SUARA PEMBARUAN DAILY

Kupas Tuntas Calon Presiden

"Menelanjangi" Capres Tanpa Misi Kampanye

Pembaruan/Alex Suban

KUPAS TUNTAS - Presiden RI Megawati Soekarnoputri didampingi mantan Menko polkam Susilo Bambang Yudhoyono pada sebuah latihan TNI AL di laut Jawa beberapa waktu lalu. Keduanya diundang dalam acara "Kupas Tuntas Calon Presiden" yang ditayangkan di "Trans TV" setiap Senin pukul 22.30 wib mulai 5 April 2004.

Demokrasi di Indonesia semakin berkembang. Menjelang Pemilihan Presiden RI Periode 2004-2009 pada 5 Juli 2004, Trans TV akan menggelar acara bertajuk Kupas Tuntas Calon Presiden selama tujuh minggu berturut-turut. Tayangan perdana akan digelar pada 5 April dan berlangsung setiap Senin pukul 22.30 WIB hingga 17 Mei dengan durasi selama satu jam. Tayangan ini ditujukan untuk mengedukasi masyarakat seputar calon presiden. Formatnya menelanjangi capres tanpa misi kampanye.

Tujuh calon presiden dipilih untuk tampil di acara ini. Syuting akan dilakukan di tujuh universitas. Untuk tayangan perdana, akan tampil Wiranto, calon presiden dari Konvensi Golkar, berhadapan dengan civitas akademika Universitas Airlangga, Surabaya Jawa Timur. Selanjutnya, berturut-turut adalah Susilo Bambang Yudhoyono (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta), Jusuf Kalla (Universitas Sumatera Utara, Medan), Akbar Tandjung (tempat masih dalam konfirmasi), Siti Hardiyanti Rukmana (Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat), Amien Rais (Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat), dan Megawati Soekarnoputri atau Taufiq Kiemas (masih dalam konfirmasi, Universitas Indonesia, Jakarta).

Menurut Direktur Pemberitaan Trans TV, Riza Primadi, tujuh capres yang ditampilkan dipilih berdasarkan kontroversi masing-masing. Mereka kemudian dihadirkan di depan publik yang bukan merupakan basis kekuatannya. Karena itu, Amien Rais, misalnya, tidak dihadirkan di Yogyakarta, melainkan di Bandung. Para capres bisa mendapat kritikan yang tajam dan menarik sehingga menjadi tayangan menarik sebagai tontonan.

"Kami ingin, para capres ini bisa menjawab keingintahuan masyarakat, terutama dari kalangan mahasiswa. Pasti banyak yang penasaran, kenapa Wiranto atau Mbak Tutut mencalonkan diri sebagai presiden? Kalau capres lain seperti Hidayat Nur Wahid kan orangnya lurus-lurus saja dan tidak kontroversial. Pemilihan perguruan tinggi sebagai lokasi adalah karena kampus merupakan entitas yang paling netral dari kepentingan politik. Kami juga berharap, dialog antara capres dan para hadirin bisa berlangsung kritis dan konstruktif," jelas Riza dalam jumpa pers, di Jakarta Senin (29/3).

Riza menambahkan, ajang ini bukanlah sebagai kampanye masing-masing capres. Ibaratnya, mereka akan "ditelanjangi" di depan forum karena tingkat intelektualitas dan kemampuan retorika masing-masing akan diuji di bawah tekanan publik mahasiswa yang begitu kritis.

"Formatnya tetap seperti Kupas Tuntas reguler, yakni program talkshow dengan liputan mendalam. Untuk visi dan misi tiap-tiap capres, kami tidak akan membiarkan si capres berbicara. Visi dan misi mereka akan kami kemas dalam ringkasan tayangan visual, sehingga tempo acara pun bisa berlangsung dengan cepat. Ini bukan acara debat, tapi mungkin sebagai embrio debat Capres seperti yang ada di luar negeri khususnya Amerika Serikat (AS)," lanjut Riza.

Yang berbeda, Kupas Tuntas Calon Presiden ini ditayangkan secara tunda, tidak secara langsung seperti Kupas Tuntas reguler. Alasan yang diajukan pihak Trans TV lebih menyangkut kendala teknis, bukan kendala politis. Karena Kupas Tuntas memiliki slot tayang malam hari, amat mustahil jika syuting digelar secara langsung di universitas-universitas. Oleh karena itu, syuting pun dilaksanakan setiap Sabtu siang di universitas yang dipilih, kemudian baru disiarkan Trans TV pada Senin malam.

"Tidak ada proses editing dalam syuting ini. Kami menggunakan sistem live on tape. Seluruh yang terjadi pada saat syuting, direkam oleh kamera dan akan disiarkan tanpa edit," jelas Endah Saptorini, produser Kupas Tuntas Calon Presiden.

Pemilihan waktu tayang juga dilakukan seteliti mungkin. Pasalanya tokoh-tokoh yang dihadirkan adalah orang sangat sibuk. Tim produksi mengaku cukup kewalahan dengan pengaturan jadwal. Apalagi, banyak detil yang harus diperhatikan. Untuk para capres yang ikut Konvensi Golkar, misalnya, Trans TV berusaha keras agar mereka bisa tampil sebelum Konvensi digelar. Kupas Tuntas Calon Presiden juga sengaja digelar setelah pemilu legislatif. Sehingga, tayangan ini tidak akan mempengaruhi jumlah suara yang dikumpulkan tiap partai.

Kemudian, ada juga kendala dengan capres yang berasal dari partai baru yang riskan untuk gagal meraup suara minimal tiga persen. Seperti diketahui, para capres baru bisa lolos ke ajang Pemilihan Presiden jika partai yang mencalonkan mereka bisa mendapatkan suara sebanyak minimal tiga persen. Dalam jajaran capres yang dihadirkan Trans TV, terdapat dua nama, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Mbak Tutut .Untuk ini, tim produksi menyiasati dengan dua cara.

"SBY sengaja kami tampilkan di minggu kedua April. Kami prediksi, saat itu hasil penghitungan suara dari KPU belum selesai, sehingga kalaupun Partai Demokrat tidak bisa meraih suara tiga persen, setidaknya SBY sudah ditayangkan dalam Kupas Tuntas Calon Presiden. Sementara itu, kami cukup yakin bahwa Mbak Tutut bisa lolos ke pemilihan Presiden. Kalaupun dia gagal, kami sudah ada cadangan, yakni Capres dari PKB, Gus Dur. Saat ini, Gus Dur tidak kami pilih karena belum ada kejelasan dari KPU, apakah Gus Dur layak dicalonkan atau tidak, dengan kendala kesehatannya," jelas Rizal Mustari, host Kupas Tuntas.

Kontroversial

Selain itu, karena para capres yang dihadirkan cukup kontroversial, seperti Wiranto, Mbak Tutut dan Akbar Tandjung, tim produksi juga mengaku cukup pusing dengan pengaturan lokasi. Negosiasi pun tidak hanya dilakukan dengan para capres yang akan tampil saja, tapi juga dengan rektor dan civitas academia universitas yang diplot untuk lokasi syuting. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pihak Trans TV dan rektor masing-masing universitas sudah meneken perjanjian tertentu.

Rizal Mustari mengakui, anggaran yang disiapkan untuk acara ini memang cukup besar. Untuk tujuh episode saja, tim produksi diprediksi bakal menghabiskan sekitar 1,5 miliar rupiah. Namun, ini tak berarti serta merta Trans TV membuka kesempatan kepada salah satu capres untuk mensponsori acara ini. Dengan menjunjung tinggi konsep idealisme, Rizal tidak mau ada sepeser pun uang para capres yang terpakai untuk biaya produksi.

"Mulai dari hotel, akomodasi dan transportasi, semua kami yang membayar. Pihak capres kami perlakukan sebagai bintang tamu biasa. Kami tidak mau menerima uang sepeser pun sehingga kami bisa didikte. Tayangan ini kan bertujuan untuk "menguliti" si capres, bukan kampanye mereka. Untuk slot iklan, kami membuka kepada siapa saja yang ingin beriklan. Kalau acara ini sukses, tak tertutup kemungkinan kami akan memperpanjangnya menjadi lebih dari tujuh episode," lanjut Rizal. (ID/W-8)


Last modified: 2/4/04