JAKARTA - Kalau saling menjatuhkan pimpinan maka bangsa ini tidak akan mendapat pimpinan yang andal dan berkualitas untuk memimpin bangsa ini.
"Menjatuhkan pimpinan dengan cara tidak demokratis akan menjadi malapetaka bagi bangsa ini. Padahal bangsa ini membutuhkan pemimpin yang punya visi untuk menyelamatkan bangsa,'' kata Wiranto dalam wawancara dengan Pembaruan di atas pesawat dalam perjalanan dari Jakarta menuju Medan, Kamis (1/4).
Dia mempertanyakan, mengapa di Indonesia sekarang terjadi saling menjatuhkan? ''Kompetisi untuk menjadi pemimpin bangsa ini mari kita serahkan kepada masyarakat. Biar rakyat yang memilih pemimpinnya. Sebab ada proses penilaian dari masyarakat untuk mencari yang terbaik menjadi pimpinannya,'' katanya.
Wiranto mengatakan, kita terjebak dan kehilangan energi akibat saling menjatuhkan. "Negara ini benar-benar dalam keadaan SOS. Walaupun di sana sini ada indikator makro membaik, namun sebenarnya kita mengalami kemerosotan yang luar biasa, terutama di bidang hukum," kata jenderal purnawirawan itu.
Wiranto, yang 4 April mendatang genap berusia 57 tahun, mengatakan, kebersamaan sebagai bangsa saat ini merosot jauh dan masyarakat kecewa terhadap penegakan hukum.
Ketika ditanya bagaimana masalah Timor Timur (Timtim), mantan Panglima ABRI itu dengan tegas mengatakan, masalah Timtim sudah dipertanggung jawabkannya secara hukum dan pengadilan di Dili sudah menolak berkasnya tersebut.
"Saya bisa mempertanggung jawabkan secara hukum masalah di Timor Timur tersebut, namun masih saja ada yang mengubek-ubek saya,'' katanya.
Dia menjelaskan, dalam perjalanannya selama menjadi Panglima ABRI dia telah menghilangkan dwifungsi ABRI, memutuskan TNI menjadi netral, menarik TNI dari politik praktis, memisahkan TNI dan Polri serta menghapuskan kekaryaan, dan secara sadar TNI merupakan pengawal reformasi.(A-4)