SUARA PEMBARUAN DAILY

BI Yakin Rupiah Menguat

April, Bunga Penjaminan Perbankan Naik

JAKARTA - Suku bunga penjaminan perbankan akan naik pada April 2004. Kenaikan tersebut disebabkan oleh perubahan sistem penghitungan dari rata-rata perbankan plus Jibor (Jakarta Interbank Offered Rate) menjadi suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tiga bulan ditambah marjin tertentu.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Aslim Tadjuddin di Jakarta, Selasa (16/3) mengatakan, perubahan itu merupakan salah satu dari upaya BI untuk melakukan peninjauan terhadap sejumlah instrumen moneter Operasi Pasar Terbuka (OPT), dengan maksud memperbaiki struktur likuiditas perbankan dalam sistem moneter Indonesia.

"Kalau dengan penghitungan lama, maka suku bunga penjaminan akan terus turun, sementara nilai Fasilitas Simpanan BI (Fasbi) dan SBI terus berada di atasnya. Kondisi ini menjadikan likuiditas perbankan tidak sehat, sehingga kita ubah dengan menggunakan SBI tiga bulan,'' kata Aslim

Dengan menggunakan sistem penghitungan yang baru itu, diperkirakan suku bunga penjaminan satu bulan akan naik dari posisi 6,11 persen menjadi sekitar 7,32 persen, atau sesuai dengan tingkat suku bunga SBI 3 bulan yang berlaku saat ini.

Instrumen moneter lain yang dilakukan adalah penghapusan Fasbi yang berbunga overnight pada Juli mendatang, dan menjarangkan lelang SBI yang biasa dilakukan tiap minggu, menjadi dua minggu sekali pada April mendatang, serta sebulan sekali pada Juni.

Fasbi yang saat ini bunganya berada pada posisi 7,25 persen, dikeluarkan BI untuk menyerap kelebihan dana yang dimiliki perbankan, sehingga bisa menjaga jumlah uang beredar dan posisi nilai tukar rupiah.

Secara terpisah, Menteri Keuangan (Menkeu) Boedio-no mengatakan, tidak dila-kukannya lelang SBI oleh BI pada Rabu (17/3), terkait dengan lelang obligasi negara seri FR0023 yang dilakukan pemerintah. "Intinya disin-kronkan. Jadi pada saat-saat lelang (obligasi), penyedotan oleh BI tidak pada waktu bersamaan dengan kita,'' kata Boediono.

Pergerakan Rupiah

Berkaitan dengan pergerakan nilai tukar rupiah, Aslim mengatakan, BI yakin nilai tukar rupiah akan segera membaik setelah melemah beberapa hari ini. Hal itu disebabkan hilangnya kekhawatiran pasar terhadap pelaksanaan Pemilu. ''Saya optimis dengan situasi sekarang. Hari ini (Selasa 16/3) 'kan sudah menguat dari Rp 8.650 menjadi Rp 8.615 per dolar Amerika Serikat (AS). Mudah-mudahan ke depan sudah di bawah Rp 8.600 per dolar AS,'' katanya.

Menurut dia, selama kampanye Pemilu berjalan dengan baik, nilai tukar rupiah akan tetap stabil, karena kenaikan rupiah beberapa hari ini lebih banyak disebabkan kekhawatiran jangka pendek pasar atas pelaksanaan kampanye Pemilu. ''Jadi tidak ada alasan untuk berspekulasi di rupiah, karena dari sisi makro, ekonomi kita sangat baik, seperti inflasi dan pertumbuhan ekonomi,'' katanya.

Diakui, melemahnya rupiah karena kekhawatiran pasar atas Pemilu ini sempat dimanfaatkan sejumlah bank asing untuk berspekulasi. Namun karena kondisi moneter Indonesia stabil hal itu tidak terlalu berpengaruh. ''Ada bank di Singapura yang memanfaatkan kondisi ini untuk berspekulasi dengan memberi order bank di sini,'' katanya. (BD/A-17)


Last modified: 17/3/04