
PEMBARUAN/YC KURNIANTORO
PAINTBALL - Seorang peserta membidikkan senjatanya ke arah lawannya ketika bermain "paintball" di Splash Paintball, Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (26/3).
CECIL (16), bersembunyi di balik balon lonjong yang panjangnya 2 meter dalam posisi tiarap. Sesekali kepalanya menyembul mengintip Doni, musuhnya, yang sedang bersembunyi di sebuah balon segitiga berlawanan arah dengannya. Cecil tiba-tiba bangun dan membidikkan marker-nya ke arah Doni.
Doni terlambat menyadari keberadaan Cecil. Goggle yang terpasang di kepalanya terkena sebuah bola peluru. Serta merta goggle itu pun diwarnai cat oranye. "Kena lu...kena lu," teriak Cecil.
"Sialan," teriak Doni yang langsung dijemput wasit untuk ke luar dari lapangan permainan karena ia dinyatakan "tewas" terkena peluru. Namun sebelum keluar lapangan Doni sempat memberi semangat kepada dua temannya yang masih "hidup" agar tak menyerah. Permainan pun terus berjalan.
Dua kelompok anak sekolah yang sedang bermain paintball itu saling membidikkan senjatanya ke musuh mereka masing-masing. Sedangkan penonton di luar arena berteriak-teriak memberi semangat para pemain yang ada di dalam.
Setiap sore arena pertempuran bola-bola cat di Splash Paintball, Kemang, Jakarta Selatan, selalu ramai. Di tempat itu tidak hanya terdapat arena paintball, tetapi juga ada climbwall. Lama kelamaan tempat itu pun menjadi tempat berkumpul penggemar permainan sekaligus olahraga jenis ini yang kebanyakan adalah anak-anak muda.
Adalah Selby Nugraha yang menjadi pemilik lokasi arena paintball yang hanya satu-satunya berada di dalam Kota Jakarta itu. "Kalau yang lain berada di luar kota Jakarta, seperti Bogor dan Gunung Putri," ujar Selby.
Niat awal Selby bermula dari ketertarikannya bermain perang-perangan dengan peluru bola-bola cat itu. Ia mengaku sering bermain di Gunung Putri, Jawa Barat. Namun, ia merasa jarak ke Gunung Putri terlalu jauh sehingga ia berniat membuat arena paintball di Jakarta. Kebetulan ia mendapatkan lahan 2.000 meter persegi di sekitar Kemang, Jakarta Selatan. Akhirnya pada Maret 1993 berdirilah sebuah arena paintball yang berada di dalam kota bernama Splash Paintball.
Dalam perjalanannya, arena itu telah banyak memikat hati penggemar aktivitas yang memancing adrenalin ini. "Di Indonesia sedikitnya ada 500.000 penggemar paintball, tetapi kalau di Jakarta jumlahnya belum pasti. Mereka kebanyakan pemain baru yang mencoba-coba saja," ujarnya.
Selby menceritakan kenikmatan bermain paintball adalah ketika ketegangan mencapai klimaksnya. "Kita berusaha untuk tetap hidup, semua taktik, ketepatan mengambil keputusan dan keberanian menjadi satu, sampai akhirnya kita menang atau kalah," ujar Selby.
Karakter
Dalam permainan itu bisanya terlihat karakter seseorang, apakah ia seorang pemberani atau tidak, apakah ia pengambil keputusan yang baik atau sebaliknya. "Bahkan apakah ia seorang opurtunis atau tidak. Karena di sini adalah permainan tim yang seharusnya saling mendukung," ujarnya.
Permainan ini bagus untuk pembentukan kerja sama tim pada perusahaan-perusahaan. Menurut Selby, tercatat beberapa nama perusahaan besar yang menjadi langganan Splash Paintball.
Namun hal utama dari permainan adalah hiburan. "Kalau mau melepas stress di sini cukup bagus, karena di permainan ini kita memancing ketegangan hingga akhirnya terlepas. Berbeda kalau di kantor ketegangan itu sepertinya tidak ada habisnya, selesai satu muncul yang lain lagi," jelas Selby.
Bermain paintball tidak diperlukan keterampilan khusus. Sifatnya adalah olahraga yang bisa dimainkan oleh segala umur. Yang penting mau berlari-lari dan siap sakit kalau terkena tembakan.
Hanya saja dalam permainan itu diperlukan peralatan khusus. Perlengkapan utama adalah marker, senjata yang digunakan untuk menembak peluru-peluru bola cat. Marker hampir sama dengan senjata gas gun karena menggunakan tekanan gas untuk melontarkan peluru.
Seperti senjata lainnya marker memilki berbagai jenis, tergantung kalibernya. Menurut Sukwan, karyawan di Splash Paintball, kaliber yang banyak dipakai adalah 0,89. Namun marker memiliki stadardisasi untuk menjaga keamanan. "Tekanan gas dibuat hanya untuk melontarkan peluru sejauh 60 meter dengan kecepatan 300 feet per detik. Lebih dari itu dapat membahayakan pemain," ujar Sukwan. Dengan kecepatan seperti itu peluru bola cat dapat membuat bentol kulit jika terkena walaupun mengenakan pakaian pelindung.
Sedangkan alat pengaman yang harus dikenakan adalah goggle, masker kepala yang terbuat dari plastik. Goggle melindungi bagian kepala jika peluru mengenai kepala. "Goggle wajib dipakai, tetapi kalau pakaian pelindung tidak harus," ujar Sukwan.
Pakaian pelindung hanya melindungi tubuh bagian atas saja. Pakaian itu terbuat dari matras. Sedangkan di bagian luarnya menggunakan kaos lengan panjang yang tebal. Selain untuk menahan rasa sakit, pakaian ini juga untuk melindungi dari warna cat peluru yang mengenai tubuh.
Peluru paintball berbentuk bulat seperti gundu. Peluru itu terbuat dari bahan pembuat kapsul dan didalamnya diisi dengan cat yang berwarna. Sehingga jika mengenai tubuh peluru itu akan pecah dan memuncratkan warna.
Selby menjelaskan bahwa seluruh peralatan masih belum diproduksi di Indonesia. Peralatan tersebut biasanya diimpor dari Taiwan atau Amerika Serikat, sehingga peralatan itu relatif mahal. Di Splash Paintball sebuah peluru dijual Rp 500.
Harganya peralatan yang mahal ini berbuntut pada biaya yang harus dikeluarkan pemain di arena ini sehingga ada yang menyebut permainan ini identik dengan kalangan menengah ke atas.
Di Splash Paintball, Selby menjual beberapa paket harga. Untuk umum dijual Rp 90.000 per orang termasuk peminjaman peralatan dan 50 butir peluru. Sedangkan untuk pelajar di jual Rp 75.000. "Tapi kalau mau reload peluru kita hargai Rp 500 per butir peluru," ujar Selby.
Mengenai lamanya permainan itu tidak ada batas waktu. "Kalau pemainnya sudah pro biasanya langsung cepat selesai, tetapi kalau pemula biasanya lama," ujar Selby.
Dalam permainan paintball ada peraturannya, permainan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara pertama adalah menghitung skor dengan melihat bendera yang berhasil direbut. Sedangkan cara kedua adalah jumlah pemain lawan yang berhasil dieliminasi.
"Kalau masih baru bisanya pemain dieliminasi setelah telak terkena peluru di tubuhnya. Artinya peluru itu pecah dan warnanya muncrat. Tetapi kalau pemain pro terkena senjatanya saja sudah dianggap mati," ujar Sukwan menjelaskan.
"Jadi ketika akan menembak atau berlindung atau melakukan stategi lainnya harus dilakukan dengan tenang. Padahal saat itu kondisi pemain alam keadaan tegang. Jadi kita harus pintar-pintar mengatur emosi supaya menang," tambah Selby.
- PEMBARUAN/KURNIADI