SUARA PEMBARUAN DAILY

Hubungan Diplomatik Jamaica-Haiti Memanas

PORT-AU-PRINCE - Menyusul kedatangan bekas Presiden Haiti Jean Bertrand Aristide ke Jamaica, ketegangan hubungan diplomatik antara Jamaica dengan Haiti semakin memanas. Kedatangan Aristide ke Jamaica ditanggapi Haiti dengan membekukan hubungan diplomatik dengan negara tetangganya di kawasan Karibia tersebut.

Menanggapi pembekuan hubungan diplomatik oleh pemerintahan baru Haiti itu, Menteri Luar Negeri Jamaica, Selasa (16/3) mengatakan, Jamaica tidak mengakui Port-au-Prince, karena keberadaan pemerintahan baru Haiti setelah tergulingnya Aristide belum mendapat pengakuan dari 15 negara yang tergabung dalam Komunitas Karibia (Caribbean Community, Caricom).

Ucapan Menlu Jamaica dilontarkan sehari setelah Latortue membekukan hubungan diplomatik Haiti dengan Jamaica, menyusul kedatangan Aristide di negara tersebut. Pihak berwenang Haiti beralasan, kunjungan Aristide ke Jamaica dikhawatirkan akan memicu lebih banyak kekerasan yang dilakukan para pendukung Aristide, yang sampai sekarang terus melakukan aksi penembakan, kerusuhan disertai penjarahan, menyusul keberangkatan Aristide ke pengasingan di Bangui, Afrika Tengah, 29 Februari lalu.

Aristide dan istrinya, Mildred, yang tiba di Kingston, Jamaica, Senin lalu, akan menghabiskan waktunya beberapa pekan di Jamaica untuk mengunjungi dua orang anak perempuannya.

Seorang jurubicara Kementerian Luar Negeri AS mengatakan, Washington bukanlah pendukung kehadiran Aristide di Jamaica. "Dalam pandangan kami, kunjungan (Aristide di Jamaica) itu tidak memberikan tujuan yang bermanfaat," ujar pejabat tersebut kepada para wartawan di Washington.

Aristide bersikeras dirinya tetap Presiden Haiti yang konstitusional. Ia mengklaim AS dan Prancis menculik dirinya dan memaksa ia terbang ke Bangui. Aristide mengatakan, para pendukungnya merasa gembira karena ia kini berada dekat dengan negara Haiti. "Saya percaya, banyak warga Haiti yang miskin dan menderita, atau sedang dalam persembunyian, berpikir bahwa jika saya secara fisik berada dekat dengan Haiti akan lebih baik buat mereka, ketimbang saya berada di negara yang jauh dari mereka," ungkap Aristide kepada Washington Post.

Sementara itu di kawasan Bel Air, yang merupakan basis pendukung Aristide, para pendukung militan bekas Presiden Haiti itu menyambut gembira kabar yang memberitakan Aristide kini hanya berada 200 kilometer saja dari Haiti.

"Presiden Aristide ada di Jamaica, bagi kami inilah saat melanjutkan perjuangan," ungkap Wilgo Supreme Edouard, pemimpin Front Militan Bel Air yang mendukung Aristide. Dalam sebuah pernyataan, Edouard mengatakan, tidak ada demonstrasi dipersiapkan dalam waktu dekat. Selain itu, kelompok militan pendukung Aristide sedang mempersiapkan diri untuk bekerja menuju rekonsiliasi nasional.

Kabinet Baru

Setelah tergulingnya Aristide, para pemimpin Haiti baru yang didukung AS telah berhasil membentuk pemerintahan sementara, Selasa. Kabinet dari pemerintahan sementara itu sendiri tidak mengakomodir Partai Keluarga Lavalas dukungan bekas Presiden Aristide. Kabinet beranggotakan 13 menteri dari Perdana Menteri Gerard Latortue tersebut menurut rencana akan disumpah hari Rabu ini.

Leslie Voltaire, bekas anggota kabinet Aristide, mengatakan tidak ada anggota Partai Lavalas yang terpilih. Voltaire menambahkan, para pemimpin Lavalas akan mempelajari masalah ini dan menolak berkomentar lebih jauh soal terbentuknya pemerintahan sementara Haiti.

Sejumlah menteri dalam kabinet itu, antara lain Yvon Simeon sebagai menteri luar negeri, Henri Bazan ( Presiden Asosiasi Ekonom Haiti) sebagai menteri keuangan, dan bekas Jenderal Herard Abraham sebagai menteri dalam negeri.

(AP/AFP/E-9)


Last modified: 17/3/04