
AP/Francois Mori
PATROLI STASIUN - Petugas keamanan berpatroli di stasiun kereta api Gare Saint Lazare, Paris, Selasa (16/3). Pemerintah Prancis sedang menyelidiki ancaman dari kelompok radikal seperti yang diungkapkan Departemen Kehakiman Prancis.
PARIS - Prancis menerima ancaman-ancaman serangan oleh kelompok radikal yang mengecam Pemerintah Prancis atas kebijakan pelarangan penggunaan jilbab di sekolah umum.
Menurut Departemen Kehakiman Prancis pada Selasa (16/3), kelompok ini menyurati Perdana Menteri Jean-Pierre Raffarin dan beberapa surat kabar.
"Serangan hebat akan terjadi di tanah yang menjadi sekutu setan. Kami akan menyeret Prancis ke dalam teror dan penyesalan mendalam," demikian salah satu kutipan dalam surat kabar Le Parisien yang menerima kopi surat ancaman.
Surat yang mengancam Prancis dan berbagai kepentingannya di mancanegara ditandatangani oleh Komando Movsar Barayev. Dari namanya tampak mengacu ke nama pemberontak Chechnya, yang dituduh mendalangi penyanderaan di teater Moskwa. Barayev terbunuh ketika pasukan khusus Rusia menyerbu teater.
Presiden Jacques Chirac sebelumnya mengaku, Prancis belum mendapat kiriman ancaman khusus. "Tapi tidak lepas dari sasaran teroris," ujar Chirac yang meminta pakar untuk menyelidiki keaslian surat ancaman yang datang ke PM-nya.
Sikap keras Prancis yang menentang invasi AS ke Irak dipandang menguntungkan Prancis. Tapi pemberlakuan larangan menggunakan atribut agama membuat negeri ini disorot tajam. Pada Februari seorang tangan kanan Osama bin Laden Ayman al-Zawahri mengecam undang-undang tersebut.
Warga Maroko
Sementara itu, sedikitnya enam warga Maroko kini diduga kuat terlibat dalam pengeboman Madrid. Tersangka utama, Jamal Zougam (30) telah ditahan dan diidentifikasikan oleh Hakim Spanyol Baltasar Garzon sebagai pengikut Imad Yarkas. Didakwa sebagai kaki tangan jaringan Al Qaeda di Spanyol, Yarkas dipenjarakan atas tuduhan membantu menyusun rencana serangan 11 September 2001 di New York dan Washington.
El Pais, suratkabar harian di Spanyol, hari Selasa melaporkan bahwa kepolisian Spanyol telah mengidentifikasi lima warga Maroko lainnya yang berpartisipasi langsung dalam serangan. Namun kini mereka masih berkeliaran. Kementerian Dalam Negeri Spanyol menolak berkomentar atas laporan itu.
Menurut harian itu, dua orang saksi mata yang menumpang salah satu kereta api yang meledak mengatakan, Zougam naik ke kereta api itu beberapa saat sebelum bom meledak.
Dengan adanya sinyal keterlibatan ekstrimis Islam dalam serangan Madrid, serta diduga kuat terlibat aksi serupa di sejumlah negara lain, intelijen FBI akan memberikan bantuan bagi polisi Spanyol dalam mengejar para tersangka, demikian ungkap seorang pejabat tinggi aparat penegak hukum AS di Washington, Selasa.
Selain Zougam, polisi Spanyol telah menahan dua warga Maroko yang lain dan dua warga keturunan India. Namun belum diperoleh kejelasan secara terperinci soal kemungkinan peranan mereka dalam serangan bom Madrid.
Sejumlah negara Eropa berupaya ikut menggali informasi yang lebih akurat soal kemungkinan keterlibatan warga Maroko dan India yang ditahan polisi Spanyol dalam serangan itu.
Seorang pejabat AS mengatakan, "Bukti keterlibatan ekstrimis Islam dalam serangan bom Madrid tampaknya semakin meningkat. Namun untuk menentukan siapakah yang bertanggung jawab, masih belum ada kejelasan."
"Masih belum jelas kelompok-kelompok mana yang terlibat," ujar pejabat tersebut, untuk menjawab pertanyaan apakah serangan Madrid terkait jaringan Al Qaeda, ataukah kelompok ekstrimis yang lain, atau bahkan terkait dengan kelompok separatis Basque, ETA.
Salafia Jihadia
Di sisi lain, dugaan adanya keterkaitan antara pengeboman Madrid dengan serangan bom bunuh diri di Casablanca, Maroko, tahun lalu, kini semakin menguat. Dugaan menguat setelah penyelidik swasta Prancis, Jean-Charles Brisard, mengungkap soal adanya sadapan pembicaran telepon Zougam yang mengatakan dirinya bertemu dengan Mohamed Fizazi, pemimpin spiritual Salafia Jihadia, kelompok radikal bawah tanah Maroko.
Salafia Jihadia dituduh terlibat dalam serangan Casablanca, yang menewaskan 33 orang termasuk 12 pengebomnya. Organisasi itu juga dituduh memiliki keterkaitan dengan jaringan teroris Al Qaeda, yang dipimpin Osama bin Laden.
Brisard mengatakan, sadapan telepon Zougam ada di dalam laporan tertulis Garzon yang lebih lengkap soal serangan 11 September. Brisard, yang membantu penyelidikan serangan 11 September bagi para pengacara keluarga korban, mempunyai kopian laporan Garzon tersebut.
Dokumen Garzon mengatakan, dalam kontak telepon yang dimonitor pada bulan Agustus 2001, Zougam mengatakan kepada Yarkas, "Hari Jumat, saya bertemu Fizazi, dan saya mengatakan kepada dia jika butuh uang, kita bisa menolong dia dengan saudara-saudara kita," ujar Brisard, menirukan ucapan Zougam.
Warga Aljazair
Fizazi adalah satu dari 87 orang yang diadili di Maroko pada bulan Agustus terkait serangan Casablanca. Fizazi dijatuhi hukuman 30 tahun penjara, setelah didakwa berkhotbah soal gerakan radikal Islam di masjid-masjid, serta bertemu dengan para pelaku serangan Casablanca.
Sementara itu, aparat kepolisian di San Sebastian, Basque mengatakan, mereka telah menahan seorang warga Aljazair yang dituduh berbicara soal serangan teroris di Madrid, dua bulan sebelum peristiwa itu berlangsung. Ali Amrous, yang merupakan fakir miskin, diciduk hari Senin kemarin untuk diperiksa menyangkut kemungkinan ia sudah tahu soal serangan Madrid sebelumnya.
Amrous pertama kali ditahan pada bulan Januari lalu, dan diinterogasi, setelah terjadi kerusuhan di wilayah tersebut. "Kami akan isi Madrid dengan kematian," ujar pihak berwenang menirukan ucapan Amrous.
Amrous diharapkan bisa dibawa ke Madrid untuk diinterogasi. Polisi mengatakan, mereka tidak yakin Amrous punya kontak dengan ETA, yang dituduh Pemerintah Spanyol sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan Madrid.
Sebelumnya, PM Jose Luis Rodriguez Zapatero dari Partai Sosialis yang memenangkan pemilu, berjanji akan menarik 1.300 pasukan Spanyol dari Irak, apabila PBB tidak mendapat mandat yang lebih besar di Irak. Bagi Zapatero, aksi pendudukan di Irak adalah bencana.
Menanggapi keinginan itu, seorang jenderal AS di Irak hari Selasa mengatakan, ancaman Zapatero untuk menarik 1.300 tentara Spanyol yang ada di Irak sama sekali tidak akan menggoyahkan koalisi.
Korban tewas akibat ledakan bom Madrid kini bertambah menjadi 201 orang, setelah seorang wanita berusia 45 tahun yang dirawat di rumah sakit akibat terluka parah akhirnya meninggal dunia, Selasa.
Bila korban tewas menembus angka 202, berarti ledakan bom Madrid sama fatalnya dengan pengeboman Bali, 12 Oktober 2002, yang menjadi serangan terburuk sejak peristiwa 11 September. Jumlah korban luka-luka juga bertambah menjadi 1.668 orang dari semula 1.500 jiwa.
(AP/AFP/Rtr/E-9/Y-2)