SUARA PEMBARUAN DAILY

Cina Kecam Amerika Serikat

Presiden Taiwan: AS Malaikat Perdamaian

BEIJING - Menyusul isu penjualan radar AS kepada Taiwan, Beijing mengecam keras Washington karena dianggap mengirimkan "kabar menyesatkan" soal penjualan radar tersebut, Kamis (1/4). Seperti diberitakan, seorang agen Pentagon menyetujui penjualan sistem-radar-peringatan-dini (early warning radar system) senilai US$ 1,7 miliar kepada Taiwan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Kong Quan, tidak mau berkomentar langsung soal penjualan radar ke Taiwan. Namun ia menegaskan, "Kami selalu keberatan dengan penjualan persenjataan mutakhir AS kepada Taiwan."

"Kami akan mendesak AS untuk tetap memegang komitmen mereka, ketimbang mengirim pesan yang menyesatkan kepada pihak berwenang Taiwan," ujar Kong. Cina mengklaim Taiwan sebagai wilayah mereka, dan keberatan atas penjualan persenjataan dari pihak asing kepada pemerintahan baru Taiwan di bawah kendali Presiden Chen Shui-bian. AS sendiri tidak punya hubungan formal dengan Taiwan.

Namun pemasok senjata terbesar di AS berkomitmen membantu Taiwan mempertahankan diri. Pentagon mengatakan, penjualan radar tersebut tidak akan mempengaruhi keseimbangan militer regional, yang dikhawatirkan dapat memicu perlombaan senjata.

Kong menambahkan, Beijing akan meminta klarifikasi dari Pemerintah AS soal penjualan senjata. Cina juga meminta para pejabat AS untuk tidak mengadakan kontak dengan Taiwan.

Sementara itu dari Washington diberitakan, wakil jurubicara Kementerian Luar Negeri AS, Adam Ereli mengatakan, pihaknya belum menerima pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Cina soal penjualan radar tersebut. Ereli mengatakan, sistem radar itu memungkinkan Taiwan mempertahankan diri dari serangan rudal.

Ereli menambahkan, AS akan tetap memenuhi kebutuhan-kebutuhan pertahanan diri Taiwan.

Menlu Cina Li Zhaoxing, setelah bertemu dengan Menlu AS Colin Powell di Berlin kemarin, pihaknya mendesak Washington untuk menolak kemerdekaan Taiwan. Kantor berita Cina, Xinhua melaporkan, Li bersikeras bahwa pemilihan Presiden Taiwan bulan lalu tidak mengubah fakta bahwa Taiwan adalah bagian dari Cina.

Taiwan memisahkan diri dari Cina sejak tahun 1949. Beijing mengancam akan melakukan invasi apabila Taiwan menyatakan kemerdekaan mereka. Ratusan rudal milik Cina telah disiagakan ke arah pulau itu.

Li mengatakan, Taiwan adalah persoalan paling sensitif dan penting menyangkut hubungan antara Cina dengan AS. Powell sendiri menegaskan, Washington masih tetap memegang "kebijakan satu Cina", dan tidak akan mendukung langkah-langkah kemerdekaan Taiwan.

Malaikat Perdamaian

Di tengah merebaknya ketegangan, Presiden Taiwan Chen Shui-bian berharap agar AS bisa memainkan peranan yang aktif, konstruktif, pada periode kedua kepemimpinannya. "AS bisa menjadi jembatan perdamaian, membantu memfasilitasi kontak, dialog dan konsultasi antara Cina-Taiwan. AS bisa menjadi malaikat perdamaian," ungkap Chen seperti dikutip Asia Wall Street Journal, Kamis (1/4).

Chen juga mengatakan, cita-citanya yang terpenting adalah mencapai perdamaian dengan Cina. "Dan tentu saja kami tidak akan menarik negara mana pun, khususnya AS, terlibat dalam konflik di Selat Taiwan," kata Chen.

Hubungan antara Washington dan Beijing memburuk sejak pekan lalu. Cina menangguhkan dialog hak asasi manusia secara bilateral pekan lalu, setelah AS mengatakan akan meminta Resolusi PBB guna mengkritisi Beijing. AS mengatakan, Cina gagal memenuhi janjinya yang diperoleh dalam perundingan tahun 2002. Namun kedua belah pihak sepakat terlibat dalam perundingan tingkat tinggi selanjutnya.

Wapres AS Dick Cheney rencananya akan berkunjung ke Cina bulan April ini. Sedangkan Wakil Perdana Menteri Cina Wu Yi akan bepergian ke AS untuk menghadiri pertemuan dengan komisi perdagangan Cina-AS. (AP/E-9)


Last modified: 2/4/04