SUARA PEMBARUAN DAILY

Delman Masih Bertahan di Belantara Jakarta

PEMBARUAN/WICAKSONO DANIEL P

DELMAN ULUJAMI - Sejumlah kusir delman di Jalan Swadarma, Ulujami, Jakarta Selatan, antre menunggu penumpang.

TIAS (45) duduk di bangku delman miliknya. Wajahnya terlihat penuh harap menanti penumpang. Saat itu delmannya sudah berada pada antrean kedua dari depan. Sebentar lagi gilirannya untuk dapat mengangkut penumpang. "Di sini aturannya seperti itu, harus antre untuk mendapatkan penumpang," ujar Tias, pemilik delman yang mangkal di pertigaan Swadarma, Ulujami, Jakarta Selatan, Senin (24/5).

Walaupun sekarang lebih sulit mendapatkan penumpang, menurut Tias, di Ulujami masih terdapat sekitar 40 delman beroperasi. "Kami harus bersaing dengan puluhan tukang ojek. Belum lagi bus yang ngetem di dekat sini," katanya.

Memang, sekitar sepuluh meter dari pangkalan delman tersebut terdapat puluhan tukang ojek. Tepat di lampu merah pertigaan Swadarma itu, bus-bus Kopaja 609 pun ngetem menunggu penumpang.

Di Jakarta, delman seperti juga becak, memang bukan angkutan kota. Dalam peraturan daerah mengenai angkutan, kereta berkuda itu tidak termasuk moda angkutan umum. Toh delman sebagai alat transportasi di Jakarta, masih saja bertahan.

"Rata-rata sehari bisa dapat Rp 20.000," kata Tias soal penghasilannya sebagai sais delman. Mungkin karena masih ada yang memerlukan itulah maka delman masih bertahan, meskipun makin terjepit oleh angkutan yang lebih modern.

Delman Tias dan puluhan lainnya yang mangkal di Swadarma itu melayani rute dari pertigaan Swadarma sampai ke perempatan Srengseng. Pertigaan Swadarma menjadi pangkalan delman sejak jalan itu dilebarkan dua tahun lalu. Sejumlah delman terlihat berjajar di pinggir jalan setiap hari, dari pukul 07.00 hingga 20.00.

Tias lebih lanjut menuturkan, tidak selalu menunggu sampai bangku delmannya terisi penuh untuk mengangkut penumpang. "Menunggu sampai penuh sekarang ini agak lama, jadi satu atau dua penumpang yang ada langsung jalan," kata Tias yang pernah bekerja sebagai kuli bangunan itu.

Mashur (59), juga mengakui makin sulitnya mendapatkan penumpang. Mashur menjadi sais delman sejak 1965. "Tahun 1970-an, enak, masih jarang kendaraan umum. Sekarang ojek dan bus umum suka merebut sewa," ujarnya.

Kendati makin susah mendapatkan penumpang, ia mengaku masih bisa memperoleh Rp 30.000 sampai Rp 35.000 dalam sehari. Dengan menarik delman, ia mengaku sampai sekarang masih dapat menghidupi keluarganya dan membesarkan sepuluh anaknya.

Kini Mashur telah memiliki dua delman, hasil dari menarik delman selama puluhan tahun. "Satu lagi dipakai anak paling tua," ia menambahkan.

Mashur tidak menetapkan harga secara pasti bagi penumpangnya. Kebanyakan penumpang memberinya Rp 1.000 hingga Rp 5.000. "Tergantung dari penumpang. Jika lagi royal, penumpang bisa memberi Rp 5.000," katanya.

Para penumpang delman di kawasan Ulujami itu kebanyakan pedagang. Kokom (22), pedagang rokok, misalnya, mengaku sering menggunakan jasa delman. Delman menurutnya lebih murah dibandingkan bus umum. "Ongkos lebih murah, cuman seribu, walau kadang tercium bau nggak sedap dari kotoran kuda," ujar Kokom, yang membuka kios rokok di dekat pertigaan Swadarma.

Yahya (31), pegawai swasta, juga mengaku terkadang masih menggunakan jasa delman karena nyaman. "Nggak kebut-kebutan seperti bus umum," ujar warga Petukangan Utara itu, memberi alasan.

Pemilik delman seperti Tias dan Mashur masih bertahan karena memang ada penawaran atau konsumen yang menggunakan jasa delman. Selain beroperasi tiap hari di sekitar Ulujami, Tias maupun Mashur mendapatkan tambahan bila ada yang mengadakan hajatan atau sewaktu mendekati Hari Raya Lebaran. "Kalau lagi ramai saya bisa dapat sekitar Rp 50.000 sehari," kata Tias yang membeli delmannya seharga Rp 3,5 juta.

Sedangkan Mashur, setiap hari Minggu, mengaku sering mangkal di Taman Bintaro. Menurutnya, teman-teman sesama penarik delman juga melakukan hal yang sama. "Hari minggu biasanya delman-delman di pertigaan Swadarma ini mangkalnya di Monas atau Taman Ria Senayan. Saya memilih mangkal di Bintaro," ujarnya.

Di tempat-tempat yang disebut Mashur tadi, penumpang delman adalah mereka yang ingin bernostalgia atau menikmati nikmatnya naik delman.

NOFANOLO ZAGOTO


Last modified: 28/5/04