JAKARTA - Selama minggu tenang ini yang perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya "serangan fajar" atau kecurangan dari perorangan. Karena dalam pemilu kali ini rakyat akan memilih tanda gambar partai dan nama orang, baik itu untuk calon DPR, DPRD, maupun Dewan Perwakilan Daerah (DPD), maka terbuka celah bagi perorangan untuk melakukan "serangan fajar".
"Kami dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) akan menjaga supaya dalam masa tenang ini tidak terjadi 'serangan fajar'. Seperti telah disampaikan oleh Ketua Umum Mbak Mega, kami semua tidak menghendaki adanya tindakan politik uang seperti itu," kata Wakil Sekjen DPP PDI-P Pramono Anung di Jakarta, Jumat (2/4) pagi.
Pramono beberapa kali mengatakan, PDI-P tidak pernah memiliki kebijakan untuk melakukan "serangan fajar". PDI-P tidak akan pernah dan tidak mau melakukan politik uang untuk mencapai tujuan, seperti yang pernah terjadi di masa lalu.
Lebih Cerdas
Pembagian sembilan bahan pokok (sembako), uang, atau bahkan intimidasi, atau sering disebut ''serangan fajar'' tidak akan efektif untuk merebut suara rakyat. Rakyat sekarang lebih cerdas dalam menyalurkan aspirasinya dan sulit dipengaruhi oleh sogokan partai politik.
''Rakyat tidak bisa lagi dibodohi dengan politik uang atau sembako. Rakyat butuh bukti bukan janji-janji parpol,'' kata pakar politik dari Center for Starategic and International Studies (CSIS) T Kristiadi ketika dihubungi Pembaruan, Jumat pagi.
''Kalau mereka (parpol-Red) memberi sembako atau uang kepada rakyat, ya diterima saja. Tetapi, pilihlah parpol sesuai hati nurani. Tetapi, kalau mereka memberikannya dengan meminta komitmen tertentu, sebaiknya dilaporkan ke Panwaslu atau polisi dan mereka bisa dipenjara,'' tegasnya.
Khusus tindakan intimidasi agar memilih parpol tertentu, Kristiadi menyerukan agar rakyat berani melawan tindakan tersebut. Selain itu, tindakan intimidasi harus dilaporkan ke polisi dan diselesaikan sesuai hukum.
''Jangan harap 'serangan fajar' ada efeknya. Rakyat tidak akan terbuai dengan janji-janji kosong serta pemberian uang atau sembako, tetapi kemudian dijajah selama lima tahun,'' ujarnya.
(A-16/M-11)