JERUSALEM - Israel akan mengambil tindakan terhadap pemimpin Palestina Yasser Arafat, yang tak pernah keluar dari markas besarnya di Tepi Barat selama lebih dari dua tahun, ungkap Perdana Menteri Israel Ariel Sharon kepada publik, Kamis (1/4). Televisi Israel melaporkan, komentar Sharon tersebut mencuat dalam serangkaian wawancara menyambut Hari Raya Yahudi, Paskah.
Sharon mengatakan, Arafat tidak dapat terus bertahan di tempat ia sekarang berada selamanya. "Arafat tidak bisa terlalu yakin atas dirinya di tempat dia berada sekarang," ungkap Sharon seperti ditirukan Ynet, situs milik Harian Yediot Ahronot. Ditambahkan, tidak tertutup kemungkinan bahwa Israel akan mengambil tindakan terhadap Arafat di masa yang akan datang. Setelah kematian pemimpin spiritual Hammas, Sheikh Ahmed Yassin, ancaman serangan Israel berikutnya ditujukan kepada Arafat.
Kabinet Israel sebelumnya menyatakan, Arafat bertanggung jawab atas munculnya kekerasan di Palestina, sehingga ia harus disingkirkan. Sejumlah menteri kabinet Israel juga berulang kali meminta pembunuhan atau pengusiran Arafat.
Sementara itu, para diplomat AS meyakinkan para pejabat Palestina yang merasa ragu-ragu, bahwa rencana Israel untuk melakukan penarikan penduduk dari Jalur Gaza akan membuka peluang bagi diterapkannya "peta jalan" bagi perdamaian di Palestina. Namun para diplomat AS itu, yaitu Steve Hadley dan Elliot Abrams dari Gedung Putih, serta William Burns, utusan Kementerian Luar Negeri AS urusan Timur Tengah, mengatakan, kemajuan dari diterapkannya "peta jalan" akan bergantung kepada upaya Palestina mengatasi kelompok-kelompok militan.
Seperti diketahui, Sharon telah mengajukan proposal penarikan tentara Israel dan para penduduk keluar dari Jalur Gaza dan sebagian kecil Tepi Barat. Sharon mengatakan, Pemerintah Palestina bukanlah partner yang tepat untuk merundingkan perdamaian. Penarikan secara unilateral, menurut Sharon, sangat penting untuk melindungi kepentingan-kepentingan Israel.
Utusan AS menyampaikan pesan itu dalam sebuah pertemuan dengan Perdana Menteri Palestina Ahmed Qureia di Jericho, Tepi Barat, Kamis (1/4). Selanjutnya utusan AS tersebut berbincang selama dua jam dengan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon. Menurut rencana para pemimpin Israel akan bertemu dengan Presiden George W Bush di Washington pada 14 April mendatang.
Rakyat Palestina ingin ada jaminan bahwa rencana penarikan akan menjadi langkah awal bagi penarikan yang lebih besar dari Tepi Barat. Sedangkan Israel meminta dukungan dari AS untuk membatasi keinginan-keinginan warga Palestina itu.
Qureia mengatakan, ia berharap rencana Gaza tidak akan memicu kecurigaan.
"Unilateralisme bukan solusi," kata Qureia.(AP/E-9)