
Prestasi Christian John (23 tahun) atau biasa dipanggil Chris John, yang berhasil meraih juara dunia kelas Bulu versi World Boxing Association (WBA), tak pelak menjadi kebanggaan masyarakat di Tanah Air.
Betapa tidak, setelah era Elyas Pical dan Nico Thomas yang pernah berjaya menjadi juara dunia versi IBF berakhir, kita praktis tak lagi punya petinju berkelas dunia, apalagi juara dunia.
Alhasil, saat petinju berwajah lugu dan berpenampilan sederhana ini menjadi juara dunia kelas Bulu ad interim versi WBA setelah mengalahkan lawannya petinju Kolombia, Oscar Leon, 26 September 2003 di Bali, sontak semua pihak memuji, mengelu-elukannya, serta berharap prestasinya itu dapat kembali mengangkat gengsi pertinjuan nasional dan juga nama bangsa ke tingkat dunia.
Gelar juara dunia yang disandang petinju kelahiran Desa Gelang, Kecamatan Rakit, sekitar 15 km dari kota Kabupaten Banjarnegara (Jateng), itu, semula bersifat sementara (ad interim), karena juara kelas bulu saat itu secara definitif masih dipegang oleh petinju AS, Derrick Gainer.
Namun, karena Derrick menyatakan pindah ke badan tinju lain, yakni IBF, sesuai Rule and Regulation WBA, praktis gelar juara dunia kelas Bulu kini secara penuh berada di tangan Chris John.
Chris John mengenal tinju terbilang sejak usia sangat dini. Sejak usia 5 tahun, dia dikenalkan sang ayah, Johan Tjahjadi (60), yang pernah menjadi petinju amatir di era 1970-an, seangkatan dengan Boy Bolang.
Ayahnya yang mencium potensi dan bakat anaknya, segera mengirimnya ke Semarang untuk berlatih di Sasana Tugu Muda (kini Sasana Bank Buana) yang diasuh pelatih Sutan Rambing, di Kampung Lasipin, Semarang.
Hebatnya, tak seperti kebanyakan petinju lain yang meniti karier dari amatir, pria kelahiran 14 September 1980 ini langsung terjun ke kancah tinju profesional.
Anak kedua dari 4 bersaudara pasangan Johan Tjahjadi dan Warsini ini, pertama kali terjun ke tinju pro pada 1997 saat sebuah stasiun swasta (Indosiar) menggelar pertandingan tinju pro. Ia mengaku kali pertama bertanding di kelas Bulu Junior, dengan mendapat bayaran Rp 350 ribu sekali tanding.
Disiplin dalam berlatih dan tak pernah mengeluh, sebagian kunci suksesnya di dunia tinju. Prestasinya terus menjulang. Setelah menjadi juara nasional di kelas Bulu, berturut-turut dia tercatat berhasil merebut juara kelas Bulu Pan Asian Boxing Association (PABA) dari tangan petinju Korsel, Dae Kyung Park, dengan KO di ronde pertama.
Setelah itu peringkatnya di WBA naik di peringkat enam, sebelum akhirnya merebut gelar juara dunia. Dengan tinggi badan 171 cm, dan jangkauan lengan 82 cm, Chris John telah naik ring 33 kali, tanpa pernah kalah maupun draw. Ia mencatat kemenangan KO/TKO atas lawan-lawannya sebanyak 19 kali.
Kedisiplinan, keuletan dan semangat juang Chris John, baik dalam berlatih maupun saat berada di atas ring, diakui oleh sang pelatih, Sutan Rambing. Keistimewaan Chris John adalah semangat juang dan disiplinnya. Dia tak pernah mengeluh bila menjalani latihan dengan porsi berat. Bahkan semua itu dia dilakukan dengan penuh tanggung jawab kata Sutan.
Sutan menilai, cukup banyak petinju yang semula berpotensi dan berbakat hebat, tapi akhirnya satu persatu bertumbangan. Prestasinya melorot, karena salah pergaulan dan tak kuat godaan duniawi.
"Atau banyak juga yang sudah cukup puas dengan prestasi yang dicapai, seperti menjadi juara nasional, setelah itu tak lagi disiplin dan malas-malasan berlatih lagi,'' ujar pelatih tinju kawakan di ibukota Jateng ini.
Dibawah asuhan Sutan Rambing dan dua asisten pelatih, Mat Tukar dan Agus Triyono, petinju yang juga atlet wushu andalan Jateng ini, berlatih enam jam perhari.
Bujangan yang mengidolakan petinju Meksiko, Oscar de La Hoya, ini kini sudah bertekad bulat untuk tetap mempertahankan sabuk juara kelas Bulu versi WBA yang disandangnya. Dia bertekad bertanding secara maksimal dan mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya melawan penantangnya, Jose Cleo Rojas dari Venezuela, akhir Februari mendatang.
Kini semua pihak, utamanya seluruh masyarakat pencinta tinju di Tanah Air, menaruh harapan besar di pundaknya. Mampukah anak desa dari Banjarnegara ini mengukir prestasi berikutnya atau justru membiarkan sabuk juara dunianya melayang ke Venezuela?.
PEMBARUAN/STEFY THENU