
Pembaruan/Jurnasyanto Sukarno
BERTEDUH - Seorang anak bersama ibunya terpaksa berteduh di bawah kain yang dibentangkan di lokasi pengungsian korban kebakaran, di Jalan RE Martadinata, Sunter Agung, Jakarta Utara, Selasa (16/3). Ratusan warga masih kebingungan karena rumah mereka terbakar habis.
JAKARTA - Hingga Rabu (17/3), polisi masih belum bisa mengungkap penyebab kebakaran yang menghanguskan sebanyak 139 rumah di Kampung Muara Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (16/3) siang.
Dari beberapa saksi yang telah diperiksa, polisi belum bisa menarik kesimpulan apakah penyebab kebakaran yang mengakibatkan seorang nenek, Suji (72), tewas itu, didahului oleh korsleting listrik atau ledakan kompor. "Kami masih lakukan pemeriksaan dan belum bisa menyimpulkan," ujar Kasat Reserse Kriminal Polres Jakarta Utara, Kompol Andap Budhi Revianto.
Menurut Andap, jika tim penyidik merasa perlu untuk melakukan penyidikan lebih lanjut, bisa saja barang bukti kebakaran dibawa ke Pusat Laboratorium Forensik (Pusatlabfor) Mabes Polri."Dari tingkat kearangan kan bisa diketahui terbakarnya karena apa," tambahnya.
Tetapi ketika didesak apakah dalam kasus kebakaran di Muara Bahari ini Puslabfor serius akan dilibatkan, Andap tidak mau menjawab. "Itu kan prosedur standar pengungkapan," katanya.
Hasil penyelidikan penyebab kebakaran sangat penting bagi warga mengingat munculnya dugaan bahwa peristiwa mengenaskan itu sengaja dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Informasi yang diperoleh menyebutkan, tanah yang ditinggali warga sekarang ini hanya berstatus tanah garapan.
Mengenai hal ini, Andap menyatakan, masih menyelidiki informasi itu. Namun dia belum berpikir untuk memanggil atau memeriksa aparat pemerintahan setempat seperti lurah untuk memastikan status tanah seperti penuturan sebagian warga itu.
Kebakaran itu sangat memukul ratusan warga yang harus kehilangan tempat tinggal dan mengungsi. Pukulan berat dirasakan keluarga Suji. Menurut keponakan korban, Hasan Basri, saat kejadian bibinya yang menderita lumpuh dan kebutaan sejak lima tahun lalu itu sedang beristirahat. Diduga panik dan tidak tahu harus ke mana, tubuh wanita tua itu tidak bisa bangun dari tempat tidurnya sehingga akhirnya dilalap api.
Hasan yang berniat menolong sang bibi terpaksa mengurungkan niatnya karena tebalnya asap dan besarnya api yang ada di kamar korban. Hasan terpaksa keluar rumah dan hanya bisa menyelamatkan anak-anaknya.
Saat api sudah bisa dipadamkan, tubuh korban ditemukan oleh warga sekitar dalam kondisi terlentang dan hangus. Jenazah korban kemudian dibawa ke RSCM.
Sementara Rusli, warga RT 20 RW 01 menduga asal kebakaran dari korsleting listrik. Menurut Rusli yang mengontrak di rumah Baginda yang diduga sebagai lokasi awal kebakaran, asap tebal mulai mengepul dari kamarnya. Saat itu ia mengira terjadi ledakan kompor tetapi ternyata tidak.
Pantauan Pembaruan, cepatnya penyebaran api dari satu rumah ke rumah yang lain selain disebabkan padatnya pemukiman, juga didukung tiupan angin yang cukup kencang.
Saat kebakaran, sebagian besar warga tidak berada di tempat kejadian karena sedang mengikuti kampanye partai politik yang diselenggarakan siang itu. Kebakaran besar itu, menjadi tontonan banyak orang sehingga cukup memacetkan jalan.
Jumlah rumah yang terbakar di RT 01 sebanyak 55 rumah, RT 20 sebanyak 80 rumah dan RT 21 sebanyak 4 rumah. Sebanyak 31 mobil dinas pemadam kebakaran diturunkan untuk menjinakkan api yang berkobar selama satu jam lebih itu. (E-7)

Pembaruan/Jurnasyanto Sukarno
MENGUNGSI - Ratusan warga korban kebakaran terpaksa mengungsi di sekitar rel di Jalan RE Martadinata, Sunter Agung, Jakarta Utara, Selasa (16/3), setelah terjadi kebakaran yang menghanguskan 139 rumah. Dalam peristiwa ini satu orang warga, Siji (72), tewas terpanggang.