JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (28/5) pagi, untuk sementara menguat. Berdasarkan pantauan, hingga pukul 11.00 WIB, kurs bergerak menguat ke posisi Rp 9.292 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup di posisi Rp 9.315 per dolar AS.
Sementara itu, mata uang dunia lainnya juga menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang, pada Jumat pagi sementara menguat ke posisi 110,68 yen per dolar AS, dari sebelumnya 110,99 yen per dolar AS. Demikian halnya euro juga menguat, dan diperdagangkan di posisi US$ 1,2275 per euro dari sebelumnya US$ 1,2144 per euro. Poundsterling juga menguat menjadi US$ 1,8355 per pound dari US$ 1,8162 per pound. Berlanjutnya krisis di Irak, ancaman terorisme menjelang libur panjang akhir pekan di AS, memicu sentimen negatif terhadap dolar AS.
Sementara dari perdagangan di bursa saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) diperkirakan bergerak dengan kecenderungan melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (28/5). Hingga pukul 11.00 WIB, IHSG naik tipis 1,801 poin (0,25 persen) ke level 730,114.
Analis dari sejumlah perusahaan sekuritas memperkirakan, penguatan IHSG hanya akan berlangsung pada sesi I perdagangan yang dimulai pada pukul 09.30 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Setelah menguat 10,308 poin ke level 728,313 pada penutupan perdagangan Kamis (27/5), IHSG diperkirakan akan melemah tipis pada perdagangan hari ini, bergerak di level support (terendah) 720 dan resistance (tertinggi) 735.
Walau ada sentimen positif menguatnya bursa Wall Street pada perdagangan kemarin dan bursa regional pada pembukaan perdagangan hari ini, namun melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap menjadi sentimen negatif yang terus menekan IHSG.
Menanggapi perkembangan nilai tukar tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah mengatakan, BI belum akan mengubah kebijakan secara drastis.
Hal itu dikarenakan depresiasi rupiah yang terjadi dalam tiga minggu terakhir sifatnya sementara, sehingga BI melihat tidak cukup alasan untuk melakukan perubahan kebijakan yang mendasar dan drastis, karena tidak ada faktor fundamental yang perlu dikhawatirkan.
"Belum ada alasan untuk kita melakukan perubahan kebijakan untuk menghadapi depresiasi nilai tukar, kami melihat hal itu hanya bersifat sementara," ujarnya seusai berbicara di hadapan anggota Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Makassar, Rabu (26/5)
Menurut dia, langkah konkret yang harus dilakukan BI untuk mengatasi depresiasi nilai tukar itu, adalah menjaga perekonomian Indonesia agar harus tetap konsisten dan disiplin menggunakan devisa bebas dan sistem nilai tukar mengambang. Karena keduanya berfungsi membantu proses pemulihan ekonomi.
Dikatakan, kebijakan BI tetap diarahkan untuk menjaga tingkat inflasi dalam jangka menengah sekitar 5 sampai 6 persen. Untuk itu BI siap untuk memenuhi kebutuhan dolar AS di pasar untuk mengurangi gejolak dan meratakan volatilitas. "Kondisi itu bukan hanya dialami rupiah, tetapi juga pada mata uang lainnya," jelas Burhanuddin yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat ISEI.
Dia menambahkan, cadangan devisa saat ini masih mencukupi, yakni US$ 37,2 miliar atau setara tujuh bulan impor ditambah dengan pembayaran utang luar negeri. "Ekspor kita masih tetap jalan dan meningkat, penerimaan masih ada. Secara fundamental tidak ada perubahan. Karena itu BI berkesimpulan bahwa depresiasi ini hanya bersifat sementara," tandasnya.
Menanggapi penyebab depresiasi, Burhanuddin kembali mengatakan, lebih 50 persen disebabkan oleh faktor eksternal, yakni terjadinya ekspektasi masyarakat internasional terhadap tumbuhnya ekonomi AS. Selain itu juga sikap dari Pemerintah Cina yang ingin supaya pemanasan di dalam perekonomiannya dikurangi, sehingga mereka juga ingin mengurangi pertumbuhan ekonominya dari 9,5 persen menjadi 7 persen.
Sikap Cina tersebut mendorong mereka untuk mengurangi kegiatan ekonominya. Dampaknya impor semen, besi baja dan bahan baku lainnya dari Indonesia berkurang. Meski demikian Burhanuddin menekankan, perdagangan Indonesia dengan Cina tidak terlalu besar, hanya sekitar 7 persen dari keseluruhan ekspor Indonesia. "Masih lebih banyak ke Eropa, Amerika dan Jepang. Namun tetap saja berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia," katanya.
Diungkapkan pula, masa transisi politik di dalam negeri ikut berpengaruh terhadap depresiasi nilai tukar.
(AP/A-17/148/J-9)