SUARA PEMBARUAN DAILY

Pemerintah dan Parpol Tidak Hargai Pusaka Nasional

Pembaruan/YC Kurniantoro -- Syamsul Anwar Harahap

JAKARTA - Mantan petinju amatir nasional yang juga penggiat dan pengamat olahraga, Syamsul Anwar Harahap, menyatakan, rusaknya lapangan Stadion Utama Gelora Bung Karno karena digunakan kampanye partai politik peserta Pemilu 2004 menunjukkan bahwa pemerintah, partai politik, dan komponenya tidak menghargai national heritage (pusaka atau warisan budaya nasional).

"Sebagai atlet yang dibesarkan di Senayan dan telah ikut membesarkan nama bangsa dan negara di sana, saya menangis melihat 'perusakan' itu. Saya pertanyakan di mana moral mereka," kata Syamsul kepada Pembaruan di Jakarta, Jumat (2/4).

Dia ingatkan bahwa Gelora Bung Karno dibangun dengan banyak pengorbanan. Masyarakat yang semula tinggal di kawasan itu merelakan tempat tinggal dan kebun mereka digusur untuk pembangunan fasititas olahraga itu pada awal tahun 1960. "Kita seharusnya bangga mempunyai Gelora Bung Karno yang megah dan besar. Tapi bagaimana stadion bisa 'dirusak' seperti itu oleh kepentingan sesaat orang-orang yang mabuk kekuasaan?" tanya Syamsul dengan nada sedih.

Lebih dari itu, dia juga mengingatkan bahwa penggunaan Gelora Bung Karno untuk kepentingan politik sesaat tanpa mengindahkan risiko kerusakannya juga menunjukkan sangat minimnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap olahraga. Masyarakat hanya bisa mencacai-maki ketika prestasi atlet-atlet nasional merosot. Ironisnya fasilitas olahraga malah "dirusak" ketika Indonesia sangat memerlukan terobosan untuk memajukan prestasi atlet-atletnya sekarang, jelas Syamsul.

Sebagai mantan atlet nasional yang dibesarkan di Senayan, Syamsul menyatakan sangat bangga dengan fasilitas yang lengkap itu. "Saya merasakan bagaimana kami para atlet bersatu padu berlatih dan bertarung di Senayan demi kebesaran nama bangsa dan negara. Saya masih ingat hari-hari di perkampungan atlet bersama rekan-rekan seangkatan, di antaranya Rudy Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, dan lain-lain. Mereka pasti sedih melihat Gelora Bung Karno diperlakukan seperti itu," kata dia dengan suara sedikit bergetar.

Gelora Bung Karno dibangun awal 1960 untuk persiapan menyelenggarakan Asian Games IV 1962. Kompleks olahraga seluas hampir 300 hektare ini tergolong yang terlengkap dan termegah di Asia. Stadion Utama dengan konstruksi atap temu gelang dan kapasitas tempat duduk hingga 110.000 merupakan salah satu stadion terbesar di dunia. Di tempat ini pernah digelar Games of New Emerging Forces (Ganefo) tahun 1963, yaitu pesta olahraga negara-negara yang sedang berjuang melawan dominasi negara-negara maju.

Wilayah Gelora Bung Karno juga meliputi gedung DPR-MPR, Manggala Wana Bhakti (Departemen Kehutanan), perkantoran TVRI. Kawasan olahraga yang dibangun oleh Presiden pertama RI, Bung Karno, dalam perkembangannya telah diselewengkan oleh banyak pihak. Kegiatan yang dilakukan di sana bukan lagi hanya olahraga, tetapi juga bisnis dan politik. Misalnya pembangunan Hotel Hilton dan apartemennya, Hotel Century Park, Balai Sidang, Hotel Mulia, Plaza Senayan dan apartemennya.

Bahkan parkir timur yang sangat luas untuk fasilitas parkir kendaraan penonton, telah diselewengkan untuk kaki lima, belajar mengemudi, tempat pameran, dan malahan diubah fungsinya menjadi taman. Padahal parkir yang luas itu jauh-jauh hari sudah dipikirkan oleh penggagasnya untuk menampung bus-bus, truk, dan kendaraan penonton bila di kawasan itu digelar multikejuaraan semisal PON, SEA Games, atau Asian Games.

Di zaman Orde Baru, bahkan nama Bung Karno sebagai penggagasnya dihapuskan. Nama Gelora Bung Karno diubah menjadi Gelora Senayan oleh pemerintahan Soeharto. Malahan kawasan olahraga itu sempat akan diganti untuk kepentingan bisnis. Sebagai gantinya hendak dibuat kompleks olahraga serupa di Jongggol, Bekasi, dan di sekitar Cileduk, Tanggerang. Namun, rencana itu ditentang banyak pihak dan akhirnya tidak jadi diwujudkan.

Setelah Indonesia berganti presiden hingga Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati Soekarnoputri, belum satu pun yang mampu membangun kompleks olahraga sebesar dan semegah Gelora Bung Karno. Hal ini menunjukkan tidak satu pun pengganti Soekarno memiliki concern dan apresiasi memadai terhadap pembangunan prestasi olahraga nasional. (A-11)


Last modified: 2/4/04