SUARA PEMBARUAN DAILY

Balada Surya Paloh vs Akbar Tandjung

Denny JA

PARTAI Golkar di Indonesia sedang menjalankan Konvensi Partai sebagaimana Partai Demokrat di Amerika Serikat (AS) saat ini. Di Partai Demokrat AS, John F Kerry dan Howard Dean merupakan dua tokoh capres Partai Demokrat terkuat. Mereka terlibat dalam kompetisi dan "pertengkaran" yang sangat panas. Sementara itu, di Partai Golkar, Indonesia, Akbar Tandjung dan Surya Paloh juga dua kandidat capres terkuat di samping Wiranto. Mereka berdua juga terlibat dalam "komunikasi" yang unik dan rivalitas yang panas.

Namun konvensi partai di AS sudah terselenggara lebih dari seratus tahun. Akhir dari konvensi partai sudah terduga. Kini, John Kerry dan Howard Dean bergandengan tangan, membesarkan partai, menghadapi musuh bersama, George Bush dari Partai Republik. Akankah Surya Paloh dan Akbar Tandjung menjadi Howard Dean dan John Kerry ala Indonesia, yang juga akhirnya bergandengan tangan, bahu-membahu bersatu di partai, menghadapi musuh bersama? Ataukah mereka justru membuat partai terpecah?

Era kampanye pemilu legislatif Partai Golkar kali ini menjadi sangat unik. Aneka partai lain tampak harmoni, menari dalam gendang yang sama, menarik pendukung sebanyak-banyaknya. Partai Golkar yang selama ini dikenal paling solid dan terlembaga, paling modern dan moderat, menunjukkan gejala berbeda. Di tengah imbauan coblos tanda gambar No 20, aroma persaingan para calon presiden Partai Golkar menguat.

Dua Figur

Pers membesar-besarkan "komunikasi" unik antara dua capres Konvensi Golkar. terpenting: Akbar Tanjung dan Surya paloh. Pada mulanya, tak ada yang salah dan aneh. Surya Paloh, sebagaimana banyak jurkam partai lain, mengangkat isu korupsi. Suasana menjadi sedikit "meriah" ketika Surya Paloh membuat pertanyaan kepada publik luas, "Apakah di partai Golkar ada koruptor?" Surya Paloh menjawab sendiri pertanyaannya, bahwa di Golkar pun ada koruptor. Karena itu, Partai Golkar juga bertekad membersihkan dirinya sendiri, dan memimpin Indonesia yang lebih bersih.

Bagi banyak orang, pernyataan dan pertanyaan Surya Paloh itu bersayap. Di satu sisi, Surya Paloh dianggap mengembangkan citranya sebagai Golkar Putih. Tertangkap oleh publik, ia menunjukkan kecintaannya kepada partai, ingin partainya tak hanya tumbuh besar, namun juga menjadi bagian dari upaya pemberantasan korupsi. Di luar Golkar putih, ada Golkar hitam yang sudah membuat partai terpuruk dan mereka harus diberantas demi kemajuan partai dan politik Indonesia.

Di satu sisi, bagi sebagian orang, gaya kampanye Surya Paloh justru menjadi tambahan daya tarik partai Golkar. Selama ini Golkar dianggap oleh aneka LSM sebagai "Partai Busuk", diisi oleh banyak "politikus busuk," dan tak hendak menyukseskan gerakan antikorupsi. Orasi Surya Paloh menetralkan citra itu. Dikesankan bahwa ada dan banyak pula tokoh dan senior Partai Golkar yang akan berjuang memberantas korupsi di tubuh Golkar sendiri dari dalam.

Dengan tingginya tingkat korupsi di Indonesia, masuk akal jika setiap partai besar memiliki koruptornya sendiri-sendiri. Ketika Surya Paloh mengatakan, ada koruptor di Partai Golkar, itu sudah menjadi pengetahuan umum, sebagaimana ada koruptor di partai lain, di birokrasi, di pengadilan, di kepolisian, bahkan di kalangan LSM sendiri. Tak ada yang istimewa di sana.

Namun di sisi lain, kampanye Surya Paloh dianggap oleh sebagian justru memukul Partai Golkar sendiri. Itulah sebabnya DPP Partai Golkar mengeluarkan surat teguran. Surya Paloh dianggap melakukan negative campaign. Bukannya upaya meraih tambahan pendukung, Kampanye Surya Paloh justru dikhawatirkan mengemboskan partai dari dalam.

Lebih jauh lagi, sebagian publik yang berimajinasi, menganggap Surya Paloh "memukul" Akbar Tandjung. Imajinasi publik memang liar. Akbar Tandjung secara legal memang sudah dibebaskan MA dari tuduhan korupsi. Namun karena Surya Paloh dan Akbar Tandjung bersaing dalam konvensi, Surya Paloh dianggap "mencuri start" memukul pesaingnya. Isu ada "koruptor" di tubuh Golkar, oleh sebagian, pernyataan itu dianggap dialamatkan kepada Akbar Tandjung, terlepas apakah hal itu memang dimaksudkan atau tidak, oleh Surya Paloh sendiri. Imajinasi publik memang tak dapat dikontrol.

Terjadilah "komunikasi" yang unik antara Surya Paloh dan Akbar Tandjung. Golkar memberikan teguran. Namun teguran resmi Partai Golkar tidak menyurutkan langkah Surya Paloh. Sebaliknya, ia justru lebih bersemangat lagi mengampanyekan gerakan antikorupsi. Partai Golkar yang dikendalikan Akbar Tanjung juga bereaksi lebih keras lagi. Surya Paloh diancam akan dicoret sebagai juru kampanye nasional.

Amerika Serikat

Seketika kita teringat "komunikasi" antara Howard Dean dan John F Kerry ketika mereka masih bersaing memperebutkan tiket nominasi Konvensi Partai Demokrat di AS. Pada mulanya, Howard Dean bersinar sebagai calon pemenang konvensi. Ia sudah diproyeksikan menantang George Bush dalam pemilu Presiden AS, November mendatang.

Dukungan politik dari tokoh senior Partai Demokrat kepada Howard Dean berdatangan. Salah satu yang terpenting adalah dari Al Gore. Dukungan politik Al Gore menambah bobot Howard Dean.

Kemudian berkembanglah aneka situs di internet yang banyak sekali menghantam Howard Dean. Puncaknya, ketika Howard Dean membuat sedikit kesalahan, situs internet itu memaksimalkan serangannya.

Dua kesalahan Howard Dean menyumbang "kejatuhannya." Pertama, saat Saddam Hussein terangkap. Publik di AS merasa lega, dan menyambut berakhirnya Saddam Hussein secara suka cita.

Namun Howard Dean justru memberikan reaksi sebaliknya. Dean khawatir popularitas Bush meningkat pesat akibat tertangkapnya Saddam Hussein. Dean mencoba menggambarkan bahwa perang Irak belum usai. Akan masih banyak kantong mayat perwira AS yang dikirim pulang. Namun publik AS menganggap reaksi Dean berlebihan. Reaksi Dean dianggap terlalu pribadi, terlalu berkepentingan menyerang Bush, dan kurang patriotik.

Kedua, Howard Dean melakukan kesalahan ketika ia ingin menghidupkan kembali pidato terkenal Martin Luther King, "I Have a Dream." Namun oleh Howard Dean, pidato ini dipelintir dan menjadi "I Have a Scream." Pemelintiran itu pada awalnya disiapkan untuk mengangkat kembali pamor Howard Dean. Yang terjadi justru sebaliknya. Publik semakin tidak bersimpati padanya.

Serangan kepada Howard Dean dieksplorasi dan dipancarkan dari berbagai situs internet. Karena diolah secara matang dan dipublikasikan secara terus-menerus, berita dari situs internet itu bergaung dan disambut oleh pers besar. Howard Dean mencurigai ada "tangan lihai dan tak terlihat" di balik aneka situs internet tersebut.

Segera Howard Dean melakukan serangan balik. Kepada publik luas ia menyatakan bahwa saingannya, John F Kerry berada di balik aneka situs internet itu. Ia bahkan menuduh kelompok John Kerry ikut membiayai aneka situs internet itu. Tujuan akhir serangan internet karena Kerry ingin merebut nominasi Partai Demokrat dari tangannya. Dukungan Howard Dean memang merosot dan digantikan oleh John F Kerry.

Pertarungan Howard Dean dan John F Kerry menjadi sangat personal. Mereka acapkali saling menyerang. Namun di sinilah letak keindahan demokrasi di AS dan kebesaran jiwa para pemimpinnya. Kini Joh F Kerry berfoto bersama Howard Dean, dikelilingi oleh tokoh Partai Demokrat lainnya, seperti Bill Clinton, Jimmy Carter dan Al Gore. Kepada pendukungnya Howard Dean menyatakan bahwa ia akan bekerja sekuat tenaga untuk membantu John Kerry mengalahklan George Bush.

Howard Dean juga menyerukan agar para pengusaha yang dulu membantunya diharapkan kini membantu John F Kerry. Semua kemarahan dan "komunikasi" unik antara Howard Dean dan Kerry sirna. Hubungan mereka berdua diganti oleh semangat rekonsiliasi untuk membesarkan partai dan memenangkan pemilu presiden.

Indonesia

Akankah akhirnya Surya Paloh dan Akbar Tanejung melakukan hal yang sama dengan apa yang dibuat Howard Dean dan John F Kerry? Baik Surya Paloh maupun Akbar Tandjung adalah dua tokoh yang sudah matang dan "mumpuni" dalam "dunia persilatan." Mereka berdua tentu ingin meletakkan batu pertama dari tradisi yang sehat dalam Konvensi Partai. Demi tradisi berpolitik yang benar dan kebesaran partainya, kita menduga Surya Paloh dan Akbar Tandjung akan berjabat tangan seperi Howard Dean dan Kerry.

Lingakaran terdekat di pihak Surya Paloh dan Akbar Tandjung harus pula meniru lingkaran terdekat Howard Dean dan Joh F Kerry. Lingkaran terdekat itu harus meyakinkan bosnya masing-masing bahwa ujung dari kompetisi adalah rekonsiliasi. Publik Indonesia perlu diberikan pembelajaran sebuah kompetisi dalam kehangatan. Jangan menjadi sebaliknya, mengadu domba bosnya masing-masing dan memperoleh keuntungan dari perpecahan

Berbagai pihak menduga Surya Paloh dan Akbar Tandjung tak lagi dapat didamaikan dan mereka akan saling memukul. Kita termasuk yang optimis bahwa dua tokoh itu terlalu penting untuk hanya masuk ke dalam wilayah persaingan pribadi. Dua tokoh itu harus menjadi ikon yang memberikan teladan bahwa ada kepentingan yang lebih besar.

Dua puluh tahun dari sekarang publik terutama di Partai Golkar akan menjadikan Surya Paloh dan Akbar Tandjung sebagai contoh yang baik. Betapa ujung dari perseteruan itu adalah rekonsiliasi, bersama-sama saling mendukung membesarkan partai melawan musuh bersama. Bukan sebaliknya, membawa perpecahan partai yang membuat partai makin lemah dalam pertarungan yang lebih keras kelak, pemilu presiden.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia/LSI.


Last modified: 29/3/04