SUARA PEMBARUAN DAILY

Melayakkan Air Tanah untuk Diminum Langsung

JIKA Anda kebetulan berada di mal Karawaci atau di tempat umum di kawasan Lippo Karawaci, lalu kehausan, tidak perlu khawatir. Pergi saja ke tempat keran umum dan minumlah air dari keran yang ada. Dijamin Anda tidak akan sakit perut. Air yang mengalir melalui keran umum tersebut telah diolah sedemikian rupa hingga memenuhi standar internasional, dan dapat langsung diminum tanpa perlu dimasak terlebih dahulu.

Memang belum banyak yang tahu kalau air di kawasan itu sebenarnya sudah layak untuk diminum. Lagi pula masyarakat awam selama ini berpandangan air yang bisa dikonsumsi adalah air yang dimasak terlebih dulu, atau paling tidak, membeli air kemasan yang dijual di pasaran.

"Pengelolaan air di sini memang sudah berstandar internasional, sehingga bisa langsung diminum," ujar Cornelia Retno S, Deputy Head of Water and Sanitarion Department Lippo Karawaci, yang didampingi Wirawan Nuswatama, Town Engineering Department Head, dan M Faizal, Humas.
Air, tidak dapat disangkal, adalah sumber kehidupan.

Berpijak dari falsafah itu, maka dalam pengembangan perumahan di Lippo masalah air menjadi prioritas. Untuk air minum pengelolaannya bersumber pada air permukaan. Demikian pula dengan air limbah, dikelola tersendiri, sehingga masih bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, misalnya menyiram taman umum.

Persediaan kebutuhan akan air bersih di kawasan itu sebenarnya berasal dari pasokan air baku PDAM Tirta Rahardja yang mengambilnya dari Sungai Cisadane. Hal itu sesuai dengan Perda yang ada di Kabupaten Tangerang.
Sungai Cisadane sendiri merupakan sumber air yang sangat besar dan melimpah. Namun, jika memasuki musim kemarau, permukaan air sungai biasanya menurun, sehingga diperlukan suatu pengelolaan tersendiri untuk menampung air Sungai Cisadane agar tetap selalu tersedia.

Pasokan air yang berasal dari PDAM itu tidak langsung disalurkan ke perumahan, perkantoran, serta pusat bisnis lainnya di kawasan Lippo. Pasokan air diolah lagi di water treatment plant (WTP) atau pusat pengolahan air bersih, yang letaknya juga di tengah permukiman. Pengolahan air dilakukan, selain mengingat pasokan air dari PDAM sering tidak kontinu dari sisi kualitas maupun kuantitas, juga dikarenakan manajemen Lippo menginginkan air yang mengalir ke warganya haruslah berkualitas.

Hal yang terpenting lainnya, kawasan itu tetap menjaga lingkungannya. Ketersediaan air bawah tanah di kawasan itu tidak terganggu karena warga ataupun perkantoran lainnya dilarang membuat sumur bor atau sumur pantek seperti yang banyak dilakukan pengembang perumahan lainnya. "Semua kebutuhan air di suplai dari WTP," ujar Retno.

Memang investasi yang dikeluarkan tidak sedikit. Perhitungannya, setiap 1 liter/detik (lt/dtk) dibutuhkan dana sedikitnya Rp 100 juta. Maka dengan kapasitas WTP yang kini mencapai 130 lt/dtk, dana yang telah dikeluarkan untuk pengolahan air bersih di kawasan itu sedikitnya Rp 13 miliar.

Menurut Wirawan, awalnya WTP yang dibangun pada 1995 hanya memiliki kapasitas 35 lt/dtk. Secara bertahap, kapasitas yang tersedia kini mencapai 120 lt/dtk untuk memenuhi kebutuhan warga yang kini mencapai 8.600 sambungan. Kapasitas yang tersedia di WTP masih bisa memenuhi kebutuhan lebih dari 10.000 rumah. "Lebih dari cukup, tetapi kita akan tetap meningkatkan kemampuan untuk pengolahan air," Wirawan menambahkan.

Yang penting lainnya, menurut Retno, warga pengguna air menjadi lebih memahami arti pemanfaatan air. Mereka terdidik untuk menggunakan air seefisien mungkin, seperti ketika mencuci mobil atau menyiram tanaman. Biaya yang dikeluarkan rumah tangga bisa ditekan, karena warga tidak perlu menggunakan pompa, sehingga penggunaan listrik tidak besar.

Pemahaman warga masyarakat untuk menggunakan air seefisien mungkin kini sudah tampak. Jumlah pemakaian air menurun, kendati sambungan baru yang terpasang bertambah. "Kita selalu memberi pemahaman, air adalah sumber daya alam yang terbatas, sehingga perlu dihemat," ujar Retno.

Air Limbah

Pengolahan air di kawasan Lippo bukan hanya pada air bersih. Pengembang kawasan itu juga mengolah air limbah rumah tangga. Air buangan dialirkan dalam satu pipa menuju ke sewage treatment plant (STP), yaitu pengolahan air limbah rumah tangga.

Pengolahan limbah terpadu itu menjadikan rumah-rumah di Lippo Karawaci tidak memiliki septic tank sendiri-sendiri, sehingga kecil kemungkinan lingkungan perumahan tercemar limbah pembuangan.

Pengolahan limbah terpadu itu cukup menguntungkan, karena STP memisahkan limbah padat dan limbah cair. Limbah cair yang dihasilkan kemudian diolah lagi, sehingga menjadi lebih bersih dan jernih, dan dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman dan kepentingan lain.

Kalau dilihat dari besarnya dana untuk pengolahan air bersih, memang cukup mahal. Namun, tidak, jika dilihat dari hasil yang telah diperoleh. Warga kawasan perumahan itu tidak pernah kekurangan air. Selain itu air yang dihasilkan juga berkualitas. Dan yang terpenting, sumber daya air permukaan bisa dimanfaatkan dengan maksimal dan sumber air bawah tanah tidak terganggu.

Sejauh ini, ketersediaan air yang ada memang masih untuk memenuhi kebutuhan warga di kawasan Lippo Karawaci, belum menjangkau kawasan perumahan atau masyarakat sekitar lainnya. Tetapi, setidaknya hal itu bisa menjadi contoh bagi pemerintah setempat ataupun pihak swasta pengembang lainnya. (132)


Last modified: 17/3/04