JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Maret 2004 mencatat terjadinya inflasi 0,36 persen. Penyebab meningkatnya inflasi adalah pengeluaran partai politik (parpol) untuk keperluan kampanye, terutama pembelian bahan-bahan pakaian. Selain pengaruh pengeluaran kampanye, inflasi turut dipengaruhi oleh kenaikan harga pada semua kelompok barang.
Menurut Kepala BPS Soedarti Surbakti di Jakarta, Kamis (1/4), kelompok barang dan jasa yang mengalami kenaikan harga yakni kelompok bahan makanan sebesar 0,14 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,38 persen, kelompok perumahan, air listrik, gas, dan bahan bakar 0,67 persen, kelompok sandang 0,18 persen, kelompok kesehatan 1,10 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,15 persen, serta kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,18 persen.
Dari 45 kota yang disurvei, Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat 33 kota mengalami inflasi dan 12 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Padang Sidempuan sebesar 2,03 persen, sedangkan inflasi terendah di Ambon 0,04 persen. Sedangkan, deflasi terbesar terjadi di Pangkal Pinang 2,21 persen, dan deflasi terkecil di Pekan Baru 0,03 persen.
Sementara itu, laju inflasi tahun kalender yakni periode Januari-Maret 2004,tercatat sebesar 0,91 persen. Sedangkan inflasi year on year yakni inflasi Maret 2004 terhadap Maret 2003 sebesar 5,11 persen.
Ekspor-Impor
Dalam kesempatan itu, Soedarti juga menjelaskan, penurunan nilai ekspor pada bulan Februari 2004 tercatat sebesar 2,64 persen menjadi US$ 4,90 miliar atau turun dari ekspor bulan Januari yang mencapai US$ 5,03 miliar. Selain nilai ekspor bulanan, secara kumulatif ekspor Januari-Februari 2004 juga turun tipis 0,42 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan ekspor pada bulan Februari 2004 disebabkan oleh menurunnya ekspor nonmigas 1,93 persen menjadi US$ 3,76 miliar dari posisi bulan sebelumnya sebesar US$ 3,83 miliar. Demikian juga dengan ekspor migas yang mengalami penurunan 4,94 persen dari US$ 1,197 miliar menjadi US$ 1,138 miliar.
Sementara itu, impor Indonesia pada Februari 2004 mencapai US$ 2,89 miliar atau meningkat 5,36 persen dibanding impor bulan sebelumnya yang mencapai US$ 2,75 miliar. Sedangkan secara kumulatif hingga Februari 2004, nilai impor mencapai US$ 5,64 miliar atau naik 1,46 persen dibanding periode yang sama tahun 2003 sebesar US$ 5,56 miliar. Impor nonmigas tercatat sebesar US$ 2,12 miliar atau naik 3,33 persen. Impor selama Januari-Februari 2004 mencapai US$ 4,17 miliar atau turun 1,34 persen. (BD/N-3)