SINGAPURA dan Amerika Serikat (AS) telah membentuk sebuah pusat studi baru untuk mempelajari dan mengontrol virus-virus baru, kata seorang pejabat senior Singapura, Selasa (27/4).
Menurut pejabat itu, pusat studi ini sengaja didirikan menyusul meningkatnya ancaman para ilmuwan "nakal" yang mengeksploitasi manfaat dan kegunaan temuan medis untuk menciptakan virus-virus bioteknologi baru.
Pusat studi baru yang bernama The Regional Emerging Diseases Intervention Center (REDI) didirikan untuk mencegah berbagai ancaman baru berkaitan dengan penyebaran virus, kata Menteri Koordinator Keamanan Singapura, Tony Tan.
"Bahkan ketika kami berusaha melawan risiko penyakit, ancaman ilmuwan nakal atau organisasi-organisasi teror yang menciptakan virus biologi melalui kombinasi teknologi DNA, kami kewalahan," katanya.
Pusat studi baru ini didirikan bersama oleh Singapura, Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit AS, dan Badan Makanan dan Obat-Obatan AS. Pusat studi ini bertempat di fasilitas penelitian biomedis Singapura.
Pekan lalu, Tan bertemu Menteri Pertahanan AS, Donald H Rumsfeld di Washington dan mengikuti seminar tentang "Al-Qaeda dan Jaringan Jemaah Islamiyah (JI) di Asia Tenggara."
Dalam kesempatan itu Tan mengatakan, "Sebuah serangan kimia atau biologi ke sebuah negara kecil seperti Singapura, akan berdampak sangat besar. Kami dalam hal ini membutuhkan pengetatan terhadap penyalahgunaan teknologi."
Sejak 2001, Singapura diketahui sangat dekat dengan Washington. Negara jiran itu dilaporkan sangat maju dalam perang melawan terorisme. Saat ini, Singapura menahan 37 anggota JI yang berencana menyerang Kedutaan AS, pangkalan laut AS dan berbagai target barat di Singapura. (AP/L-8)
Perluasan Uni Eropa (UE) yang keanggotaannya akan menjadi 25 negara pada 1 Mei 2004 mendatang akan memberi pengaruh positif bagi Indonesia. Uni Eropa tidak akan menjadi benteng baru yang menghadang kerja sama yang telah dipupuk sebelumnya.
"Ketakutan bahwa Eropa akan menjelma sebagai benteng baru tidak beralasan," tukas Ketua Delegasi Komisi Eropa di Indonesia, Sabato Della Monica, dalam penjelasan kepada pers tentang perluasan Uni Eropa, di Jakarta, Senin (26/4).
Dalam kesempatan itu, hadir pula para duta besar dari negara-negara yang akan bergabung ke Uni Eropa masing-masing, Dubes Ceko Jaroslav Vesely, Dubes Hongaria Gyorgy Busztin, Dubes Polandia Krzysztof Szumski, Dubes Slovakia Peter Holasek dan Dubes Belanda Ruud Treffers yang mewakili troika Uni Eropa.
Sebagaimana diketahui, kesepuluh negara itu akan bergabung dengan Uni Eropa pada 1 Mei. Ke-10 negara tersebut adalah Polandia, Hongaria, Ceko, Slowakia, Slovenia, Estonia, Latvia, Lithuania, Siprus dan Malta.
Menurut Della Monica, memang hubungan perdagangan tradisional harus disesuaikan tetapi peluang bisnis baru pun akan bermunculan. Peluang ini bisa diraih oleh para eksportir Indonesia.
Lagipula, dia memastikan, Uni Eropa yang diperluas akan tetap menjadi kekuasaan "lunak" yang diperlengkapi dengan kemampuan yang unik.
Dengan perluasan ini, Uni Eropa akan terus memperjuangkan agenda perundingan Doha, setelah belajar dari kegagalan perundingan WTO di Cancun. Selain itu Uni Eropa pun melalui kekuasaan akan berusaha agar negara-negara berkembang tetap memiliki peluang yang adil sehingga memperoleh manfaat dari perdagangan global.
Perluasan Uni Eropa akan tetap berusaha mengupayakan pengelolaan dunia yang lebih bertanggung jawab, melalui sikap multilateral seperti Protokol Kyoto untuk melawan pemanasan global, pengadilan pidana internasional, dan peranan utama untuk PBB pasca invasi di Irak. Dengan penambahan anggota ini, Uni Eropa akan menjelma menjadi pasar terbesar yang bisa diakses mitra-mitranya termasuk Indonesia.
Sementara itu Dubes Hongaria menandaskan, Hongaria akan menjadi jembatan bagi Uni Eropa. Dan sebaliknya, negeri ini pun akan menjadi jembatan buat negara-negara lain di luar Uni Eropa, seperti hubungan Indonesia dengan Hongaria yang sudah lama akan terus digencarkan. Komisi Gabungan Hongaria-Indonesia yang telah bertemu di Jakarta pada Januari lalu telah menegaskan akses pasar Uni Eropa merupakan wilayah yang sangat besar. Di sini Hongaria bisa membantu Indonesia untuk masuk menuju Uni Eropa.
Sedangkan Dubes Ceko melihat, bergabungnya Ceko ke Uni Eropa tidak hanya berkaitan dengan isu-isu bilateral dengan Indonesia, tetapi juga isu yang lebih besar, yakni hubungan Ceko dengan ASEAN, Asian Europe Meeting (ASEM).
Republik Ceko tertarik untuk menjadi partisipan proses ASEAN karena mengingat dimensi ekonomi dari kerja sana ASEM ini. (Y-2)