek informasi terbaru. Ia juga enak diajak berdiskusi karena memang dikenal sebagai jaksa pintar.
Ungkapan kesedihan atas kematian Ferry juga dikemukakan Hakim Poltak Sitorus. Bahkan ia sampai merasa harus berkirim surat kepada pejabat keamanan agar mengusut tuntas pelaku pembunuhan terhadap jaksa Ferry. Poltak berharap agar kasus seperti yang dialami rekannya itu, tidak terulang kembali pada jaksa atau penegak hukum lainnya yang sedang bertugas di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan, Poltak berharap pemerintah dapat memberikan pengamanan khusus kepada setiap hakim dan jaksa, seperti telah diterapkan di Negara Malaysia. "Di mata saya, sosok Fery tidak berbeda jauh dengan almarhum Baharuddin Loppa. Ia tidak pernah gentar terhadap apa dan siapa pun dalam menegakkan keadilan," ia menambahkan.
Wahid Priyo Widarmanto, staf Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Tangerang, yang juga pernah menjadi bawahan Ferry Silalahi, menilai, almarhum selalu serius dalam menjalankan tugasnya-tugasnya.

"Bukan cuma serius dalam menjalankan tugas dan beribadah, tapi juga dekat dengan bawahannya. Bahkan, kalau ada masalah, beliau selalu mengajak kita untuk bersama-sama membicarakannya," katanya.

Jenazah Ferry, Jumat pagi (28/5), diterbangkan dengan pesawat Lion Air ke Jakarta untuk dikebumikan. Yulia bersama dua anaknya, juga turut menyertai almarhum sampai ke tempat peristirahatan terakhir.


PEMBARUAN/JEIS MONTESORI S-DEWI GUSTIANA


Last modified: 28/5/04