
istimewa
ADAPTASI - Tokoh Jati (Fedi Nuril), May (Indri Satiya), dan Oma Farah (Jajang C Noer) menjadi titik sentral kisah sinetron "Jelangkung" yang diadaptasi dari film layar lebar "Jelangkung" yang fenomenal. Sinetron ini hadir di "RCTI" tiap Sabtu pukul 20.00 WIB.
Tayangan horor di layar kaca semakin bervariatif. Setelah format reality show naik daun, genre horor pun bertambah banyak. Kisah sukses film-film horor di layar lebar membuka peluang baru. Kini stasiun televisi "tergoda" untuk mengadaptasi cerita sinema ke layar kaca. RCTI dan ANTV meliriknya sebagai peluang menambah segmen penonton baru.
Rumah produksi Sinemart akhirnya menggarap film Jelangkung untuk dijadikan sinetron. Film layar lebar produksi Rexinema itu memang sukses sebagai box office di Jakarta. Produser Leo Sutanto membutuhkan dua tahun untuk mendapatkan izin mensinetronkan film tersebut. Mulai 27 Maret mendatang, sinetron Jelangkung akan ditayangkan RCTI setiap Sabtu, pukul 20.00 WIB.
"Posisi cerita sinetron Jelangkung berada antara film Jelangkung dan sekuelnya, Tusuk Jelangkung. Di akhir cerita film Jelangkung, dikisahkan Ferdi menghilang. Hilangnya Ferdi ini mengganggu kestabilan lingkaran pertemanan yang lain. Di sinetron, kami menampilkan cerita tersebut," tutur Lintang Wardhani, penulis cerita, dalam jumpa pers, Selasa (23/3).
Untuk memproduksi sinetron ini, Produser Leo mengaku mendapatkan tantangan besar. Jelangkung versi layar lebar pertama yang mampu meraup sukses di tengah kondisi perfilman Indonesia yang mati suri. Ini sudah menjadi beban sekaligus tantangan tersendiri bagi Leo. Dia harus bisa menghasilkan karya sinetron horor yang tidak kalah mutunya.
Sebelum Jelangkung, Leo juga pernah mengadaptasi film Ada Apa dengan Cinta? (A2DC) Film tersebut tergolong sukses di bioskop. Tetapi hingga kini, sinetron A2DC terhitung kurang mendapat sambutan penonton. Kini tujuan memproduksi Jelangkung sebenarnya juga tak jauh beda. Format sinetron dibuat untuk memperluas segmen. Paling tidak, sinetron diharapkan bisa sukses seperti seperti filmnya.
"Film Jelangkung mampu meraup sukses dan mendobrak dunia perfilman Indonesia karena keseraman yang diangkat berbeda dengan film horor lain. Di sinilah letak tantangannya. Bisakah saya menyuguhkan keseraman yang lebih dari yang hadir di film," lanjut Leo.
Black Magic
Lain lagi dengan stasiun ANTV. meskipun tayangan misteri banyak dikecam karena dinilai merusak, ANTV justru menambah acara baru yang bernuansa horor. Judulnya Black Magic yang ditayangkan setiap Kamis pukul 20.00 WIB. Dengan demikian ANTV memiliki tiga acara tayangan Kamis malam yang dinilai cukup kuat meraih rating bagus. Selain sinetron serial Black Magic produksi PT Bhaskara Multi Media, ada pula Fakta dan Percaya Enggak Percaya
"Saya menggarap sinetron misteri ini dengan konsep film layar lebar," kata produser Mardali Syarief yang pernah sukses dengan film Kafir.. Menurut Mardali, tak ada niat untuk menakuti penonton lewat layar kaca. Ceritanya selalu memiliki solusi untuk memecahkan problem. "Kalau tujuannya untuk menakuti penonton, maka tawaran untuk membuat film horor pasti akan saya tolak," ujar Mardali baru-baru ini.
Beragam cerita misteri diangkat dalam Black Magic. Seperti Membangkitkan Mayat dari Kubur, Siksa Kubur, Dendam Arwah Penasaran. Sinetron serial ini disutradarai Mardali Syarief, sutradara gaek yang kini menjadi sutradara spesialis horor. Semangat Mardali membuat sinetron horor tak pernah kendur. Dia merencanakan membuat tujuh episode untuk tahap awal.
Jelangkung
Sinetron Jelangkung ini menceritakan tentang May (Indri Satiya) yang memiliki indera keenam. Suatu malam, ia bermimpi tentang seorang pemuda yang merintih di sebuah rumah di tengah hutan. Dalam mimpinya, May juga melihat ada sebuah jelangkung tertancap di depan rumah itu. Dengan bantuan Jati (Fedi Nuril) dan Oma Farah (Jajang C Noer), May mencoba mencari jejak sang pemuda yang kemudian diketahui bernama Ferdi (Erwin).
May kemudian membawa Ferdi ke rumahnya. Namun, kekuatan jahat yang menguasai Ferdi seakan-akan tak mau melepaskannya. Jadilah May, Oma Farah dan Jati dihantui oleh sosok-sosok yang dulu pernah menghantui Ferdi, seperti Suster Ngesot dan arwah lainnya.
Lintang mengakui, ia menambahkan beberapa karakter baru yang sebelumnya tidak ada dalam Jelangkung versi layar lebar. Menurutnya, tambahan karakter seperti ini lumrah terjadi. Seperti yang terjadi di serial televisi Ada Apa Dengan Cinta?, penambahan karakter seperti ini motivasinya tak lain dan tak bukan adalah untuk mendukung supaya cerita versi sinetron menjadi lebih menarik.
Tema ceritanya pun sedikit berbeda. Dalam Jelangkung versi layar lebar, yang ditampilkan adalah sekelompok remaja yang hobi mencari hantu, semacam adaptasi serial kartun Ghostbuster ala Indonesia. Sementara untuk versi sinetron, Lintang mengambil tema besar mengenai kaum atheis yang kemudian menggunakan kekuatan ilmu gaib demi memudahkan hidup.
Karena mengambil segmentasi remaja, para bintang, kecuali Jajang C Noer, juga masih muda belia. Sebagian besar sudah pernah beraksi di layar kaca dalam sinetron remaja. Namun, sosok mereka belum terlalu akrab dengan mata pemirsa. Untuk ini, Leo mengaku sengaja menghadirkan bintang yang belum terkenal.
"Cerita Jelangkung sudah kuat citranya di masyarakat. Saya sengaja tidak memilih pemain yang terkenal supaya bisa menonjolkan kekuatan ceritanya. Lagi pula, saya juga sekaligus menelurkan bibit-bibit baru di dunia sinetron," papar Leo. (ID/U-5)