PALU - Penembakan misterius kembali beraksi di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Korbannya kali ini Jhon Cristian Tanalida (37), warga sipil yang tinggal Kelurahan Kawua, Poso.
Korban tewas ditembak di kebunnya di sekitar pegunungan antara Kelurahan Sayo dan Kawua, Sabtu lalu sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Polisi yang mengusut kasus tersebut belum mengetahui pelaku penembakan maupun motif peristiwa berdarah itu.
Wakil Kapolres Poso Komisaris Polisi Rudy Trenggono sewaktu dihubungi wartawan, kemarin, di Poso, membenarkan kejadian tersebut. Dia menjelaskan, jenazah korban saat itu langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Poso dan divisum kemudian diserahkan ke keluarganya untuk dikebumikan di Kawua.
Keterangan yang dihimpun menyebutkan, korban yang berprofesi sebagai petani sedang berada di kebunnya seorang diri untuk mengambil saguer (air nira). Kebun tersebut berjarak sekitar dua kilometre dari perkampungan penduduk.
Namun sekitar satu jam berikutnya, seorang warga Kawua lainnya, Nyong Tanalinda (27) yang juga sedang berada di kebunya yang tidak jauh dari kebun Jhon, tiba-tiba mendengar bunyi tembakan.
Nyong pun langsung curiga dan berlari ke kampung melaporkan kejadiannya kepada isteri Jhon. Saat itu isteri korban bergegas melapor ke ketua RT setempat dan bersama-sama mereka melapor ke Polres Poso.
Aparat Polres Poso yang mendapat laporan tersebut langsung mendatangi lokasi kejadian. Setibanya di lokasi kejadian, polisi menemukan korban Jhon sudah dalam keadaan tak bernyawa dengan luka tembak di bagian punggung hingga tembus ke dada.
Rudy yang ditanya wartawan menolak berspekulasi tentang siapa atau dari kelompok mana pelaku penembakan tersebut. "Saya hanya mengharapkan bantuan informasi dari masyarakat untuk dapat membantu pengungkapan kasus ini secepatnya," katanya.
Kejadian penembakan tersebut secara umum tidak mempengaruhi kegiatan masyarakat. Penduduk tetap beraktivitas seperti biasa. Kecuali di sekitar Kawua, sejak kejadian itu, warga di sana untuk sementara tidak berani pergi ke kebun. "Kami takut dan waspada, dan meminta aparat mengendalikan situasi yang ada," ucap seorang warga Kawua. (128)