JAKARTA - Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung mengaku makin optimistis meraih kemenangan dan menjadi partai yang berkuasa di Pemilu Legislatif 2004. Itu didasarkan dari kampanye yang berlangsung 21 hari, yang menurut dia, sudah bersuasana seperti kampanye di Pemilu 1997, ketika partai itu meraih mayoritas tunggal di akhir rezim Orde Baru dengan perolehan suara 74,51 persen.
"Memang, perolehan suara tidak akan seperti Pemilu 97, tetapi pasti lebih besar dibanding Pemilu 1999, dan target 30 persen pasti diraih. Jadi kami yakin akan memenangkan pemilu ini," katanya dalam jumpa pers akhir kampanye di DPP Partai Golkar, Jakarta, kemarin. Turut hadir dalam jumpa pers itu Sekjen partai tersebut Budi Harsono, Ketua Panitia Kampanye yang juga wakil Sekjen Bomer Pasaribu dan Bendahara MS Hidayat yang juga ketua umum Kadin Indonesia.
Sangat Banyak
Indikasi lain, tutur Akbar, yakni permintaan kaos Golkar yang selama kampanye ini melebihi persediaan yang ada. Disebutkannya, di Pemilu 1999, jumlah kaos yang tersisa sangat banyak dan tidak sedikit kader yang malu dan takut mengenakannya. Dengan begitu, sambungnya, cita-cita Partai Golkar merebut kembali kekuasaan yang lepas pada Pemilu 1999 besar kemungkinan dapat dilakukan.
Hidayat mengungkapkan, dana yang dikeluarkan Partai Golkar selama kampanye mencapai Rp 82 miliar. Angka ini lebih kecil dibanding pada Pemilu 1999 yang mencapai Rp 108 miliar. "Rinciannya, seperti siapa penyumbangnya, sudah kami laporkan dan serahkan kepada KPU (Komisi Pemilihan Umum), Rabu malam, dan itu bisa ditanyakan kepada KPU," katanya seraya menyebutkan, saldo dana kampanye tinggal Rp 700 juta.
Ditanya soal Aliansi untuk Perubahan yang akan menghadang koalisi Partai Golkar dan PDI Perjuangan, Akbar mengemukakan, hal itu sah-sah dilakukan orang. "Itu hak masing-masing orang untuk melakukannya, silakan saja saya kira," ujarnya.
Pergerakan Indonesia
Menurut dia, partainya sudah lama menyatakan akan berkoalisi dengan parpol mana saja sepanjang memiliki kesamaan platform, program dan pembagian kekuasaan yang disepakati.
Sementara beberapa ketua umum parpol peserta Pemilu 2004, budayawan, pengamat politik dan kalangan yang kritis terhadap pemerintahan mengadakan pertemuan kemarin malam di Jakarta. Dalam acara yang dipandu Faisal Basri dari Pergerakan Indonesia itu, muncul pemikiran perlunya mengimbangi kemungkinan koalisi Partai Golkar dan PDI Perjuangan. Jika kedua partai ini berkoalisi dan tampil lagi sebagai penguasa, dipastikan tidak ada perubahan yang berarti di Indonesia.
Hadir dalam acara itu antara lain Presiden Partai Keadikan Sejahtera Hidayat Nurwahid, Ketua Umum PKPI Edi Sudradjat, Nurcholish Madjid, Teten Masduki, Budiman Sudjatmiko, budayawan Ahmad Tohari, Emha Ainun Nadjib, Harry Roesli, dan Franky Sahilatua. Menurut Emha, Partai Golkar dan PDI Perjuangan sebenarnya adalah sama, yakni kelompok Orde Baru yang berbajukan reformasi. (Y-3)