
Judul: Mencari Autentisitas Dalam Kegalauan
Penulis : Prof Dr A. Syafii Maarif
Penerbit: Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP) Jakarta, 2004
Tebal: 239 halaman
Buku di tengah Kegalauan yang ditulis oleh Prof Dr Syafii Maarif benar-benar mampu menampilkan kekuatan seorang Syafii Maarif yang dengan tajam, tepat, padat menukik dan bernas mampu membahasakan berbagai persoalan yang mendera bangsa sekaligus menawarkan solusi. Dalam bagian awal buku yang merupakan pengantar dari buku ini, ia dengan lugas memetakan berbagai persoalan yang digumuli bangsanya, yang membuat ia pesimistis. Ia punya alasan kuat untuk menyatakan sikap pesimistis: kursi kepemimpinan disesaki para "politikus rabun ayam" yang mengutamakan kepentingan pribadi dan mengorbankan kepentingan bangsa; pendidikan dipinggirkan, ekonomi dijadikan panglima, sementara itu pendidikan terkadang menghasilkan calon koruptor dan pengangguran; kemiskinan absolut mendera warga bangsa sementara konglomerat dan mafia menikmati surga di negeri ini.
Di tengah-tengah realitas kemajemukan dengan suasana yang diwarnai kecurigaan, Pak Maarif mendorong penumbuhan sikap keberagamaan yang tulus. Ketulusan sejati sulit dijumpai dalam peradaban modern yang sekuler dan ateistis namun agama tentu tidak akan menyerah pada sekulerisme. Agama tetap akan menjadi sumber lahirnya ketulusan,bahkan kejujuran.
Menarik digarisbawahi catatan Pak Maarif bahwa ketulusan dan kejujuran mampu membuat hubungan lintas agama bertumbuh dengan baik. Ia mengangkat kembali cerita terjalinnya persahabatan erat tokoh-tokoh Islam: Natsir, Prawoto Mangkusasmito dengan tokoh-tokoh Protestan & Katolik : Herman Yohannes, A.M. Tambunan, J. Leimena, I.J. Kasimo pada masa revolusi kemerdekaan dan sesudahnya. Walaupun akhirnya J. Leimena terkooptasi oleh Sukarno, kata Maarif, tetapi tetap tidak mengurangi hormat umat Islam kepadanya. Memori-memori manis tentang hubungan tokoh-tokoh Islam dan Kristen itu sayangnya semakin menghilang di kalangan generasi berikutnya. Menurut Pak Maarif pluralisme agama dan budaya sejak ribuan tahun sudah merupakan fakta dalam sejarah, sebab itu harus diakui, dihormati dan disyukuri, karena realitas itu memperkaya bangunan kemanusiaan universal. Bagaimana pandangan Pak Maarif, tentang Negara Islam? Menurutnya, gagasan Negara Islam lebih banyak disebabkan oleh sikap reaktif umat terhadap perkembangan politik abad ke 20 bukan oleh kesungguhan untuk menciptakan sebuah tatanan kehidupan Islami yang komprehensif, utuh dan substansial.
Kita tak boleh sembrono dengan mengganggas Negara Islam jika perangkat lunaknya tidak disiapkan secara matang. jangan terpaku dan terpukau pada bentuk dan kulit sementara isinya keropos, semrawut, penuh korupsi. Umat Islam harus berpikir dalam, luas, cerdas dan integratif hingga lebih berorientasi pada substansi bukan pada kulit dan bentuk. Menurut Maarif, Pasal 29, ayat 1, dan 2 UUD 1945 telah memberi peluang lebar bagi umat Islam untuk melaksanakan ajaran agama seluas dan sebebas mungkin. Maarif mempertanyakan apabila 7 atau 8 kata telah tercantum dalam UUD kita perlu membentuk polisi shalat dan polisi puasa untuk mengawasi umat yang belum melaksanakannya: Tidakkah diperhitungkan bahwa umat Islam yang belum merasa santri akan lari mencari agama lain yang dianggapnya lebih ringan? Maarif mengingatkan pesan Bung Hatta untuk memakai filsafat garam: taktampak tapi terasa, bukan filsafat gincu: tampak tapi tak terasa.
Bung Hatta menginginkan agar nilai-niali Islam dapat menggarami kehidupan budaya bangsa hingga akhlak mulia dan keadilan dapat ditegakkan secara nyata bukan dalam formal retorika politik yang tidak bertanggungjawab.
Pemikiran-pemikiran Pak Maarif melalui 33 tulisan yang dibagi 4 Bab : Autentisitas Agama untuk kemanusiaan, Artikulasi Nilai Islam dalam politik, Bercermin dalam kegalauan bangsa, Membangun tanah harapan Indonesia, merupakan pemikiran segar dan otentik yang dapat menjadi referensi bagi perjalanan kita membangsa menuju masadepan. Pandangan-pandangan yang mengalir dari tokoh pimpinan Muhammadiyah ini layak diresapi dan dihayati oleh setiap warga bangsa. Otokritik terhadap kedirian bangsa, sikap respek dan apresiatif terhadap kemajemukan bangsa, visinya tentang gagasan Negara Islam, penekanan ulang terhadap nilai-nilai luhur agama Islam sebagai rahmatan lil alamin, pemaparan tentang agama sebagai pilar kehidupan bangsa, perwujudan perilaku politik yang bermoral,menjadi sesuatu yang amat bermakna bagi segenap warga bangsa dalam mendisain ulang sebuah Indonesia baru yang benar-benar diberkati Tuhan.
Pengantar Dr William Liddle dalam buku ini yang antara lain menyatakan bahwa "Syafii juga bersikap terbuka kepada masukan dari agama dan masyarakat lain" adalah sesuatu yang tak terbantahkan karena sikap eklektik seperti itu telah lama menjadi bagian dari kedirian seorang Maarif sebagai pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia: Muhammadiyah.
Nilai-nilai otentik dari sebuah Indonesia yang damai, harmoni, gotong royong dan ramah tamah,nilai-nilai otentik dari agama-agama yang mengajarkan cinta kasih, ketulusan; kejujuran; perlu ditegakkan dan dimanifestasikan dalam kehidupan kita membangsa.
Membaca dan meresapi pemikiran tokoh sekaliber Maarif adalah sesuatu yang amat mengesankan, penulis berterimakasih atas kebaikan dan ungkapan tali-silahturahmi yang senantiasa penulis alami bersama Pak Maarif. Tuhan kiranya memberkati kiprah Bapak sebagai tokoh nasional di tengah-tengah kemajemukan bangsa!
Weinata Sairin