ILA membaca berapa besar tiras koran-koran di Tanah Air, bila membaca berapa buku yang terjual di toko buku, bila kita menghitung jumlah orang yang datang ke perpustakaan, maka tampak bagi kita bangsa ini belum suka membaca. Tradisi lisan masih begitu mengakar dalam masyarakat kita. Semua pementasan kesenian tradisional kita bertumpu pada budaya lisan. Budaya juga diwariskan kepada generasi berikut dengan tradisi lisan. Kekuatan memori jadi andalan utama. Banyak bukti bahwa suatu budaya hilang karena narasumbernya telah berpulang sebelum sempat mewariskan pengetahuannya kepada yang lebih muda.
Gerakan dan berbagai upaya untuk meningkatkan minat membaca telah dilakukan. Hasilnya tetap belum memuaskan. Ketika budaya membaca kita belum kuat, telah datang budaya nonton lewat sejumlah stasiun televisi. Nonton gratis pula sepanjang dua puluh empat jam. Maka muncul anggapan, televisi telah menyediakan semuanya, untuk apa membaca lagi? Kita belum mempraktikkan televisi kabel alias mau nonton bayar dulu. Budaya nonton itu tak lain adalah budaya lisan juga. Stasiun-stasiun televisi kita telah berhasil merangkai sejumlah mata acara yang menarik. Malah soal hantu dan setan pun bisa jadi tayangan menarik.
Karena kita sering menonton, kita sebenarnya kekurangan imajinasi dalam menyiasati hidup ini. Menonton cenderung membuat kita pasif. Hanya bisa menerima dan meniru. Tidak demikian kalau kita membaca. Membaca membangunkan imajinasi, merangsang untuk berpikir lebih lanjut, dan membuat kita jadi lebih reflektif, tidak reaktif. Celakanya, sekolah-sekolah yang mestinya menjadi rumah yang indah bagi dunia membaca, justru masih kurang sekali mendorong anak didiknya membaca. Satu dua skolah, oke memang. Lainnya? Mari kita bertanya, berapa buku yang dibaca oleh siswa SMA, misalnya? Jangan-jangan tak satu buku pun tamat dibaca.
Budaya lisan itu kini sedang dipertontonkan dengan ''gagah perkasa'' dalam keriuhan kampanye pemilihan presiden dan wakilnya; sebelumnya dalam kampanye pemilu legislatif. Semua capres/cawapres bicara tentang platform. Misi dan visi. Tetapi itu hanya omongan, hanya jurus silat lidah di gelanggang politik. Kita tidak mendapatkan tawaran rencana kerja yang jelas. Misalnya, di bidang pajak mau bikin apa. Rincian itu sangat penting karena - seperti kata orang Jerman - setan ada dalam rincian. Ketika memakai GBHN yang telah tersusun rapi dan bagus, para petinggi ini masih bisa menyeleweng. Kita jadi cemas, akan jadi apa negara tanpa platform yang jelas.
Sejarah telah menunjukkan, kemajuan selalu bermula dari budaya literer. Kita juga ingin maju dan berharap banyak dari pemimpin yang akan berlaga 5 Juli 2004 agar kita cepat keluar dari berbagai masalah yang tak pernah berhenti melilit kita. Kita tidak memerlukan lagi politik lisan, tapi politik literer. Kita bisa memulainya dengan membikin platform yang jelas dan rinci. Bukan garis besar saja. Apalagi bukan hanya diomongkan. Bukankah bangsa yang membaca akan lebih cepat maju?
(Komentar ke willy@suarapembaruan.com)