SUARA PEMBARUAN DAILY

Alat Bantu Tunanetra untuk Ikut Pemilu Tak Lengkap

JAKARTA - Huruf braille, sebagai alat bantu untuk para tunanetra untuk bisa mencoblos pada Pemilu 2004 terbatas hanya untuk memilih presiden dan wakil presiden. Sedangkan untuk Partai Politik dan Caleg tidak disediakan. Hal itu terjadi karena penyampaian sarana untuk tunanetra ini ke KPU agak terlambat.

Demikian dikatakan Ketua Panitia Pemilu Akses Penca 2004 (LSM yang dipercaya KPU untuk mensimulasi orang cacat untuk ikut Pemilu), Ariani Abdul Mun'im kepada wartawan di sela-sela acara simulasi Pemilu 2004 untuk 30 tunanetra Panti Sosial Bina Netra Cahaya Batin, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (31/3).

"Kita sudah mengusulkan huruf braille ke KPU. Namun, waktunya mepet," kata Ariani. Ariani mengatakan, untuk mengatasi itu, dalam Pemilu anggota Dewan, 5 April 2004, para tunanetra akan didampingi pendamping. Pendamping akan membacakan nama partai dan caleg di depan tunanetra supaya si tunanetra yang didampingi bisa memilih sesuai kata hatinya.

Menurut Ariani, tunanetra bebas memilih pendamping. "Namun, sebelum mendampingi si tunanetra, pendampingnya harus membuat surat pernyataan kepada petugas bahwa dia tidak mempengaruhi si tunanetra pada saat mencoblos," kata Ariani. Kalau si tunanetra belum ada pendamping sampai saat-saat pencoblosan, maka tunanetra itu akan didampingi petugas.

Pada saat simulasi, 30 tunanetra itu terlihat kikuk dan gagap. Dari balik bilik suara, mereka meraba-raba surat suara yang besarnya mirip dua halaman koran itu.

Para tunanetra calon pemilih Pemilu 2004 semuanya hampir tahu semua 24 Parpol dan calon-calon presiden. Mereka mendengar dari radio. "Saya tahu PDI-P, PAN, PKB, PKS, Golkar, PDK dari radio," kata Muhamad Amien (32), seorang tunanetra. Amien juga menyebut sejumlah nama calon presiden, seperti Megawati Soekarnoputri, Gus Dur, Amien Rais dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (E-8)


Last modified: 2/4/04