SUARA PEMBARUAN DAILY

Krisis Pemain Bulutangkis

PBSI Siapkan Program Pembinaan Desentralisasi

JAKARTA - Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) sedang menyiapkan program desentralisasi pembinaan di dua daerah di luar pulau Jawa. Hal itu dikatakan Sekretaris Jenderal PB PBSI Lutfi Hamid kepada Pembaruan, di Jakarta, Sabtu (27/3).

Dua daerah yang akan dijadikan tempat untuk pemusatan latihan di daerah, itu adalah Medan dan Makassar. Medan sudah tersedia gedungnya. Untuk Makassar, sudah dijanjikan gedung beserta empat lapangan pendukung.

"Namun kami belum bisa merealisasikannya dalam waktu dekat ini. Kami akan bekerja untuk itu setelah Piala Thomas dan Uber usai. Saat ini, kami sedang konsentrasi penuh di Piala Thomas dan Uber. Pokoknya, setelah selesai (Piala Thomas dan Uber) program desentralisasi akan kita jalankan. Kami ingin pembinaan ini jalan di berbagai daerah," ujar Lutfi.

Menurut Lutfi, Pengcab PBSI Batam sebenarnya tertarik untuk mendukung program PBSI tersebut. Pengcab PPBSI Batam menawarkan diri untuk menjadikan Batam sebagai salah satu pemusatan bulutangkis Indonesia atau Pelatnas lain, selain di Cipayung. "Batam mempunyai fasilitas untuk menjadi salah satu tempat pemusatan nasional. Mungkin nanti putri akan digelar di sana. Ini baru kemungkinan, semua belum pasti," katanya.

Selain dimaksudkan untuk mendapatkan bibit-bibit pemain dari berbagai daerah, program tersebut juga dimaksudkan supaya atlet Pelatnas tidak terlalu banyak seperti sekarang ini.

Pembinaan di Medan nantinya diperuntukkan bagi atlet dari pulau Sumatera, sedangkan Makassar akan dipergunakan sebagai pemusatan latihan atlet dari wilayah Sulawesi dan sekitarnya. "Tentu kami gembira bila itu terlaksana, sebab pasti akan muncul banyak atlet," ujarnya.

Menurut Lutfi, di Indonesia khususnya di luar Jawa masih sangat sulit untuk meniru sistem pembinaan di Eropa. Di Eropa pembinaan bulutangkis dilakukan oleh berbagai klub, bukan provinsi atau negara. Di Indonesia hal itu tidak bisa dilakukan karena kemampuan klub tidak sama.

Selama ini, klub-klub yang paling berhasil melakukan pembinaan atletnya, hanyalah Jaya Raya dan Tangkas Bogasari (Jakarta), SGS Bandung (Jawa Barat), Djarum Kudus (Jawa Tengah), dan Suryanaga Gudang Garam (Jawa Timur).

Di Cina, kata Lutfi, pembinaan bulutangkis dilakukan oleh provinsi. Mungkin, sistem pembinaan seperti ini yang akan dilakukan Indonesia. Hanya saja, sejauh ini akan menggunakan sistem regional, seperti Medan yang diperuntukkan bagi provinsi di Sumatera. "Kami sudah mempunyai program. Tinggal pelaksanaannya saja," kata Lutfi.

Untuk menunjang desentralisasi tersebut, PBSI akan mengirim para pelatih nasional ke daerah-daerah desentralisasi itu. "Daerah masih minim pelatih. Tentu saja kami akan mengirim pelatih sehingga, selain untuk membina atlet juga untuk melatih para pelatih. Kami tidak ingin kehabisan stok pemain karena pembinaan macet," tambahnya.

Sementara itu, perang urat saraf antara PBSI dengan pelatih bulutangkis mereda setelah Ketua Umum PB PBSI Chairul Tanjung melakukan dialog dengan para pelatih dan para pengurus, di Cipayung, Sabtu (27/3).

Menurut Chairul, ada miskomunikasi di PB PBSI sehingga mengakibatkan masalah tersebut muncul. Masalah yang belakangan menghangat di Cipayung, adalah masalah uang kontrak untuk pelatih. Informasi yang selama ini tidak jelas diterima pelatih telah diklarifikasi.

"Zaman kepengurusan Pak Bagyo (Subagyo Hadisiswoyo), pada Februari 2001 telah ada semacam surat keputusan yang melebur uang kontrak itu dikaitkan dengan gaji yang diterima," jelasnya. (W-11)


Last modified: 29/3/04