GOWA - Upaya pencarian korban tanah longsor di Desa Manimbahoi, Kelurahan Gantarang, dan Kelurahan Bulu'tana, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, mengalami kesulitan karena areal penyebaran tanah longsor lebih dari 20 kilometer dan membentuk daratan baru dengan kedalaman lebih seratus meter.
Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi terus bertambah. Bencana alam Jumat pekan lalu itu tidak hanya menenggelamkan Lengkese, dusun yang sebelumnya damai dengan hamparan sawah menguning dan kebun kentang, tapi juga menyisakan kesimpangsiuran tentang jumlah warga yang diduga tewas tertimbun longsor.
Sebelumnya dilaporkan 32 warga hilang, tapi kini angka itu menjadi 36. Dari jumlah itu baru tiga yang ditemukan tewas, yakni Satting (60), Takbir (30) dan Ibrahim (40). Sedangkan dua orang yang sebelumnya dikabarkan tewas, Raji dan Dea, hanya luka-luka dan masih dirawat di Puskesmas Malino.
Tim penanggulangan bencana yang terdiri dari aparat berbagai instansi sejak Sabtu lalu hanya mampu menyisir hutan di sekitar lereng Gunung Bawakaraeng untuk mencari korban yang kemungkinan selamat atau terluka.
"Kecil sekali kemungkinan bisa menemukan jenazah karena lokasi bencana sudah menjadi daratan dengan timbunan lumpur yang dalam. Pertolongan maksimal hanya bisa kita lakukan dengan mengevakuasi warga yang selamat dan membantu mereka," kata Wakil Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo, Senin (29/3).
Menurutnya, tidak mungkin bisa mengerahkan peralatan untuk menggali timbunan sepanjang puluhan kilometer dengan lumpur yang dalam. Daerah itu memang sudah harus dikosongkan, kata- nya.
Terparah Berdasarkan pemantauan di lokasi bencana, Minggu, kondisi terparah dialami oleh warga Lengkese dan Dusun Bawakaraeng, Desa Manimbahoi. Areal pembibitan tanaman untuk Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) ikut ambles.
Lereng Gunung Bawakaraeng yang ambles itu meliputi pos 7-8 dan 9 yang selama ini dikenal sebagai titik-titik peristirahatan saat melakukan pendakian ke puncak gunung setinggi 2.871 meter dari permukaan laut (dpl) itu.
Rumah-rumah warga yang luput dari musibah ditinggalkan penghuninya dan mereka mengungsi.
Pada Minggu sebagian warga kembali ke desanya untuk mengangkut barang-barangnya ke tempat pengungsian. "Saya tidak mau lagi tinggal di kampung ini Pak. Saya takut," ujar Rabi (34), istri Ibrahim, korban yang tewas.
Sebelum kejadian, Jumat (26/3) sekitar pukul 14.00 Wita, suaminya mengajak
kedua putranya, Zaenal (13) dan Rusdiadi (8), ke sawah. Saat itu Ibrahim sempat mengambil si bungsu Adi yang baru berusia 4 tahun dari gendongan ibunya untuk dibawa ke sawah. Namun, Rabi menolak. "Nanti saya menyusul Daeng dengan Adi, saya mau memasak dulu," kata Rabi waktu itu.
Jumlah warga yang meninggalkan kampungnya hingga Senin pagi terus bertambah, dan kini lebih dari 5.000 orang. Mereka memenuhi lokasi evakuasi yang disediakan.
Sebagian di antaranya mengungsi ke rumah-rumah warga di desa lain yang dianggap aman. Mereka mengaku trauma dan takut akan datangnya longsoran susulan, seperti yang terjadi Minggu sore, meski longsoran yang disertai hujan sore itu tidak separah Jumat lalu.
Tiga Posko
Berdasarkan pemantauan di Posko Pengungsian I di Pattiro, jumlah pengungsi Minggu sekitar 2.000 orang dari tiga dusun di Manimbahoi. Di Posko II di Pallangga/Parang Maha dan Topidi jumlah pengungsi 1.243 orang dan di Posko III Desa Sicini jumlah pengungsi lebih 3.000 orang.
Umumnya mereka meninggalkan desanya karena takut, kata Camat Tinggi Moncong, Syafruddin Ardan.
Menko Kesra Jusuf Kalla yang ditemui Minggu malam seusai memberikan arahan
kepada pejabat Pemkab Gowa sehubungan dengan penanganan musibah itu, mengatakan, para pengungsi tidak seluruhnya dari daerah yang dilanda langsung bencana. Sebagian besar dari mereka hanya karena ketakutan.
"Kita berusaha memulangkan mereka. Warga warga yang tempat tinggalnya tertimbun longsoranakan kita pindahkan ke pemukiman baru," kata Jusuf Kalla. (148)